
Teater Masker dari Afrizal Malna yang diunggah melalui akun Instagraml Dewan Kesenian Jakarta. (Dok. video Afrizal Malna for Jawa Pos)
JawaPos.com – Sejak Korona datang dan panggung pertunjukan beserta kerumunan penonton sementara diharamkan, para pelaku teater di Indonesia menunjukkan rupa-rupa respons kreatif. Senyatanya pandemi Covid-19 memunculkan ragam pertunjukan teater daring yang di masa sebelum wabah tak banyak dipikirkan. Jagat maya kini tak cuma marak penayangan dokumentasi pertunjukan teater, namun juga ramai dengan karya anyar dalam beragam bentuk.
Papermoon Puppet Theatre (Yogyakarta) menjadi kelompok teater pertama yang cepat merespons situasi pandemi. Mereka meluncurkan Story Tailor yang melibatkan apresiatornya sebagai pemberi ide tema cerita. Tema tersebut kemudian dijahit menjadi sebuah pertunjukan singkat dan dikirimkan kepada pemberi tema dalam bentuk video teater boneka. Ada puluhan tema yang masuk dalam Story Tailor dari para pecinta teater boneka. ’’Konsep pementasan ini adalah adaptasi dari Story Tailor yang pernah kami hadirkan di Jakarta, Malang, dan Bali beberapa waktu lalu,’’ terang Ria Papermoon, Direktur Artistik Papermoon Puppet Theatre.
Karya anyar yang lahir sebagai reaksi terhadap situasi pandemi juga dicetuskan Kamateatra Art Project di Malang. Mereka mengunggah beberapa video karya baru yang bertema tak jauh-jauh dari pandemi dan dampaknya melalui Youtube. Yang terbaru berjudul Stay at Home. Karya berdurasi lima menit ini dibuka dengan lantunan Nandit Ditnang yang dilagukan dalam bahasa Madura dan ditutup dengan senandung ngejung khas dari Madura. Bertahan di rumah karena serangan virus Covid, hidup seadanya, dan kemudian kelaparan adalah narasi di balik Stay at Home Kamateatra Art Project. ’’Karya ini melihat bagaimana wabah Korona mengubah banyak hal yang tidak selalu mudah dan dapat berisiko kelaparan hingga kematian,’’ kata Anwari dari Kamateatra Art Project.
Teater daring berdurasi mini juga disajikan oleh Afrizal Malna. Serial karya bertajuk Teater Masker dari Ketua Komite Teater Dewan Kesenian Jakarta itu menggunakan Instagram Dewan Kesenian Jakarta sebagai salah satu media penayangannya. Setidaknya sudah ada lima edisi Teater Masker yang jelas tak jauh dari hal-hal di sekitar wabah dan efeknya kini hingga bayangan seperti apa nanti situasi pasca Korona. Tiap nomor dilengkapi dengan deskripsi karya hingga memudahkan warganet memahami Teater Masker dari Afrizal yang bisa jadi tampak aneh, membingungkan, dan tak jelas bagi khalayak awam. (tir)

Kabar Gembira! Gubernur Banten Resmi Hapus Pajak Kendaraan Bermotor, Ini Syaratnya!
12 Spot Kuliner Bakso di Bandung yang Terkenal karena Tekstur Dagingnya yang Juara
10 Spot Mie Kocok di Bandung Terenak, Kuliner Khas dengan Kuah Kental dan Bumbu Tradisional
12 Restoran Seafood Terenak di Bandung, Surganya Kuliner Laut yang Tak Pernah Sepi Pengunjung
Dana Desa Terpangkas untuk Koperasi Merah Putih, Pembangunan Infrastruktur Sebagian Desa di Tulungagung Tak Sesuai Rencana
21 Rekomendasi Tempat Makan Dekat Stasiun Bandung, Kuliner Terbaik yang Cocok Saat Lagi Transit
15 Kuliner Bakso di Solo yang Selalu Jadi Incaran, dari yang Paling Legend hingga yang Kekinian
Pemkot Surabaya Buka Suara Terkait Rencana Penertiban Pasar Koblen
20 Tempat Makan Paling Recommended di Semarang, Banyak Pilihan Menu Kuliner yang Memanjakan Lidah
Lawan Arema FC Laga Terakhir Bruno Moreira? Intip Akhir Kontrak Kapten Persebaya Surabaya
