
Masyarakat selingkaran Danau Singkarak, Kecamatan X Kotosingkarak, Kabupaten Solok, mengumpulkan ikan yang terapung.
JawaPos.com SOLOK - Fenomena menghitamnya air Danau Singkarak berdampak pada ekosistemnya. Ikan di danau terlihat mabuk sehingga terapung. Sebagian ada ikan yang memilih menepi untuk mencari air yang tidak menghitam.
Menepinya ikan itu dimanfaatkan oleh warga setempat, yakni sekitar Danau Singkarak untuk menangkapnya. Sehingga warga pun jadi panen raya. Saking banyaknya ikan yang terapung, jenis ikan yang biasanya sulit didapati nelayan, justru muncul ke permukaan.
Banyaknya ikan yang dihasilkan warga setelah ditangkap di pinggir danau, harga ikan di pasaran kawasan itu menjadi anjlok.
Informasi yang dihimpun Padang Ekspres (Jawa Pos Group), fenomena ikan mabuk ini telah sering dijumpai masyarakat pinggiran danau sejak tahun-tahun sebelumnya.
Kondisi ini diyakini masyarakat sebagai akibat pengaruh belerang. Sebab, warna air yang sedikit menghitam juga mengeluarkan bau belerang.
Melihat kondisi ikan yang sudah tak kuat bergerak, ratusan masyarakatpun berbondong-bondong turut menangkap ikan dengan peralatan seadanya. Bahkan dalam waktu 1 jam, seorang warga saja bisa mengumpulkan 2 baskom ikan.
Selain ikan bilih yang memang menjadi khas Singkarak, berbagai jenis ikan yang sulit didapati nelayan juga berhamburan kepinggir danau. Seperti jenis ikan garing, sasau dan sebagainya.
Bahkan, ikan kuning yang biasanya hidup di karang dengan kedalaman lebih 20 meter juga teler kepermukaan.
"Kalau dilihat dari tadi pagi, para nelayan dan masyarakat pinggiran danau mendapatkan ikan ratusan Kg masing-masingnya," terang Zul, warga setempat.
Jasril, 51, warga Singkarak yang mengaku turut menangkap ikan mabuk mengatakan, bahwa ikan-ikan tersebut layak dikonsumsi dan tidak berpengaruh maupun merusak kesehatan. "Tapi rasanya sedikit hambar dibanding ikan-ikan yang ditangkap saat air bersih," terangnya.
Menurut informasi, perubahan warna air danau menjadi hitam dan coklat ini terjadi di perairan danau kawasan Nagari Singkarak, Tikalak, Kacang.
Namun, lebih banyak terjadi di kawasan sekitar Ombilin, Kabupaten Tanahdatar.
Kendati demikian, fenomena ini tidak dianggap sebuah musibah bagi masyarakat Singkarak. Apalagi kejadian berulang seperti ini sudah sering terjadi sejak tragedi gempa 2009 silam.
"Bagi masyarakat di sini, kejadiaan ini biasa dan tidak berpengaruh terhadap isu-isu negatif. Justru menguntungkan masyarakat," terang Jasril. (rch/iil/JPG)

Dana Desa Terpangkas untuk Koperasi Merah Putih, Pembangunan Infrastruktur Sebagian Desa di Tulungagung Tak Sesuai Rencana
50 Unit Mobil Koperasi Desa Merah Putih Tiba di Wonogiri, Dandim 0728/Wonogiri: Saran Saya Tidak Usah Digunakan Dulu Mobilnya
12 Spot Kuliner Bakso di Bandung yang Terkenal karena Tekstur Dagingnya yang Juara
15 Rekomendasi Restoran Terbaik Dekat Tugu Muda Semarang: Surganya Kuliner yang Wajib Dicoba Pelancong dan Wisatawan!
18 Rekomendasi Sarapan Pagi di Bandung Paling Sedap, Sederet Kuliner Mantap yang Wajid Disantap
Kabar Gembira! Gubernur Banten Resmi Hapus Pajak Kendaraan Bermotor, Ini Syaratnya!
10 Spot Mie Kocok di Bandung Terenak, Kuliner Khas dengan Kuah Kental dan Bumbu Tradisional
12 Restoran Seafood Terenak di Bandung, Surganya Kuliner Laut yang Tak Pernah Sepi Pengunjung
15 Kuliner Bakso di Solo yang Selalu Jadi Incaran, dari yang Paling Legend hingga yang Kekinian
Jadwal Thomas Cup 2026 Indonesia vs Aljazair, Siaran Langsung, dan Live Streaming: Laga Perdana Wajib Menang!
