
Ilustrasi
JawaPos.com - Dinas Tenaga Kerja dan Transmigrasi (Disnakertrans) Karawang kesulitan mencari data akurat terkait kabar kematian Sopiah, tenaga kerja Indonesia asal Kecamatan Cilamaya Kulon, yang ditemukan tewas di Kota Yilan, Taiwan pada Selasa (15/2) lalu.
Hingga kini, Disnakertrans Karawang terus melakukan kontak dengan Kementerian Luar Negeri dan Badan Nasional Penempatan dan Perlindungan Tenaga Kerja Indonesia (BNP2TKI). Kepala Disnakertrans Karawang, Ahmad Suroto mengatakan, data base pada Disnakertrans Karawang tidak menemukan data tentang almarhumah Sopiah.
Diduga, Sopiah melakukan pemberangkatan melalui sponsor di luar Karawang. Sehingga memungkinkan ada perbedaan data kependudukan yang dibawa Sopiah ke Taiwan. “Kita belum temukan data atas nama Sopiah dengan alamat Desa Sumur Gede Kecamatan Cilamaya Kulon,” kata Suroto sebagaimana dilansir Karawang Bekasi Ekspres (KBE/JawaPos Grup), kemarin (21/2).
Suroto berujar, kasus sulitnya mencari data TKI asal Karawang karena banyak TKI asal Karawang berangkat melalui jalur sponsor yang berada di Jakarta.
Padahal, pihaknya sudah menghimbau kepada masyarakat jika ingin menjadi pekerja di luar negeri, bisa dilakukan di Disnakertrans karena sudah bersistem satu pintu.
“Ini juga untuk kemudahan pencarian data jika terjadi masalah. Supaya keluarga yang ditinggalkan TKI bisa mengetahui kabar pasti,” ungkapnya.
Suroto memastikan para TKI yang berangkat melalui jalur legal dan melalui tahapan yang dilakukan Disnakertrans, dipastikan pemerintah dapat menjamin data administrasi TKI karena terdaftar pada kedutaan besar dan KJRI. Namun, Suroto menyayangkan banyak masyarakat Karawang yang ingin menjadi TKI memilih jalur illegal karena dianggap lebih cepat.
Saat diwawancarai, Suroto juga menunjukkan pesan singkat dari Kementerian Luar Negeri dan BNP2TKI yang melaporkan adanya TKI asal Karawang yang hilang.
TKI tersebut bernama Nurhalimah Binti Ujang Endi asal Kecamatan Jayakerta. Saat dilakukan pengecekan di Disnakertrans, nama tersebut juga tidak ada. Diduga, Nurhalimah juga berangkat melalui jalur sponsor di Jakarta.
“Setiap tahunnya kita memberangkatkan 1.200 orang ke berbagai negara seperti Taiwan, Singapura, Malaysia dan Hongkong. Kita tidak ada pemberangkatan ke Timur Tengah karena ada moratorium atau penundaan,” kata Suroto.
Dia berharap agar masyarakat yang ingin bekerja di luar negeri bisa melalui Disnakertrans, ketimbang ikut calo yang diduga banyak tersebar di setiap desa. “Kami akan menjadi percontohan pilot project satu pintu,” pungkasnya.(gie/naz/kbe/mam/JPG)

Berburu Oleh-Oleh Khas Pasuruan? Ini 15 Buah Tangan yang Cocok untuk Keluarga di Rumah Berdasarkan yang Paling Dicari Wisatawan
16 Tempat Wisata Terbaik di Pandaan Pasuruan yang Buat Liburan Penuh Panorama Alam, Pegunungan dan Ketenangan
Pemerintah Cabut Izin 2.231 Pengecer dan Distributor Pupuk Subsidi yang Rugikan Petani
10 Tempat Makan Pempek Favorit di Bandung, Pilihan Menu Lengkap, Rasa Autentik, dan Perpaduan Cuko yang Kaya Rempah
Rekomendasi 13 Wisata Terbaik di Bandung untuk Liburan Santai, Healing, dan Quality Time Bersama Orang Tersayang
Abu Janda Dilaporkan ke Polisi Oleh Ikatan Keluarga Minang Hari Ini, Buntut Sebut Sumbar 'Barbar' dan Intoleran
Orang yang Semakin Cantik Secara Fisik Seiring Bertambahnya Usia Biasanya Mengadopsi 6 Kebiasaan Sehari-hari Ini Menurut Psikologi
Sebut Sumbar 'Barbar' dan Kristen Fobia, DPP IKM Siap Laporkan Abu Janda ke Mabes Polri Selasa Besok!
14 Rekomendasi Gado-Gado Paling Recomended di Surabaya, Cita Rasa Klasik Autentik dan Harga Ramah di Kantong
9 Mall Terbaik di Semarang, Selalu Jadi Andalan Wisatawan Saat Liburan Cari Hiburan
