
NU Banyumas Gelar Aksi Damai Tolak Full Day School
JawaPos.com - Aksi penolakan program full day school (FDS) atau sekolah lima hari terus berlanjut. Kini, Nahdliyin di Kabupaten Brebes berencana turun ke jalan, Senin besok (21/8). Aksi ini diperkirakan akan diikuti ribuan orang dari berbagai elemen NU yang ada di kota bawang.
Sebelumnya, ancaman tersebut sudah disampaikan oleh PCNU Brebes maupun Fraksi PKB di DPRD setempat. "Semua elemen NU akan ikut aksi, diperkirakan ada enam ribuan orang lebih yang akan turun ke jalan," ungkap Ketua PC Ansor Brebes Ahmad Munsip, kemarin.
Sejumlah elemen yang akan menggelar aksi tersebut diantaranya, PCNU, LP Maarif, Ansor, Banser, Garda Bangsa dan badan otonom lainnya. Massa akan diperkuat dari kalangan mahasiswa, yakni PMII beserta alumninya hingga santri dari berbagai pondok pesantren serta pengurus Madin se Kabupaten Brebes.
"Untuk Ansor sendiri sudah positif, setiap kecamatan minimal akan mengirim 100 anggota," jelas Munsip kepada Radar Brebes (Jawa Pos Group).
Sementara itu, Ketua Ikatan Alumni Pegerakan Mahasiswa Islam Indonesia (IKA-PMII) Brebes, Nasirul Umam membenarkan rencana aksi tersebut. Pihaknya sudah bertemua dengan mahasiswa maupun pengurus sejumlah banom NU terkait aksi tolak FDS ini.
Menurutnya, aksi tersebut akan menuntut Pemerintah untuk membatalkan Permendikbud tentang sekolah lima hari yang dinilai merugikan warga Nahdliyin. Di samping itu, juga mendesak bupati Brebes agar menyamapaikan sikap tegas kebijakan FDS kepada Presiden maupun Mendikbud.
"Bupati kita tuntut untuk menyampaikan penolakan FDS dengan menyurati presiden. Ada banyak pertimbangan kenapa FDS harus ditolak," tegasnya.
Permendikbud No. 23 Tahun 2017 tentang kebijakan sekolah yang masuk lima hari tersebut, diyakini akan menimbulkan keresahan masyarakat. Pasalnya, peraturan tersebut belum sepenuhnya bisa diterima oleh warga Brebes. Penerapan FDS akan merugikan madrasah yang ada di Brebes.
"Secara perlahan ini akan menghasilkan generasi yang tidak mengerti pendidikan Islam ala madrasah diniyah yang berbeda dengan pendidikan agama di sekolah umum," jelasnya.
Dari faktor siswa juga hanya menjadi objek tanpa melihat sisi kemanusiaannya. Tenaga dan pikiran mereka cenderung tertekan tanpa melihat kemampuan waktunya. "ini tidak akan menghsilkan sesuatu yang baik," tegas dia lagi.

Prediksi Bursa Taruhan Prancis vs Maroko di Piala Dunia 2026: Singa Atlas Bisa Paksa Les Blues Main Lebih dari 90 Menit
Sudah Terima Kompensasi Rp 5 Juta, Pengontrak di Surabaya Diberi Waktu 1 Bulan untuk Pindah
Prediksi Skor Prancis vs Maroko di Perempat Final Piala Dunia 2026: Deja Vu atau Pembuktian Singa Atlas
Artis Arie Nugroho dan Windy Wulandari Berduka Yogi Rahmat Meninggal Dunia
Prediksi Bursa Taruhan Spanyol vs Belgia di Piala Dunia 2026: La Roja Dijagokan Melaju ke Semifinal
10 Besar Penjualan Mobil Juni 2026: BYD Comeback jadi Merek Tiongkok Terlaris Kalahkan Jaecoo
Polisi Temukan Uang Rp60 Miliar di Cafe de Clan Jaksel, Diangkut Pakai 3 Mobil
Prediksi Susunan Pemain Norwegia vs Inggris di Piala Dunia 2026: Lomba Sihir Erling Haaland dan Harry Kane ke Semifinal!
Viral dr. Anggi Aprilyani Masuk Gereja, Tuai Tudingan Penistaan Agama
Gosip Perselingkuhan Lionel Messi Memanas, Sang Istri Tanggapi Rumor Skandal Suami dengan Jurnalis Argentina
