
MONOLOG GAZA: Kelompok musik, Buktu membawakan Monolog Gaza yang berisi potongan-potongan peristiwa kekejaman perang di Gaza. (ISTIMEWA JAWA POS)
Indonesia Dramatic Reading Festival (IDRF) 2024
JawaPos.com - Indonesia Dramatic Reading Festival (IDRF) kembali digelar di Jogjakarta. Festival pembacaan naskah lakon setahun sekali itu kali ini mengambil tema Rupa Zaman: Realitas-Solidaritas dalam Naskah Teater. Direktur IDRF Muhammad Abe mengatakan, pihaknya mengundang Hendromasto Prasetyo (Jakarta) dan Luna Karisma (Solo) sebagai kurator festival tahun ini.
”Dari kali pertama penyelenggaraannya pada 2010, tiap tahun IDRF selalu berganti tema dengan kurator berbeda,” katanya. IDRF 2024 diselenggarakan di Lembaga Indonesia Prancis (LIP) Jogjakarta pada 7–9 November 2024.
Ada enam naskah terjemahan dan satu naskah Indonesia yang disajikan. Naskah-naskah itu adalah Peristiwa Makan Malam karya Indri Lestari (Indonesia), Emesis gubahan Heneliis Notton (Estonia) terjemahan Meyda Bestari, Monolog Gaza 2023 dari Ashtar Theatre (Palestina) terjemahan Gladhys Elliona dan Deandra Syarizka, juga Perserikatan Bangsa-Bangsa oleh Clemens Setz (Austria) terjemahan Dian Ekawati. Selain itu, ada pula Selamat Malam, Mama karya Masha Norman (Amerika Serikat) terjemahan Jenar Kidjing dan Lima Hari di Bulan Maret karya Toshiki Okada (Jepang) yang diterjemahkan oleh Riza Adrian.
Sementara itu, Luna Karisma menjelaskan, proses kurasi pada awalnya dimulai dari tawaran tim IDRF untuk membaca dan membincangkan naskah-naskah yang telah dikumpulkan sebelumnya. Menurut dia, beberapa telah diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia, beberapa lainnya masih dalam bahasa asli.
Luna menambahkan, dalam menghadapi naskah-naskah terjemahan, dia tidak hanya berhenti pada praktik alih bahasa. Tapi, juga erat kaitannya dengan akses dan berhubungan dengan struktur kuasa pengetahuan berbasis ras, kelas, ekonomi, wilayah geografis, dan kondisi geopolitik antarnegara.
Menurut Luna, naskah teater sesungguhnya adalah karya sastra yang menyiratkan situasi di sekitar penulisnya. ”Ia dapat berupa pantulan dari kondisi sosiologis hingga abstraksi permenungan si penulis. Realitas lantas menjadi kata kunci pertama yang membingkai proses kurasi dan mengantarkan kami pada kata kunci selanjutnya, yaitu solidaritas,” beber Luna.
Pada IDRF 2024, naskah-naskah tersebut dibacakan oleh kelompok yang berbeda setiap harinya dan dilanjutkan dengan diskusi bersama penonton. Para pembaca naskah dalam festival ini antara lain Landung Simatupang dan Perkumpulan Seni Nusantara Baca, Pondok Pesantren Budaya Kali Opak, Mainteater Bandung, Karangdunyo, Kolektif AKAP, dan Buktu. (Hendro M)

Dana Desa Terpangkas untuk Koperasi Merah Putih, Pembangunan Infrastruktur Sebagian Desa di Tulungagung Tak Sesuai Rencana
50 Unit Mobil Koperasi Desa Merah Putih Tiba di Wonogiri, Dandim 0728/Wonogiri: Saran Saya Tidak Usah Digunakan Dulu Mobilnya
12 Spot Kuliner Bakso di Bandung yang Terkenal karena Tekstur Dagingnya yang Juara
15 Rekomendasi Restoran Terbaik Dekat Tugu Muda Semarang: Surganya Kuliner yang Wajib Dicoba Pelancong dan Wisatawan!
18 Rekomendasi Sarapan Pagi di Bandung Paling Sedap, Sederet Kuliner Mantap yang Wajid Disantap
Kabar Gembira! Gubernur Banten Resmi Hapus Pajak Kendaraan Bermotor, Ini Syaratnya!
10 Spot Mie Kocok di Bandung Terenak, Kuliner Khas dengan Kuah Kental dan Bumbu Tradisional
12 Restoran Seafood Terenak di Bandung, Surganya Kuliner Laut yang Tak Pernah Sepi Pengunjung
15 Kuliner Bakso di Solo yang Selalu Jadi Incaran, dari yang Paling Legend hingga yang Kekinian
Jadwal Thomas Cup 2026 Indonesia vs Aljazair, Siaran Langsung, dan Live Streaming: Laga Perdana Wajib Menang!
