
BURUNG MURUNG, Karya Goenawan Mohamad
KOMENTAR saya:
1. Saya tidak tahu mengapa pokok soal yang saya majukan direspons melenceng.
Tulisan saya mau membahas keadaan dunia seni rupa kita setelah Indonesia dihantam Covid-19. Perubahan yang terjadi –ketika pasar seni rupa pingsan–seharusnya mendesak kita untuk mengkaji ulang beberapa premis dasar.
Pertama-tama: mengapa kita melukis, menggambar, membuat patung instalasi? Untuk apa, jika tidak bisa dijual? Haruskah kerja melukis terarah untuk menjadi pelukis? Tidakkah sebutan pelukis ini telah mengambil alih apa yang esensial: kerja? Tidakkah kita terjebak dalam teladan Eropa, yang mengenal gilda-gilda profesi –yang tak dikenal dalam sejarah sosial kita sendiri?
Baca juga: Perupa?
Kedua, tidakkah penilaian yang perupa sentris (juga sastrawan sentris), dan bukan karya sentris, ini merupakan distorsi –yang berkaitan dengan komodifikasi seni?
2. Saya ingin mengajak kita kembali menghidupkan kritik dan mengapresiasi kegiatan nonkomersial oleh galeri dan pameran.
3. Tak produktif jika kemudian percakapan balik ke persoalan ”siapa” –dalam hal ini diri saya. Soal ”pemula” dan bukan itu juga soal biodata seniman, dan dengan menganggap penting itu kita mengulangi distorsi yang lama. Seandainya ada satu karya dahsyat dari Ukraina, misalnya, dan kita tak tahu siapa perupanya, apakah dia pemula atau maestro yang baru saja meninggal, saya kira karya itu tetap akan kita nilai sebagai karya yang hebat.
4. Satu catatan kecil: seorang pengarang yang jadi perupa, sebagaimana seorang perupa jadi sastrawan, itu bukan gangguan bagi kehidupan seni dan sastra. Waktu perupa Danarto mulai membuat cerpen, karyanya disambut di kalangan sastra. Tak ada rasa cemas ada ”tenaga asing”. Toh, Trisno Sumardjo aktif dalam dua bidang kreatif, juga Nasjah Djamin dan Motinggo Boesje. Di Jerman, Gunter Grass itu bukan hanya novelis, tapi juga perupa.
Mari kita tenang. (*)
Saksikan video menarik berikut ini:
https://www.youtube.com/watch?v=4NrlbZ3ZKY4

Persebaya Surabaya Rayakan Kembalinya Bruno Moreira, Bonek Kompak Satu Suara
14 Kuliner Malam Bandung yang Paling Enak dan Selalu Ramai hingga Larut Malam dengan Suasana Seru dan Rasa Lezat
Bocoran Soal CAT Seleksi Manajer Koperasi Merah Putih 2026
7 Rekomendasi Kuliner Lontong Balap Paling Enak di Surabaya, Wajib Dicoba Sekali Seumur Hidup!
12 Restoran Sunda Paling Enak di Jakarta, Tempat Makan dengan Menu Tradisional Khas dari Tanah Pasundan
18 Rekomendasi Kuliner di Tangerang untuk Keluarga, Tempat Makan Favorit dari Tradisional sampai Modern
Link Live Streaming Semifinal Uber Cup 2026 Indonesia vs Korea Selatan dan Line-up Pertandingan
Wisata Kuliner Kabupaten Malang: 7 Makanan Khas yang Legendaris, Unik dan Autentik untuk Food Lovers
Dana Desa Dialihkan untuk Koperasi Merah Putih, Pembangunan Desa di Bantul Jalan dengan Skema Lain
50 Unit Mobil Koperasi Desa Merah Putih Tiba di Wonogiri, Dandim 0728/Wonogiri: Saran Saya Tidak Usah Digunakan Dulu Mobilnya
