Logo JawaPos
Author avatar - Image
Kamis, 22 Juni 2017 | 14.35 WIB

Ditemani ABG, Kakek Hasan Mudik Pakai Sepeda Ontel Buatan Inggris

Kakek Hasan dan putrinya ketika tiba di Posko Cirebon, Jawa Barat. - Image

Kakek Hasan dan putrinya ketika tiba di Posko Cirebon, Jawa Barat.

JawaPos.com - Tradisi tahunan yang sarat akan kerinduan pada kampung halaman menjadi keunikan tersendiri bagi Indonesia. Jutaan orang berbondong-bondong pulang ke kampung halaman.


Tak terkecuali bagi Hasan Miharjo (75) dan putri bungsunya, Santi Yunita (17). Yang menarik, 


Kakek tangguh itu memilih mudik dengan menggunakan sepeda ontel, dari Depok menuju Purbalingga. 


Kepada RMOLJabar (Jawa Pos Grup), Hasan menceritakan, bersama anaknya Hasan memulai perjalan dari Depok pada Senin (19/6) kemarin.


Mudik dengan menggunakan sepeda tua merek BSA buatan tanah Britania itu sudah menjadi rutinitasnya. 


"Sejak dulu. Suka naik sepeda. Karena hobi, jadi sudah biasa," kata Hasan saat ditemui di Posko Utama Polres Cirebon, Rabu (21/6).


Hari ini (22/6), Hasan beserta anaknya diperkirkan sampai di Purbalingga. Ia mengaku, selama perjalanan sering berhenti untuk melepas lelah dan mengembalikan tenaga. 


"Gak kehitung ya berhentinya. Biasanya siang sering berhenti, karena panas. Kalau malam kita lanjut terus," kata Hasan.


Malam harinya, sekitar pukul 24.00 WIB, Hasan dan anaknya memilih istirahat. Perjalanan pun dilanjutkan setelah subuh. 


Sepeda yang dipakainya merupakan warisan dari orang tuanya. "Di rumah ada dua lagi, tapi yang bisa jalan itu cuma tiga. Kami juga bawa pakaian untuk ganti dan suku cadang juga," kata Hasan.


Perjalanan paling jauh yang dia tempuh menuju Bima, NTT. Perjalanan menuju Bima ditempuh oleh Hasan dengan waktu dua bulan 11 hari.


Sementara, Santi Yunita, anak bungsu Hasan mengatakan, perjalanan menuju Purbalingga merupakan pengalaman pertamanya mudik dengan menggunakan sepeda. 


Sebelumnya, Santi sempat bersepeda dari Jakarta menuju Bandung. "Ini perjalanan yang paling jauh. Pertama kalinya bagi saya. Kalau bapak sempat ke NTT," ungkapnya.


Santi juga menceritakan, selama perjalanan menuju Prubalingga, dirinya dan ayahnya seringkali hampir terserempet mobil bus. Terutama di jalur pantura. "Kan bus suka nyalip-nyalip sampai pinggir, jadi harus hati-hati," katanya.


Dibandingkan ayahnya, Santi lah yang sering mengeluh untuk berisitarahat. Malam hari merupakan perjalanan yang menyulitkan, karena ia harus menyalakan hapenya untuk sekedar memberikan penerangan. 

Editor: Imam Solehudin
Tags
Artikel Terkait
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore