Logo JawaPos
Author avatar - Image
Rabu, 14 Juni 2017 | 19.37 WIB

Lonceng Cakra Donya, Jejak Laksamana Cheng Ho di Negeri Aceh

Lonceng Cakra Donya, salah satu peninggalan sejarah di Banda Aceh, - Image

Lonceng Cakra Donya, salah satu peninggalan sejarah di Banda Aceh,

Meskipun Aceh kini dikenal sebagai provinsi yang menerapkan syariat Islam, bukan berarti negeri ini tidak terbuka dengan penduduk luar. Bahkan daerah yang dikenal dengan Serambi Mekkah itu sangat menjunjung tinggi nilai toleransi dan keberagaman. Buktinya keberagaman itu ditandainya ada Pecinan dan Lonceng Cakra.


Laporan: ARIFUL AZMI USMAN – Banda Aceh


Keberagaman  itu terlihat sejak zaman kesultanan Islam. Tepatnya pada masa kejayaan Samudera Pasai. Bahkan Aceh dikenal sebagai salah satu daerah transit di jalur sutera perdagangan bagi negara timur tengah atau tiongkok ke nusantara.


Lonceng Cakra Donya yang saat ini tersimpan baik di Museum Aceh, menjadi ingatan bahwa Aceh sebagai sebuah bangsa yang berperadaban dan telah menjalin persahabatan dengan Tiongkok sejak abad ke-15 silam.


Jika saudara berkunjung ke Ibu Kota Provinsi Aceh, Banda Aceh, salah satu tempat yang memiliki kisah masa silam Aceh yang gemilang adalah Museum Negeri Aceh, terletak di Jalan Alauddin Mahmud Syah, museum ini menyimpan berbagai peninggalan sejarah Aceh yang telah berabad-abad lamanya. Salah satunya adalah lonceng Cakra Donya.


Di halaman yang tidak jauh dari Museum yang diresmikan pada tanggal 31 Juli 1915 itu, lonceng yang memiliki ketinggian mencapai 1,25 meter, dan diameter 1 meter itu terlihat masih kokoh. Pada bagian luarnya, terukir hiasan dan tulisan Arab serta Tiongkok. 


Aksara Tiongkok yang terdapat pada lonceng, para ahli membacanya Sing Fang Niat Tong Juut Kat Yat Tjo, yang berarti “Sultan Sing Fa yang telah dituang dalam bulan 12 dari tahun ke 5”. Sementara goresan tulisan Arab sudah kabur dimakan usia.


Dalam catatan Ma Huan (Ying-yai sheng-lan) dalam pelayarannya bersama dengan Laksamana Cheng Ho, dicatat dengan lengkap mengenai kota-kota di Aceh seperti, A-lu (Aru), Su-men-da-la (Samudra), Lan-wu-li (Lamuri). 


Dalam catatan Dong-xi-yang- kao (penelitian laut-laut timur dan barat) yang dikarang oleh Zhang Xie pada tahun 1618, terdapat sebuah catatan terperinci mengenai Aceh modern.


Kerajaan Samudra Pasai adalah sebuah kerajaan dan kota pelabuhan yang ramai dikunjungi oleh para pedagang dari Timur Tengah, India sampai Tiongkok pada abad ke 13 -16. 


Samudra Pasai ini terletak pada jalur sutera laut yang menghubungkan Tiongkok dengan negara-negara Timur Tengah. Para pedagang dari pelbagai negara transit sebelum melanjutkan pelayaran ke/dari Tiongkok atau Timur Tengah, India.


Sejarah mencatat, hubungan baik dua kerajaan Islam, antara Aceh dan China. Lonceng tersebut sebagai buktinya. Laksamana Cheng Ho yang kala itu mengunjungi Nusantara selama tujuh kali.


Pada kesempatan keempatnya, tahun 1414 M memberi sebuah lonceng raksasa kepada Sultan di kerajaan Samudra Pasai (wilayah Aceh Utara saat ini -Red) sebagai hadiah dari Kaisar penguasa Tiongkok. Lonceng berbentuk stupa ini, dibuat pada 1409 M. 


Pada masa Kesultanan Aceh, di bawah Sultan Iskandar Muda (1607-1636), lonceng tersebut kerap digunakan dalam Kapal Perang Kesultanan Aceh. Kapal itu bernama Cakra Donya dan mampu menampung sekira 800 prajurit.


Samudra Pasai, sebagai sebuah kesultanan Islam pertama di Asia Tenggara juga dikenal sebagai negeri yang makmur, pedagang-pedagang dari Timur Tengah dan Gujarat India datang berduyun-duyun untuk menyebarkan Islam dan membangun jaringan bisnis. Pasai juga menjadi pengekspor rempah-rempah ke berbagai belahan dunia hingga Tiongkok.

Editor: Ilham Safutra
Tags
Artikel Terkait
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore