
Pedagang bunga merangkai buket bunga di pasar bunga Rawa Belong, Jakarta, Jumat (14/2/2020). Seiring perayaan hari Valentine, harga bunga mawar meningkat dari harga Rp.40.000 menjadi Rp.100.000 per buketnya. Hanung Hambara/Jawa Posa
BAGAIMANA sejatinya ihwal Valentine’s Day yang akhirnya dinobatkan sebagai Hari Kasih Sayang? Barangkali tak banyak yang mau tahu asal usulnya. Pokoknya sayang-sayangan. Padahal, kalau itu yang dipahami, mengapa tidak mengacu pada cerita Panji saja?
Sejarah Hari Valentine menjulur sejak zaman Romawi kuno. Kaisar Claudius II melarang pernikahan dan pertunangan karena dianggap menghambat spirit peperangan. Tapi, Valentinus, seorang rahib, tetap menikahkan pasangan secara diam-diam. Akhirnya, sang pendeta ditahan dan dieksekusi. Hukuman pada 278 Masehi itulah yang kemudian dikenang sebagai Hari Kasih Sayang.
Sedangkan cerita Panji adalah legenda klasik asli Nusantara. Isinya kisah romantis percintaan antara Raden Panji Asmarabangun dari Kerajaan Janggala dan Dewi Sekartaji atau Candrakirana dari Kerajaan Kadiri.
Kisah cinta mereka tidak berlangsung mulus, penuh halangan dan rintangan, petualangan dan penyamaran, hingga akhirnya kedua insan yang dijodohkan sejak kecil itu dapat mempersatukan dua kerajaan yang turun-temurun berseteru.
Cerita Panji adalah sebuah pusaka budaya Nusantara yang diabadikan dalam banyak dongeng, naskah-naskah kuno, cerita-cerita dalam berbagai seni pertunjukan dan tarian, digoreskan menjadi motif batik, bahkan diabadikan dalam relief di belasan candi di Jawa Timur. Cerita Panji yang berasal dari Jawa Timur menyebar ke seluruh Jawa, Bali, Nusa Tenggara, Sulawesi, Kalimantan, seluruh Sumatera hingga semenanjung Melayu, bahkan lebih populer di Malaysia, Kamboja, dan Thailand. Tidak kenal cerita Panji? Dongeng Ande-Ande Lumut hanyalah salah satu contohnya.
Ande-Ande Lumut, dalam dongeng itu, menolak lamaran para jelita: Kleting Abang, Kleting Biru, dan Kleting Ijo. Yang dia terima justru Kleting Kuning yang tampak buruk rupa dan beraroma busuk. Sebab, Ande-Ande Lumut tahu bahwa Kleting Kuning sesungguhnya adalah Dewi Sekartaji yang menyamar sebagaimana Ande-Ande Lumut sendiri adalah samaran Raden Panji Asmarabangun.
Cinta sejati sepasang kekasih itu akhirnya happy ending, sebagaimana ratusan versi cerita Panji lainnya. Bandingkan dengan roman Romeo-Juliet, Bangsacara-Ragapadmi, Sangkuriang, dan banyak kisah cinta lain yang selalu berakhir tragedi.
Sedemikian berharganya cerita Panji sehingga dinyatakan sebagai Memory of the World (MoW) oleh UNESCO atas keberadaan ratusan naskahnya yang disimpan di Perpusnas Indonesia, Malaysia, Kamboja, Belanda, dan Inggris.
Penetapan itu menambah jumlah MoW yang sudah didapatkan oleh Indonesia. Sebelumnya, ada arsip-arsip Dutch East India Company–VOC (ditetapkan pada 2003), naskah I La Galigo (2011), naskah Babad Diponegoro (2013), kitab Nagara Krtagama (2013), dan arsip-arsip Konferensi Asia-Afrika (2015). Bahkan, bersamaan dengan ditetapkannya cerita Panji sebagai MoW, pada 2017 UNESCO juga menetapkan arsip-arsip konservasi Borobudur dan arsip-arsip tsunami di Samudra Hindia.
Mengapa cerita Panji belum juga populer di masyarakat? Bahkan, cerita Panji ternyata masih kalah populer oleh Mahabarata atau Ramayana justru di tanah Jawa sendiri yang merupakan tempat kelahirannya.
Lihat saja, dalam budaya Jawa ada tradisi mitoni, yaitu ritual memperingati usia kehamilan 7 (tujuh) bulan dengan melukiskan sosok Raden Kamajaya dan Dewi Ratih pada dua cengkir gading (kelapa muda yang berwarna kuning). Harapannya, kalau nanti anak yang terlahir laki-laki akan setampan Raden Kamajaya dan kalau perempuan secantik Dewi Ratih. Tetapi, sepasang kekasih itu kadang juga dimaknai sebagai gambaran Raden Arjuna dan Dewi Sembadra. Sayang sekali, belum pernah ada yang mengaitkan lukisan sepasang kekasih di kelapa muda itu dengan pasangan Raden Panji Asmarabangun dan Dewi Sekartaji.
Jika Valentine’s Day berasal dari sejarah, cerita Panji sepenuhnya fiksi tapi terkait erat dengan peristiwa sejarah. Meminjam istilah Soenarto Timoer, cerita Panji dapat disebut ”dongeng yang disejarahkan”. Selintas seperti fakta sejarah tapi sesungguhnya murni fiksi sebagaimana Mahabarata dan Ramayana.
Tetapi, cerita Panji justru menjadi budaya tanding terhadap epos besar dari India itu pada zaman Majapahit. Dilukiskannya belasan relief di candi-candi di Jawa Timur yang semuanya dibangun menjelang akhir masa Majapahit adalah bukti konkret yang sulit dibantah.
Jadi, bukanlah hal yang mengada-ada saat kita mengaitkan Hari Valentine dengan cerita Panji. Senyampang hari-hari ini masyarakat, khususnya kaum muda, merayakan Hari Kasih Sayang yang mengacu pada peristiwa dipancungnya Valentinus di tanah Romawi, sesungguhnya inilah momen yang tepat untuk kembali mengenalkan bahwa bangsa kita memiliki pusaka budaya yang tak ternilai harganya. Akankah pusaka budaya Nusantara itu malah lebih dihargai di Thailand ketimbang di tanah kelahirannya sendiri?
Cerita Panji tidak akan populer manakala tidak disertai dengan produk ekonomi kreatif. Mementaskan seni pertunjukan dengan tema Panji adalah salah satu cara agar orang diingatkan lagi perihal makna kasih sayang sebagaimana yang disampaikan dalam cerita Panji. Tidak harus dikaitkan dengan kisah pemancungan seorang pendeta yang bernama Valentinus di zaman Romawi.
Kalau pada zaman Majapahit cerita Panji dipopulerkan lagi untuk menandingi budaya asing (India), mengapa sekarang ini cerita Panji tidak menjadi alternatif budaya mancanegara yang bernama Valentine’s Day?
Selamat Hari Kasih Sayang.
Salam Panji dan Sekartaji. (*)

Dana Desa Terpangkas untuk Koperasi Merah Putih, Pembangunan Infrastruktur Sebagian Desa di Tulungagung Tak Sesuai Rencana
50 Unit Mobil Koperasi Desa Merah Putih Tiba di Wonogiri, Dandim 0728/Wonogiri: Saran Saya Tidak Usah Digunakan Dulu Mobilnya
12 Spot Kuliner Bakso di Bandung yang Terkenal karena Tekstur Dagingnya yang Juara
15 Rekomendasi Restoran Terbaik Dekat Tugu Muda Semarang: Surganya Kuliner yang Wajib Dicoba Pelancong dan Wisatawan!
18 Rekomendasi Sarapan Pagi di Bandung Paling Sedap, Sederet Kuliner Mantap yang Wajid Disantap
Kabar Gembira! Gubernur Banten Resmi Hapus Pajak Kendaraan Bermotor, Ini Syaratnya!
10 Spot Mie Kocok di Bandung Terenak, Kuliner Khas dengan Kuah Kental dan Bumbu Tradisional
12 Restoran Seafood Terenak di Bandung, Surganya Kuliner Laut yang Tak Pernah Sepi Pengunjung
15 Kuliner Bakso di Solo yang Selalu Jadi Incaran, dari yang Paling Legend hingga yang Kekinian
Jadwal Thomas Cup 2026 Indonesia vs Aljazair, Siaran Langsung, dan Live Streaming: Laga Perdana Wajib Menang!
