Logo JawaPos
Author avatar - Image
Minggu, 28 Agustus 2022 | 16.09 WIB

Visualisasi Kaburnya Batas Nyata-Maya

MENANGKAP REALITA: Instalasi berjudul Patgulipat karya kolektif seni Tromarama dipamerkan di Galeri ROH Jakarta. Pameran ini bertajuk Personalia. (HENDRA EKA/JAWA POS) - Image

MENANGKAP REALITA: Instalasi berjudul Patgulipat karya kolektif seni Tromarama dipamerkan di Galeri ROH Jakarta. Pameran ini bertajuk Personalia. (HENDRA EKA/JAWA POS)

Waktu longgar dan bekerja semakin tumpang-tindih. Work from home (WFH) bukan berarti 100 persen bekerja. Ada kelonggaran waktu yang bahkan bisa dimanfaatkan sebagai me time ketika WFH.

---

SAMARNYA interaksi di dunia digital itu menjadi tema besar kolektif seni Tromarama bersama Galeri ROH saat menghelat pameran tunggal perdana bertajuk Personalia. Personalia mengangkat bagaimana ruang siber terus memungkinkan perubahan-perubahan baru melalui pengoleksian, pemakaian, dan rekayasa data para penggunanya. Baik yang diperoleh secara konsensual maupun tidak. Personalia di Galeri ROH berlangsung mulai 20 Agustus hingga 2 Oktober 2022.

Seniman Tromarama Febie Babyrose mengatakan bahwa teknologi sebagai perantara dunia nyata dan maya kemudian memengaruhi kesadaran dan kemampuan seseorang dalam mengambil keputusan.

”Di era sekarang ini, batas antara online dan offline sudah semakin kabur. Kecakapan menimbang akibat dari tiap keputusan seseorang menjadi titik eksplorasi lain yang penting dalam Personalia,” ujar Febie.

Istilah Personalia, lanjut Febie, sebetulnya berkaitan erat dengan kumpulan pekerja dan manajemen sumber daya manusia yang umum ditemukan dalam suatu organisasi. Istilah itu dapat diasosiasikan dengan konsep struktur korporasi konvensional. Namun dalam pameran tersebut, hal itu ditafsirkan dekat dengan realitas dunia digital yang terus bergerak.

”Tromarama mengimbuhkan fungsi baru yang lain daripada biasanya ke dalam benda sehari-hari yang awalnya terkesan familier lewat beragam siasat estetika,” tambah Febie.

Pameran Personalia terbagi dalam dua bagian utama. Pertama, pengunjung disambut dengan karya Bonding (2022) pada lorong utama menuju Galeri Apple. Karya itu dibangun menyerupai postur manusia dari tumpukan pengeras suara yang diprogram untuk mengeluarkan bunyi detak jantung janin.

Irama pada elemen bunyi instalasi itu diatur dan terkoneksi langsung dengan siaran media sosial. Gambar hasil pindaian jempol manusia memenuhi seluruh dinding Galeri Apple, melatari karya patung, instalasi benda temuan, dan karya cetak lenticular baru.

Beranjak dari Galeri Apple, terdapat tampilan video animasi dan konfigurasi kartu absensi. Perpaduan karya-karya pada ruang itu memperkenalkan pengalaman audiovisual yang segar kepada pengunjung sebelum mereka kemudian diajak menyeberangi tirai plastik yang membatasi jalur masuk Galeri Orange. Atau lokasi bagian kedua dari pameran.

Instalasi Patgulipat (2022) menjejali ruang vertikal galeri yang terbuat dari istana balon tiup yang digantung terbalik dengan 16 helm proyek yang masing-masing telah disisipi pengeras suara. Suasana riuh yang kemudian tercipta sebetulnya dimotori oleh sistem pemrograman yang serupa dengan bagian pertama.

Tromarama merupakan kolektif seniman asal Bandung yang dibentuk pada 2006. Tiga seniman di dalamnya merupakan lulusan dari Institut Teknologi Bandung. Tromarama kali pertama dipertemukan dalam pengerjaan project ”trauma” yang menggarap klip video musik Serigala Militia pada 2006.

Sementara itu, ROH merupakan galeri seni yang diinisiasi pada 2014 dengan tujuan melayani ekosistem seni Indonesia melalui konsistensi program lokal. Dua tahun terakhir, ROH memainkan peran yang lebih nomaden.

Editor: Ilham Safutra
Tags
Artikel Terkait
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore