
Rosmiati alias Dona yang mengendarai motor tanpa busana saat diperiksa di Mapolresta Pontianak, Senin (16/1).
JawaPos.com - Usai diperiksa penyidik Unit PPA Sat Reskrim Polresta Pontianak, Rusmiati alias Dona, perempuan bermotor sambil bugil di area Bandara Supadio, Pontianak langsung dibawa ke RS Bhayangkara Anton Soedjarwo Polda Kalbar, Senin (16/1) malam. Di sana perempuan kelahiran Sukabumi, Jawa Barat tersebut menjalani tes urin.
Dua perempuan dan seorang lelaki yang diketahui merupakan rekan Dona menemaninya menjalani proses uji air seni. Pemeriksaan urin dilakukan dalam mobil warna putih milik rekan Dona di parkiran RS Bhayangkara. Lantaran kelahiran 1989, Sukabumi, Jawa Barat, tersebut tidak mau turun dari mobil.
Hasilnya? Dalam urin Dona tidak terkandung obat-obatan terlarang. Meski dari pengakuannya, dua hari sebelum mengendarai sepeda motor tanpa busana di Jalan Ahmad Yani Pontianak hingga ke Jalan Arteri Supadio Kubu Raya pada Minggu (15/1) siang, dia mengkonsumsi sabu.
“Hasil urinnya negatif. Artinya, yang bersangkutan tidak mengonsumsi narkoba,” tutur Arif Budiman, staf urin Dokpol Urusan Pelayanan Dokpol RS Bhayangkara Anton Soedjarwo Polda Kalbar, Senin malam.
Untuk memastikan kejiwaan dan psikis Dona, ia segera dibawa ke RS Jiwa Daerah Sungai Bangkong Pontianak oleh Dinas Sosial Pontianak, pada malam itu juga. Hasil pemantauan dan pemeriksaan awal, Dona sebatas dicurigai mengalami gangguan jiwa.
“Saat tiba di ruang gawat darurat, dilakukan pemeriksaan oleh dokter jaga. Oleh dokter jaga diputuskan pasien perlu dirawat inap untuk dipantau perkembangan kondisi psikis atau kejiwaannya,” kata dr. Ferry Safariadi, direktur Rumah Sakit Jiwa Daerah Sungai Bangkong kepada Rakyat Kalbar, ditemui di ruangannya, Selasa (17/1).
Dia menjelaskan, informasi terakhir dari perawat yang menangani, kondisi kejiwaan Dona sudah mulai membaik setelah diberikan penanganan awal. Sudah ada perubahan. “Respons yang bersangkutan baik, tutur bicaranya juga sudah baik,” ujarnya.
Tetapi, Ferry melanjutkan, kondisi saat ini tidak memastikan suasana kejiwaan Dona seutuhnya. Karena dalam menguji kondisi kejiwaan seseorang perlu waktu pemeriksaan atau pemantauan yang cukup lama. Perlu tempo sekitar dua minggu untuk pemantauan dan pemeriksaan untuk bisa menentukan apakah Dona punya gangguan jiwa berat, ringan, sedang, atau tidak sama sekali.
“Bisa saja hari ini membaik, besok berubah lagi. Makanya perlu waktu untuk memantau pasien ini,” tegasnya.
Namun, ia tak memungkiri kemungkinan Dona mengalami gangguan jiwa jika dilihat dari gejala atau kecurigaan sementara. Faktor kecurigaan itu dilihat dari aksi heboh yang dilakukan Dona di luar batas kewajaran orang normal beberapa hari lalu. Termasuk dari tutur bicaranya, perilakunya, dan rasa ketakutan atau halusinasinya saat dokter memeriksanya.
“Rasanya tidak mungkin orang normal bisa berkelakuan seperti itu (bermotor sambil telanjang). Ini menjadi salah satu faktor kecurigaan kita bahwa dia sudah mengalami gangguan kejiwaam. Karena dia melawan kaedah-kaedah masyarakat. Ada hal lain menjadi faktor kecurigaan kita,” ucap Ferry.
Hasil tes urin Dona di RSJ juga negatif. Sama halnya dengan tes di RS Bhayangkara. Artinya, aksi tak lazim bermotor sambil telanjang yang dilakukan Dona bukan karena pengaruh zat narkotika pada saat itu juga. Tapi, bisa saja zat-zat narkotika yang sudah lama mendarah daging kembali mempengaruhi dan mengganggu kejiwaan Dona.
“Kondisi penggunaan narkoba dalam jangka waktu yang cukup lama, biasanya akan menimbulkan gangguan jiwa. Gambarannya ya seperti kasus (Dona, red) ini. Tapi saya tidak mengatakan kasus ini ada hubungannya dengan narkoba. Namun, kecurigaan kita ada ke arah situ,” paparnya.
Tambah Ferry, “Kita hanya sebatas curiga ya bahwa yang bersangkutan ada gangguan jiwa”. Artinya, ia menegaskan kembali, perlu observasi lebih dalam. Sebab, gangguan jiwa tidak seperti gangguan fisik yang bisa cepat didiagnosa dan ditangani. “Gangguan jiwa ini yang terganggu adalah alam pikiran. Jadi membutuhkan waktu lama untuk memunculkan kondisi alam pikirannya sampai timbullah kesimpulan akhir,” tekannya.
Hingga kini, Dona masih dirawat di ruangan Melati RSJ. Selama masa observasi, ia tak boleh dijenguk. Bahkan, pihak keluarga pun tidak bisa bertemu jika belum ada keputusan dari dokter yang menangani Dona.

10 Mie Ayam Paling Enak di Jogja yang Selalu Ramai Pembeli, Kuah Gurih dan Porsi Melimpah
14 Rekomendasi Gado-Gado Paling Recomended di Surabaya, Cita Rasa Klasik Autentik dan Harga Ramah di Kantong
Berburu Oleh-Oleh Khas Pasuruan? Ini 15 Buah Tangan yang Cocok untuk Keluarga di Rumah Berdasarkan yang Paling Dicari Wisatawan
15 Pecel Paling Enak di Surabaya, Cita Rasa Sambal Kacang yang Autentik dan Ragam Lauk Tradisional yang Menggoda Selera
10 Tempat Makan Pempek Favorit di Bandung, Pilihan Menu Lengkap, Rasa Autentik, dan Perpaduan Cuko yang Kaya Rempah
Koperasi Desa Merah Putih di Pakuhaji Sepi dan Bangunan Sederhana, Dinkop UMKM Tangerang: Tidak Dibangun dari Dana Agrinas
5 Mall Terbaik dan Paling Cozy di Solo, Cocok untuk Menikmati Kuliner, Belanja, dan Nongkrong di Satu Tempat
13 Wisata Terbaik Dekat Stasiun Pasuruan, Buat Liburan Tak Perlu Jauh Tapi Tetap Seru
12 Tempat Kuliner Soto yang Jadi Favorit di Malang, Soal Rasa Jangan Ditanya Pasti Enak!
Tak Perlu lagi Pusing Parkir, Ini Rute Transjakarta Paling Pas ke Indonesia Arena GBK
