Logo JawaPos
Author avatar - Image
Senin, 16 Oktober 2017 | 03.27 WIB

Kisah Pengobatan Korban PCC, Kadang Tingkah Mereka Seperti Hewan

AKTIVITAS - Salah satu pasien PCC sedang melamun didalam tempat sel Rumah Perlindungan Sosial Berbasis Masyarakat (RPSBM) Kuripan, (13/10). - Image

AKTIVITAS - Salah satu pasien PCC sedang melamun didalam tempat sel Rumah Perlindungan Sosial Berbasis Masyarakat (RPSBM) Kuripan, (13/10).

JawaPos.com - Narkoba jenis baru PCC (Paracetamol, Cafein, dan Carisoprodol) akhir-akhir ini menjadi buah bibir. Banyak korban di berbagai daerah, mulai dari kota besar hingga ke daerah. Tak terkecuali Kota Pekalongan hingga menyebabkan pemakaianya nyaris gila. Berikut laporan Malekha wartawan Radar Pekalongan (Jawa Pos Group).


Rumah Perlindungan Sosial Berbasis Masyarakat (RPSBM) Kuripan, yang didirikan tampak lengang. Tak banyak aktivitas yang dilakukan oleh ke-44 penghuninya. Mereka hanya melakukan aktivitas pribadi seperti mencuci, berjemur, dan bercengkrama..


Namun sedikit ada yang berbeda di sana. Dari sekian ruang isolasi yang ditempati oleh para penyandang sakit jiwa, terlihat dua anak muda yang berada di ruang berbeda sedang duduk menepi. Tatapannya kosong tak bearti. Berbeda dengan penghuni lainnya yang ramai saat kedatangan pengelola RPSBM.


Ya, dua pemuda penghuni ruang isolasi itu adalah dua warga Kota Pekalongan yang positif menggunakan obat terlarang jenis PCC. Obat ini membawa mereka menghuni RPSBM karena hampir seluruh saraf otak mereka rusak.


Meski terlihat tenang, tapi mereka tak dizinkan untuk bergabung dengan penghuni yang lain. Karena efek PCC ini bisa menimbulkan halusinasi yang muncul dengan tiba-tiba dan membahayakan penghuni lain.
Meski sudah satu bulan dirawat, kondisi keduanya masih kritis.


"Ada 2 pasien PCC yang kami tangani disini, mereka berasal dari daerah Panjang dan juga Sapuro. Kondisi belum stabil, mereka masih sering berhalusinasi dan membahayakan penghuni yang lain," ungkap Pimpinan RSPBM Syafrizal Munir.


Meskipun sudah satu bulan dirawat dan tidak menggunakan PCC, namun mereka masih sering kali berhalusinasi menyerang bahkan bertingkah laku seperti hewan.


"Meskipun belum stabil dan masih suka ngelamun seperti itu. Namun itu lebih mending karena sebelumnya mereka sering bertingkah seperti binatang, merangkak dan memunguti sampah dengan menggunakan mulutnya," imbuhnya.


Dua pasien PCC ini memang sedikit di istimewakan dalam perawatannya. Selain ditempatkan sendirian dalam satu tempat, penanganan pun lansung dari dokter jiwa yang ditugaskan di RSPBM.


"Merawat pasien korban PCC ini memang harus sabar. Karena membutuhkan waktu yang lama. Karena obat PCC ini merusak hampir semua jaringan saraf manusia," terangnya.


Oleh karena itu, pihaknya menekankan kepada keluarga pasien untuk ikut berperan aktif dalam proses penyembuhan putra mereka. Karena dukungan keluarga menjadi sumber kekuatan utama bagi pasien.


"Mereka dibawa kesini memang karena keluarga tidak bisa mengendalikan ya, cenderung membahayakan orang lain. Namun bukan bearti mereka tidak punya kesempatan untuk merasakan kasih sayang keluarganya," ujar Rizal.


Saat disinggung tentang bagaimana korban mendapatkan obat PCC, laki-laki yang hobi membaca ini menuturkan bahwa sejauh ini pihaknya belum bisa berkomunikasi dengan para pengguna.


"Kami mendapatkan info hanya dari keluarga pasien, mereka positif menggunkan PCC berdasarkan sampel obat yang keluarga bawa, serta diagnosa dari dokter jiwa tentang kerusakan saraf," pungkasnya.

Editor: Administrator
Tags
Artikel Terkait
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore