
Desa Mulawarman, Kukar, bertahun-tahun dikelilingi tambang batu bara. Tampak pula rumah warga sekitar yang retak-retak karena tak jauh dari pertambangan yang menggunakan peledak.
JawaPos.com - Akhir cerita Desa Mulawarman, Kecamatan Tenggarong Seberang, Kutai Kartanegara (Kukar), semakin terlihat. Dikepung aktivitas pertambangan dua perusahaan, masyarakat akhirnya menyerah. Mereka meminta pemerintah merelokasi 3 ribu jiwa penduduk desa.
Dalam lawatannya ke Desa Mulawarman, Selasa (18/4), Gubernur Kaltim Awang Faroek Ishak menerima aspirasi warga. Informasi pertama disampaikan Kepala Desa Mulawarman Mulyono. Pria yang mengundang gubernur ke desa itu mengatakan, relokasi merupakan aspirasi seluruh warga. Sejak lima bulan lalu menjabat, Mulyono telah mengirim surat kepada bupati, gubernur, hingga presiden.
Dalam pertemuan di lapangan desa, Mulyono menceritakan perjalanan panjang desa yang pernah ditetapkan sebagai lumbung padi itu. Berawal pada 1981 ketika 263 kepala keluarga transmigrasi tiba di sana. Setiap KK menerima 2 hektare lahan pertanian di luar permukiman. Dengan demikian, seluruh lawan masyarakat adalah 526 hektare.
Usaha pertanian di Desa Mulawarman begitu maju. Pada 1991, desa itu bahkan ditetapkan sebagai lumbung padi. Produksi sawah saat itu mencapai 5 ton gabah per hektare. Desa Mulawarman setiap musim panen mampu menyumbang 2.630 ton gabah.
Kini Desa Mulawarman telah dihuni 812 KK. Memasuki generasi ketiga, para transmigran dihadapkan sebuah prahara. Pada 2003, PT Kayan Putra Utama Coal (KPUC) dan PT Jembayan Muara Bara (JMB) memulai aktivitas. Pelan-pelan, kata Mulyono, persawahan berubah menjadi tambang batu bara.
Gubernur segera bertanya. “Mengapa masyarakat sampai menjual lahan ke tambang?”
Nurhadi, warga setempat, menjelaskan bahwa masyarakat terpaksa melepas lahan sawah mereka. Transmigran asal Banyuwangi, Jawa Timur, itu mengatakan hal tersebut karena kegiatan perusahaan yang menambang di hulu. “Jalur air ke persawahan putus. Ketika kemarau, sawah kering. Ketika hujan, kebanjiran limbah tambang,” jelasnya.
Para petani, kata dia, lantas merugi besar. Mau tidak mau, satu demi satu warga melepas lahan mereka. “Waktu itu sekitar 2003–2008, masyarakat menjual dengan harga sangat murah. Hanya puluhan juta untuk 1 hektare,” tambah kepala desa.
Empat belas tahun kemudian, desa itu benar-benar mati. Dari 526 hektare sawah, kini tersisa 12 hektare ladang. Ditambah 68 hektare permukiman, Desa Mulawarman hanya tersisa 80 hektare. Sisanya milik kedua perusahaan.
Satu demi satu masalah datang. Peledakan ladang batu bara membuat banyak rumah retak. Aktivitas galian emas hitam yang hanya berjarak 50 meter dari kampung mengirim debu tebal. Sudah tak terhitung warga yang terkena infeksi saluran pernapasan akut.
Belum lagi banyaknya pengangguran karena tiada lahan persawahan. Sumber air bersih pun lenyap. Warga hanya berharap “pembagian” air bersih dari perusahaan.
“Kami tidak salahkan siapa-siapa. Kami hanya ingin direlokasi,” kata Mulyono lalu menambahkan, “Desa Mulawarman bukan hanya sudah hilang di peta. Kami benar-benar lenyap".
Rekannya yang lain, Supono, mengatakan warga sudah tidak punya kehidupan di sana. Tidak ada usaha pertanian lagi karena lahan sudah habis ditambang. Nasib anak cucu mereka sangat suram jika terus-menerus menetap di Desa Mulawarman.
“Kami ke sini (transmigrasi) untuk memperbaiki kehidupan. Sekarang, kami lebih miskin,” terang transmigran dari Boyolali, Jawa Tengah, itu.
Gubernur mengaku terharu mendengar cerita warga. Itu sebabnya, meski dalam kesehatan yang kurang baik, dia rela menempuh perjalanan darat selama dua jam ke desa itu.

Persib Bandung Dilaporkan Berburu 2 Winger Kiri Baru demi Prestasi di AFC, Nilai Pasarnya Lewati Thom Haye!
Persebaya Surabaya Dikabarkan Rekrut 2 Striker dan 2 Bek Baru, Ada Punggawa Tim Nasional
11 Kuliner Maknyus Sekitar Kebun Raya Bogor, Tempat Makan yang Sejuk, Nyaman dan Enak
Jadwal Shalat Idul Adha 2026 di Jakarta, Bandung, Surabaya, dan Kota Besar Lainnya
Dulu Antreannya Mengular dan Jadi Buah Bibir Media Sosial, Kini Terlihat Lengang: Mengulik 5 Tempat Makan yang Sempat Viral Lalu Sepi Pengunjung
16 Tempat Wisata Terbaik di Pandaan Pasuruan yang Buat Liburan Penuh Panorama Alam, Pegunungan dan Ketenangan
20 Cafe Paling Instagramable di Surabaya, Tempat Ngopi yang Bukan Hanya Kuliner Enak tapi Juga Estetik
14 Angkringan Paling Nikmat di Surabaya, Tempat Nongkrong Seru Sambil Kuliner dan Jajan
Breaking News! Persebaya Surabaya Deal Rekrut Yuran Fernandes, Green Force Dapatkan Pengganti Gustavo Fernandes
10 Kuliner Lezat Dekat Stasiun Pasar Turi Surabaya, dari Lontong Balap hingga Nasi Bebek
