
TERLELAP: Salah seorang korban banjir di Papar, Kediri tidur nyenyak, kendati rumahnya tergenang air.
JawaPos.com- Banjir yang melanda Dusun Bulurejo, Desa/Kecamatan Papar, Kediri pada Kamis (8/12) belum sepenuhnya surut. Karena itu, warga masih gundah. Mereka khawatir sumurnya tercemar. Sebab, sebagian air sumur berwarna cokelat kehijauan.
’’Tidak bau, tapi warnanya tidak sejernih sebelum banjir,’’ kata Nurjanah, 37, warga RT 4, Dusun Bulurejo, Papar, kepada Jawa Pos Radar Kediri.
Menurut dia, selain berwarna, air di sumurnya berbusa. Apalagi ketika dimasukkan ke gelas, terlihat ada semacam endapan keruh. Karena itu, banyak warga yang terpaksa mengonsumsi air mineral. Bahkan, ada yang harus mengangkut air dari tetangga desa untuk dikonsumsi.
’’Sekarang saya juga belum berani minum air sumur. Saya beli air mineral dalam galon,’’ ujar Nurjanah.
Sementara itu, air sumur yang biasanya bisa diminum kini hanya digunakan untuk mandi dan mencuci. ’’Tidak ada pilihan lain. Airnya selalu menggenang di belakang rumah setiap banjir,’’ terangnya.
Nurjanah menyebutkan, air tersebut tetap menggenang karena tidak ada pembuangan. Apalagi posisi tanahnya lebih rendah. Air yang menggenangi kompleks rumahnya cukup tinggi, yakni sekitar batas kaki manusia atau mencapai 15 sentimeter (cm).
Hingga kemarin, belum ada solusi untuk mengurangi atau menguras genangan air di sekitar rumah Nurjanah. Ketua Rukun Tetangga (RT) 4, Dusun Bulurejo, Sugeng Pribadi menyatakan, pascabanjir air bekas hujan itu akan susut dengan sendirinya.
Makanya, lokasi yang masih terendam pasti akan berdampak pada air sumur. ’’Saat ini belum ada yang melapor terkena sakit perut dan lainnya,’’ ungkap pria 65 tahun itu.
Kakek satu cucu tersebut menjelaskan, kekhawatiran warga bisa terserang penyakit bukan tanpa alasan. Sebab, hampir setiap rumah punya ternak, baik kambing maupun sapi. Karena itu, akibat banjir beberapa waktu lalu dikhawatirkan berdampak pada kesehatan lingkungan. ’’Ya sebagian warga memikirkan dampak tersebut,’’ papar ketua RT yang beruban itu.
Bila air yang tergenang bercampur kotoran ternak, menurut Sugeng, tidak tertutup kemungkinan hal tersebut bisa membahayakan warga. Sejauh ini warga saling memahami dan mengerti bahwa setiap selesai banjir, air sumur tidak bisa langsung dikonsumsi.
’’Di rumah saya airnya juga terlihat bersih dan jernih, tetapi bau,’’ terangnya. Karena itulah, banyak warga yang tidak mentala untuk minum air dari sumur.
Plt Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Kediri Hari Wahyu Jatmiko menyatakan, pihaknya akan mengambil sampel air di lokasi terdampak banjir. Rencananya, dilakukan uji laboratorium (lab) untuk memastikan air di desa itu layak dikonsumsi atau tidak.
’’Nanti kami ajak dinas kesehatan untuk menguji kelayakan air minum di Dusun Bulurejo,’’ jelasnya. (rq/ndr/c22/end)

Dana Desa Terpangkas untuk Koperasi Merah Putih, Pembangunan Infrastruktur Sebagian Desa di Tulungagung Tak Sesuai Rencana
50 Unit Mobil Koperasi Desa Merah Putih Tiba di Wonogiri, Dandim 0728/Wonogiri: Saran Saya Tidak Usah Digunakan Dulu Mobilnya
12 Spot Kuliner Bakso di Bandung yang Terkenal karena Tekstur Dagingnya yang Juara
15 Rekomendasi Restoran Terbaik Dekat Tugu Muda Semarang: Surganya Kuliner yang Wajib Dicoba Pelancong dan Wisatawan!
18 Rekomendasi Sarapan Pagi di Bandung Paling Sedap, Sederet Kuliner Mantap yang Wajid Disantap
Kabar Gembira! Gubernur Banten Resmi Hapus Pajak Kendaraan Bermotor, Ini Syaratnya!
10 Spot Mie Kocok di Bandung Terenak, Kuliner Khas dengan Kuah Kental dan Bumbu Tradisional
12 Restoran Seafood Terenak di Bandung, Surganya Kuliner Laut yang Tak Pernah Sepi Pengunjung
15 Kuliner Bakso di Solo yang Selalu Jadi Incaran, dari yang Paling Legend hingga yang Kekinian
Jadwal Thomas Cup 2026 Indonesia vs Aljazair, Siaran Langsung, dan Live Streaming: Laga Perdana Wajib Menang!
