Logo JawaPos
Author avatar - Image
Senin, 20 Februari 2017 | 19.16 WIB

Cerita Keluarga atas Meninggalnya Muhammad Albani

Duka masih menyelimuti Masnah, ibu kandung Muhammad Albani yang tewas ditangan suamnya. - Image

Duka masih menyelimuti Masnah, ibu kandung Muhammad Albani yang tewas ditangan suamnya.

JawaPos.com - Meninggalnya Muhammad Albani (8)  menyisakan duka mendalam bagi Masnah, ibu kandung dari Albani. Di balik itu, perempuan  38 tahun ini mengaku masih tidak mengetahui penyebab Ahmad Sulaimi, suaminya, tega membunuh anak kandungnya. Ini jika melihat perlakuan sehari-hari suaminya kepada Albani.


”Bapak tidak pernah sekalipun memukul Bani (panggilan Muhammad Albani,Red),” kata Masnah di di Karang Bagu, Lingkungan Karang Taliwang  seperti ditulis  Lombok Post (Jawa Pos Group), Senin (20/2).


Gurat kesedihan masih nampak di wajah Masnah. Kerudung hitam yang ia kenakan saat ditemui Lombok Post, seolah menegaskan  jika dirinya masih berduka. Kehilangan anak bungsunya. Anak lelaki satu-satunya, Muhammad Albani.


Namun, Masnah berusaha tetap tegar. Meski di rumah itu, hanya tersisa dua orang perempuan. Dia dan anak perempuannya yang pertama, Maria Hulfa, 25 tahun. Dia juga berusaha ikhlas. Merelakan kepergian Bani.  ”Saya sudah ikhlaskan kejadian itu, karena ini sudah takdir,” kata dia lirih.


Meski ikhlas, bayangan peristiwa tersebut tak pernah ia lupakan. Dengan sesekali terisak karena masih mengingat Bani, Masnah menceritakan kejadian sebelum Bani meregang nyawa akibat perbuatan Sulaimi.


Sebelum peristiwa tersebut, dirinya sempat bercengkrama dengan Bani di samping rumah. Saat itu, Bani baru saja pulang bermain. Sedangkan posisi Sulaimi tengah beristirahat di kamar di dalam rumah.


Sekitar pukul 11.00 Wita, Bani beranjak untuk tidur. Dia menuju ruang tamu, tempat ia selama ini tidur bersama Masnah. ”Setelah Bani pergi, saya juga ikut tidur, tapi di luar,” terang Masnah.


Belum lelap dalam tidurnya, sekitar pukul 12.00 Wita, Masnah dibangunkan suaminya. Sulaimi meminta Masnah untuk mengambilkan Bani minum.  ”Memang di jam-jam itu, Bani biasanya minta minum,” ujar dia.


Namun betapa kagetnya Masnah saat mendatangi Bani di ruang tamu. Dia melihat Bani tengah terduduk dengan kaki menjulur ke depan. Di tangannya penuh darah. Masnah panik. Saat itu, dia mengira jika Bani muntah darah. Sebab Bani sempat memiliki riwayat penyakit kuning dan tipes. ”Bani tidak menangis, dia cuma panggil saya, ibu..ibu,” kata Masnah terisak karena mengingat kejadian itu. 


Di mana posisi Sulaimi saat itu? Kata Masnah, setelah membangunkan dirinya, suaminya tetap berada di dapur. Terlihat linglung dan berdiri seperti patung. 


Usai kejadian tersebut, Masnah langsung membopong Bani menuju rumah pamannya. Dari sana, paman korban membawa Bani ke puskesmas untuk selanjutnya dirujuk ke RS Kota Mataram. Di tempat terakhir ini, dirinya baru mengetahui ada luka di samping kiri kepala Bani.


Masnah mengaku beberapa kali pingsan melihat kondisi anaknya. Begitu juga dengan Sulaimi. Suaminya sempat kejang-kejang. Saat ditanya tentang perbuatannya kepada Bani, suaminya terlihat setengah sadar. ”Dia (Bani) kenapa anak saya? Gak usah kasih anaknya nangis,” kata Masnah menirukan ucapan suaminya ketika itu.


Apa yang dilakukan suaminya, menurut Masnah, sangat bertolak belakang dengan sifat dan perlakuan Sulaimi sehari-hari kepada Bani. Buktinya, lanjut dia, meski mengidap penyakit kencing manis setahun belakangan ini, Sulaimi memaksa untuk tetap bekerja. Untuk memenuhi kebutuhan keluarganya.(wahidi akbar sirinawa/r2/nas/JPG)

Editor: Mohamad Nur Asikin
Tags
Artikel Terkait
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore