Logo JawaPos
Author avatar - Image
Kamis, 22 Juni 2017 | 04.05 WIB

Terungkap! Temuan  Bom Rakitan Bima Mirip Dengan Bom Kampung Melayu

Terduka teroris Bima saat dibawa ke Polda NTB - Image

Terduka teroris Bima saat dibawa ke Polda NTB


JawaPos.com - Terduga teroris yang tertangkap di Kabupaten Bima, akhirnya tiba di Mako Brimob Polda NTB, dini hari kemarin (19/6). Kedatangan mereka dikawal ketat Tim Detasemen Khusus (Densus) 88 Anti Teror.


Upaya pemberantasan aksi teror yang dilakukan Tim Densus 88 berhasil menahan tiga orang warga berinisial, KU, 23 tahun; NH, 21 tahun; dan RA, 35 tahun. Dua nama pertama ditangkap di Desa Dore, Kecamatan Palibelo. Sedangkan RA ditangkap di Pelabuhan Bima.


Bersama ketiga terduga teroris ini, Tim Densus 88 turut membawa barang bukti. Antara lain, satu bom rakitan yang masih aktif dan puluhan item bahan untuk membuat bom. Keseluruhan barang bukti itu ditemukan di rumah KU.


Wakapolda NTB Kombes Pol Imam Margono mengatakan, KU telah ditetapkan sebagai tersangka. Barang bukti yang ditemukan telah memenuhi unsur perbuatan tindak pidana terorisme.


”Mereka merencanakan penyerangan personel dan Mapolsek Woha dengan bom rakitan,” kata Imam sebagaimana dilansir Lombok Post (Jawa Pos Group), Rabu (21/6).


Setelah ditangkap, KU memberikan sejumlah keterangan kepada polisi. Termasuk pengakuannya yang menjadi bagian dari kelompok Jamaah Ansharut Daullah Bima. Menurut polisi kelompok ini berafiliasi dengan ISIS.


Bom rakitan yang ditemukan, juga hasil kreasinya. Kata KU, keahlian merakit bom didapatkan dari video yang dirilis ISIS melalui link di grup telegram Bahrun Naim. Dari sana, dia berhasil merakit bom dengan bahan peledak TATP (triacetone triperoxide). Daya ledaknya masuk dalam kategori high explosive. 


Diketahui, teror bom di Kampung Melayu, Jakarta, dari bahan peledak yang sama, yakni TATP. Dari keterangan Wakapolri Komjen Syafruddin yang dilansir jawapos.com, bom dengan bahan TATP sangat berbahaya. Daya luncurnya mencapai 5.100 meter per detik.


Bahan TATP itu kemudian rangkaikan dengan modifikasi elektronik menjadi switching bom rakitan dari handphone.


Sebelum tertangkap, KU rupanya telah berniat melakukan percobaan peledakan. Lokasinya di jalan lintas Desa Dore, Talabiu. Jika percobaan itu sukses, maka akan dilanjutkan dengan aksi teror lainnya.


”Rencananya menyerang mapolsek Woha dengan cara melempar bom rakitan. Tapi syukur karena lebih dulu ditangkap,” jelas Imam.


Lebih lanjut, KU merupakan jaringan teror kelompok Penatoi di bawah pimpinan Iskandar. Selanjutnya pada 2014, KU bergabung dengan kelompok Santoso di Poso untuk melaksanakan pelatihan militer. ”Setelah dari Poso, dia kembali lagi ke Bima dan bergabung dengan Jamaah Ansharut Daullah,” katanya.


Untuk dua tersangka lainnya yakni NS, kata Wakapolda, yang bersangkutan berperan sebagai pembeli bahan kimia untuk membuat bom. Bahan yang telah dibeli, kemudian diserahkan kepada KU.


Sementara RA, sepak terjangnya di kelompok ideologi garis keras, tak jauh beda dengan KU. Dia juga termasuk dalam kelompok Penatoi pimpinan Iskandar. Kemudian RA bergabung dengan kelompok Mujahidin Indonesia barat (MIB). 


Selama tergabung dengan MIB, RA diduga  terlibat perampokan di Kantor Pos dan Giro Ciputat, Tangerang Selatan, pada 2013 silam. Dia juga sempat menyembunyikan Satrio alias Indra Jendol, DPO Densus 88.

Editor: Mohamad Nur Asikin
Tags
Artikel Terkait
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore