Logo JawaPos
Author avatar - Image
Minggu, 30 Juli 2023 | 20.27 WIB

Kaum Muda dan Peran Penting dalam Pelestarian Seni Budaya

FOLLOW MY LEAD: Paksi mengajarkan hanacaraka dalam kelas aksara Jawa di sanggar yang didirikan Sekar.

Perlu Proses, Tak Mungkin Sia-Sia

Amunisi yang menghidupkan seni budaya itu bernama anak muda. Di tengah gempuran modernitas dan riuhnya media sosial, masih ada pemuda-pemudi yang asyik berkreasi dalam seni budaya sembari menekuni tradisi. Adakah peran pemerintah dalam proses panjang mereka?

KINANTI Sekar Rahina adalah penggerak seni budaya jempolan. Putri semata wayang maestro pantomim Indonesia, Jemek Supardi, itu gigih menularkan kepiawaiannya dalam seni tari klasik. Alumnus ISI Jogjakarta itu juga aktif berkontribusi dalam berbagai acara seni budaya.

Kendati sejak balita sudah berkecimpung dalam dunia seni, Sekar mengaku tidak mudah untuk bertahan, apalagi melestarikan tradisi. Mendirikan Sanggar Seni Kinanti Sekar pada 2015, dia sempat prihatin. Sebab, hanya ada 20 murid yang berlatih. ”Keluhan anak-anak itu tari klasik Jogja sulit,” ujarnya kepada Jawa Pos kemarin (29/7).

Tarian Jawa yang lemah gemulai mungkin memang kalah keren jika dibandingkan dengan dance masa kini yang rancak. Karena sesungguhnya tarian Jawa bisa dikreasikan menjadi lebih menarik, Sekar berinovasi. Dia menciptakan kreasi baru yang melunturkan kesan bahwa tarian Jawa itu sulit ditirukan. ”Ini agar lebih menarik bagi anak muda dan anak-anak,” katanya.

Sekar menegaskan bahwa semua proses yang dilewati membutuhkan satu kunci yang sama. Yakni, konsistensi. Itu pula yang membuat Sanggar Seni Kinanti Sekar tidak lagi sekadar sanggar untuk berlatih tari. Kini sanggar yang terletak di kawasan Gondomanan itu juga menjadi wadah belajar aksara Jawa, macapat, karawitan, dan wayang.

Terpisah, Paksi Raras Alit menceritakan pengalamannya saat awal-awal merintis komunitas pencinta aksara Jawa. ”Kekuatannya hanya nekat,” katanya saat dihubungi Jawa Pos pada Jumat (28/7). Pendiri Jawacana yang juga aktif terlibat dalam berbagai kegiatan seni budaya di kota kelahirannya itu menyatakan bahwa proses yang dijalani membuat dirinya makin yakin untuk tetap menjaga tradisi.

Jawacana yang di awal kelahirannya mendapatkan dukungan dana dari pemerintah untuk publikasi media cetak terpaksa ubet sendiri sejak pandemi lalu. Kelas aksara Jawa gratis yang menjadi perwujudan idealisme Paksi dan rekan-rekannya dalam Jawacana pun membuat mereka sering tombok.

”Kami ya akhirnya hanya bisa iuran,” paparnya.

Bersinergi dengan Sekar, kelas aksara Jawa pun kini digelar rutin di Sanggar Seni Kinanti Sekar. Semakin lama, pesertanya semakin banyak. ”Operasional setiap bulan untuk gaji mentor ini bisa Rp 3 juta sampai Rp 7 juta. Pokoke urunan,” ungkap Paksi.

Kendati demikian, Sekar maupun Paksi optimistis ikhtiar yang mereka lakukan untuk melestarikan budaya tidak sia-sia. Belakangan, gempuran modernitas justru membuat anak-anak muda menjadi tertarik untuk menggali lebih dalam tentang budaya sendiri. Mereka ingin mengetahui identitas budayanya.

Apa indikasinya? Paksi menyebut lagu-lagu berbahasa Jawa yang digemari hampir semua anak muda Indonesia. Bahkan, tidak hanya yang bermukim di Pulau Jawa. ”Itu pintu masuknya,” tuturnya. (idr/c19/hep)

Editor: Ilham Safutra
Tags
Artikel Terkait
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore