
Sulami selama dirawat di Sragen. Mulai kemarin, perawatan dipindahkan ke RSUD Dr Moewardi.
JawaPos.com – Beberapa waktu lalu, Sulami, warga Sragen, Jateng sempat menggegerkan netizen karena penyakit bamboo spine yang dideritanya. Penyakit itu membuat badanya kaku, karenanya disebut si punggung bambu. Nah, ternyata di Sragen, penderita bamboo spine bukan hanya Sulami.
Rodiyah, 37, warga Kecamatan Miri, Kabupaten Sragen juga mengalami penyakit mirip Sulami. Dia pun di bawa ke RSUD Dr Moewardi, Solo, Senin (30/1).
Rodiyah didampingi keluarga dan Tim Kesejahteraan Sosial Kecamatan (TKSK) Miri. Anggota TKSK Miri Gofur menjelaskan, sebelum dibawa ke Solo, Rodiyah sempat dirawat di Puskesmas Sragen. Setelah diperiksa tim dokter, Rodiyah diputuskan menjalani rawat inap di RSUD Dr Moewardi. ”Saya tidak ikut masuk ke dalam (ruang perawatan, Red). Rodiyah ditempatkan di ruang yang berdekatan dengan Sulami,” jelasnya.
Humas RSUD Dr Moewardi Elysa menuturkan, tim dokter sedang melakukan pemeriksaan menyeluruh untuk mengetahui kondisi Rodiyah. Karena itu belum bisa memberikan keterangan mendetail.
Tim dokter yang menangani Rodiyah, lanjut Elysa, tidak berbeda dengan yang merawat Sulami. ”Setelah semua jelas, pihak rumah sakit akan melakukan jumpa pers,” kata dia.
Ketua tim dokter Arif Nurdin menegaskan, Rodiyah dan Sulami mengalami gejala penyakit yang sama. ”Kami belum bisa menjabarkan secara detail. Sebab kondisi pasien masih kami observasi,” tuturnya.
Selain menderita penyakit yang mirip, Rodiyah dan Sulami sama-sama dari keluarga kurang mampu. Bedanya Rodiyah masih memiliki orang tua yang merawatnya. ”Kondisinya (Rodiyah, Red) lebih parah. Dia mengalami keterbatasan gerak, bukannya dipasung,” ucap Widowati anggota TKSK Kecamatan Tangen, Sragen.
Sebelumnya, Arif Nurudin menjelaskan, penyakit yang dialami Sulami menderita penyakit auto imun dengan jenis ankylosing spondylitis yang terkombinasi scleroderma dan menyerang daya tahan tubuh. Sehingga sendi Sulami menjadi kaku. Bagian tubuh yang diserang mulai dari tulang belakang hingga sendi bawah.
”Jika kita lihat dari fotonya (rontgen, Red), akan tampak tulang belakangnya menyerupai bambu. Makanya penyakit ini juga disebut dengan bamboo spine,” jelas Arif. Ditambah Sulami menderita scleroderma. Sehingga bukan hanya sendi, kulitnya juga terasa kaku.
Penanganannya, lanjut Arif, akan dilakukan observasi selama satu pekan kedepan. Auto imun tidak bisa disembuhkan secara total. ”Yang bisa dilakukan hanya mencegah agar tidak lebih parah. Minimal (aktivitas Sulami, Red) tidak bergantung pada orang lain,” ungkapnya.
Hasil observasi akan menentukan obat yang tepat untuk meringankan penyakit sulami. Treatment pengobatan dilakukan sebanyak enak kali tiap dua pekan. Pasca-pengobatan, dilanjutkan evaluasi perkembangan Sulami.
”Untuk treatment (pengobatan, Red) seperti memasukkan obat ke dalam tubuh. Jadi tidak perlu ada rawat inap. Hanya selama satu minggu awal, kami harus melakukan observasi secara lengkap. Setelah itu bisa rawat jalan,” terang Arif.
Harga obat untuk auto imun relatif mahal. Sekali treatment dibutuhkan Rp 6 juta – Rp 8 juta. Sedangkan Sulami membutuhkan enam kali treatment pengobatan. ”Ini pun jika tidak ada penanganan tambahan. Jika treatment pertama tidak berhasil, harus diulang dari awal lagi sebanyak enam kali,” ungkap dia.
Pemerintah Provinsi (Pemprov) Jateng siap membantu biaya pengobatan Sulami. ”Kami ingin mencoba membantu seoptimal mungkin dengan fasilitas yang ada,” ujar Gubernur Jateng Ganjar Pranowo saat menjenguk di RSUD Dr. Moewardi kemarin.
Humas RSUD Dr Moewardi Elysa menuturkan, Sulami ditempatkan di kamar inap bangsal Mawar 1 kamar 3 A. ”Satu hingga dua hari ini masih akan observasi dulu. Tadi keluarga inginnya bisa langsung pulang, tapi kan perlu penanganan lebih lanjut,” jelas Elysa. (vit/din/wa)

10 Mie Ayam Paling Enak di Jogja yang Selalu Ramai Pembeli, Kuah Gurih dan Porsi Melimpah
14 Rekomendasi Gado-Gado Paling Recomended di Surabaya, Cita Rasa Klasik Autentik dan Harga Ramah di Kantong
Berburu Oleh-Oleh Khas Pasuruan? Ini 15 Buah Tangan yang Cocok untuk Keluarga di Rumah Berdasarkan yang Paling Dicari Wisatawan
15 Pecel Paling Enak di Surabaya, Cita Rasa Sambal Kacang yang Autentik dan Ragam Lauk Tradisional yang Menggoda Selera
10 Tempat Makan Pempek Favorit di Bandung, Pilihan Menu Lengkap, Rasa Autentik, dan Perpaduan Cuko yang Kaya Rempah
Koperasi Desa Merah Putih di Pakuhaji Sepi dan Bangunan Sederhana, Dinkop UMKM Tangerang: Tidak Dibangun dari Dana Agrinas
5 Mall Terbaik dan Paling Cozy di Solo, Cocok untuk Menikmati Kuliner, Belanja, dan Nongkrong di Satu Tempat
13 Wisata Terbaik Dekat Stasiun Pasuruan, Buat Liburan Tak Perlu Jauh Tapi Tetap Seru
12 Tempat Kuliner Soto yang Jadi Favorit di Malang, Soal Rasa Jangan Ditanya Pasti Enak!
Tak Perlu lagi Pusing Parkir, Ini Rute Transjakarta Paling Pas ke Indonesia Arena GBK
