
AKTIVITAS - Salah satu pasien PCC sedang melamun didalam tempat sel Rumah Perlindungan Sosial Berbasis Masyarakat (RPSBM) Kuripan, (13/10).
JawaPos.com - Narkoba jenis baru PCC (Paracetamol, Cafein, dan Carisoprodol) akhir-akhir ini menjadi buah bibir. Banyak korban di berbagai daerah, mulai dari kota besar hingga ke daerah. Tak terkecuali Kota Pekalongan hingga menyebabkan pemakaianya nyaris gila. Berikut laporan Malekha wartawan Radar Pekalongan (Jawa Pos Group).
Rumah Perlindungan Sosial Berbasis Masyarakat (RPSBM) Kuripan, yang didirikan tampak lengang. Tak banyak aktivitas yang dilakukan oleh ke-44 penghuninya. Mereka hanya melakukan aktivitas pribadi seperti mencuci, berjemur, dan bercengkrama..
Namun sedikit ada yang berbeda di sana. Dari sekian ruang isolasi yang ditempati oleh para penyandang sakit jiwa, terlihat dua anak muda yang berada di ruang berbeda sedang duduk menepi. Tatapannya kosong tak bearti. Berbeda dengan penghuni lainnya yang ramai saat kedatangan pengelola RPSBM.
Ya, dua pemuda penghuni ruang isolasi itu adalah dua warga Kota Pekalongan yang positif menggunakan obat terlarang jenis PCC. Obat ini membawa mereka menghuni RPSBM karena hampir seluruh saraf otak mereka rusak.
Meski terlihat tenang, tapi mereka tak dizinkan untuk bergabung dengan penghuni yang lain. Karena efek PCC ini bisa menimbulkan halusinasi yang muncul dengan tiba-tiba dan membahayakan penghuni lain.
Meski sudah satu bulan dirawat, kondisi keduanya masih kritis.
"Ada 2 pasien PCC yang kami tangani disini, mereka berasal dari daerah Panjang dan juga Sapuro. Kondisi belum stabil, mereka masih sering berhalusinasi dan membahayakan penghuni yang lain," ungkap Pimpinan RSPBM Syafrizal Munir.
Meskipun sudah satu bulan dirawat dan tidak menggunakan PCC, namun mereka masih sering kali berhalusinasi menyerang bahkan bertingkah laku seperti hewan.
"Meskipun belum stabil dan masih suka ngelamun seperti itu. Namun itu lebih mending karena sebelumnya mereka sering bertingkah seperti binatang, merangkak dan memunguti sampah dengan menggunakan mulutnya," imbuhnya.
Dua pasien PCC ini memang sedikit di istimewakan dalam perawatannya. Selain ditempatkan sendirian dalam satu tempat, penanganan pun lansung dari dokter jiwa yang ditugaskan di RSPBM.
"Merawat pasien korban PCC ini memang harus sabar. Karena membutuhkan waktu yang lama. Karena obat PCC ini merusak hampir semua jaringan saraf manusia," terangnya.
Oleh karena itu, pihaknya menekankan kepada keluarga pasien untuk ikut berperan aktif dalam proses penyembuhan putra mereka. Karena dukungan keluarga menjadi sumber kekuatan utama bagi pasien.
"Mereka dibawa kesini memang karena keluarga tidak bisa mengendalikan ya, cenderung membahayakan orang lain. Namun bukan bearti mereka tidak punya kesempatan untuk merasakan kasih sayang keluarganya," ujar Rizal.
Saat disinggung tentang bagaimana korban mendapatkan obat PCC, laki-laki yang hobi membaca ini menuturkan bahwa sejauh ini pihaknya belum bisa berkomunikasi dengan para pengguna.
"Kami mendapatkan info hanya dari keluarga pasien, mereka positif menggunkan PCC berdasarkan sampel obat yang keluarga bawa, serta diagnosa dari dokter jiwa tentang kerusakan saraf," pungkasnya.

Dana Desa Dialihkan untuk Koperasi Merah Putih, Pembangunan Desa di Bantul Jalan dengan Skema Lain
Persebaya Surabaya Rayakan Kembalinya Bruno Moreira, Bonek Kompak Satu Suara
7 Rekomendasi Kuliner Lontong Balap Paling Enak di Surabaya, Wajib Dicoba Sekali Seumur Hidup!
14 Rekomendasi Kuliner Depok untuk Keluarga, Tempat Makan Nyaman dengan Menu Beragam
Tanpa Eliano Reijnders dan Luciano Guaycochea! Prediksi Susunan Pemain Bhayangkara FC vs Persib Bandung
12 Restoran Sunda Paling Enak di Jakarta, Tempat Makan dengan Menu Tradisional Khas dari Tanah Pasundan
Link Pengumuman Hasil Seleksi Administrasi Manajer Koperasi Merah Putih yang Sudah Diumumkan
Wisata Kuliner Kabupaten Malang: 7 Makanan Khas yang Legendaris, Unik dan Autentik untuk Food Lovers
12 Tempat Makan Legend di Bandung yang Wajib Dicoba, Ada yang Sudah Berdiri Sejak Zaman Belanda!
Awas Macet! Besok Ribuan Buruh Demo May Day di Surabaya, Ini Jalan yang Perlu Dihindari
