alexametrics

Siap, Bang Jago!

Oleh EKA KURNIAWAN*
13 September 2020, 17:32:01 WIB

Apa hubungannya kehidupan ini dengan main game? Koreksi jika salah, tapi setiap main game, saya tak pernah bisa naik tingkat dua sebelum menaklukkan tingkat satu. Main game itu susah.

HIDUP? Hidup juga permainan. Bedanya, meskipun pelajaran di SD terseret-seret, asal dapat nilai biru, bisa naik kelas dan masuk SMP.

Jangan heran kalau banyak sarjana, tapi sikap dan pikirannya tak menunjukkan kesarjanaan. Menulis dan berpikir sama berantakannya dengan anak sekolah menengah.

Mau kerja atau memperoleh jabatan tertentu, tapi tak punya kualifikasi? Bisa lewat jalan belakang. Kalau bapakmu banyak uang, kadang gampang. Atau pamanmu punya kuasa, bisa diatur.

Kita bisa naik tingkat tanpa repot-repot menyelesaikan tingkat sebelumnya dengan sempurna. Di game umumnya tak bisa begitu. Jika kamu sudah menyelesaikan tingkat akhir, artinya kamu memang ’’bang jago’’!

Bang Jago! Coba, siapa yang tak ingin dianggap jago? Hidup ini keras. Orang bisa sikut sana-sikut sini untuk menjadi jago. Untuk berada di papan atas, untuk memperoleh pasangan paling aduhai, untuk mendapat gaji yang ideal.

Untuk alasan itulah saya tak pernah memandang remeh game dan orang-orang yang memainkan game. Juga sering berempati pada anak-anak yang dilarang bermain game oleh orang tua yang menganggap itu tak ada gunanya.

Seperti menonton film atau membaca novel, bermain game membawa kita ke dunia simulasi. Kita bisa membangun peradaban. Kita bisa menjadi pembalap motor. Kita bisa mengandaikan diri kita menjadi pelatih klub bola liga Eropa.

Bahkan, kita bisa membunuh orang jahat, musuh, atau zombi, yang tak mungkin dilakukan di kehidupan nyata tanpa menghadapi problem moral maupun hukum.

Ya, kita bisa juga bermain curang sebagaimana kita juga bisa bermain dengan jujur. Kita bisa berbohong sebagaimana kita bisa merundung orang lain. Bisa menciptakan persahabatan atau permusuhan.

Justru karena itulah, kita bisa belajar hidup di sana. Belajar menghadapi situasi di mana tak melulu kita peroleh di kehidupan nyata. Belajar di dunia yang diandaikan, dengan problem-problem yang bisa jadi tak jauh berbeda.

Bayangkan, seorang anak di dalam game daring harus bersaing dengan orang lain. Sialnya, saingannya bisa membeli senjata atau nyawa dengan uang betulan, sementara dirinya hanya mengandalkan keterampilannya karena uang saku terbatas.

Adil? Tidak. Tapi, ia harus menghadapinya. Harus belajar mengelola emosinya menghadapi ketidakadilan. Harus belajar kenapa ada orang kaya dan bisa menyelesaikan masalah dengan uang. Ketika menghadapi dunia nyata, ia mestinya tak kaget.

Dunia simulasi ini memang memberi godaan lain. Jika kita kecewa atau tak nyaman dengan kehidupan nyata, kita juga bisa kabur ke dunia itu. Di game, kamu bisa merasa memiliki kehidupan yang berbeda, bahkan lebih baik.

Sama saja dengan pembaca novel. Di novel-novel romansa model Harlequin, sebagai contoh, mungkin kita bisa memperoleh kehidupan romansa yang lebih indah daripada kehidupan rumah tangga kita sendiri yang hambar.

Di film petualangan, kita bisa membayangkan bagaimana rasanya berlomba memburu harta karun. Atau membayangkan bagaimana mendarat di planet asing. Di kehidupan nyata, kita tak beranjak dari kompleks rumah sendiri.

Menciptakan simulasi kehidupan bukan hal aneh bagi manusia, bahkan bisa dibilang merupakan bagian tak terpisahkan dari peradaban kita. Permainan yang dilakukan anak-anak di depan rumah pada dasarnya merupakan simulasi.

Demikian pula lukisan-lukisan, baik di dinding gua maupun yang dipajang di museum. Demikian pula puisi-puisi epik zaman lampau atau teater tragedi Yunani. Hal yang sama dilakukan para dalang dengan wayang-wayang di tangan mereka.

Yang paling menarik, ketika saya memikirkan tentang game, tiba-tiba saya melihat bahwa kehidupan ini adalah game itu sendiri. Persis seperti sebaris ayat yang pernah saya baca, bahwa kehidupan ini hanyalah permainan belaka.

Bayangkan, orang tak perlu belajar, tapi bisa ngomong tentang hal ihwal kesehatan dan pandemi. Tak punya laboratorium dan jejak penelitian, tapi bisa mengaku menemukan obat.

Bukan hanya itu. Sistem bisa membuat seorang penjual mebel seperti Pak Joko Widodo, dalam waktu yang nyaris singkat, menjadi penguasa negeri. Memimpin 270 juta orang, menguasai negeri seluas hampir 2 juta kilometer persegi.

Sebagai penguasa, saat wabah menerjang, boleh dong ia merasa ekonomi harus kenceng. Beberapa bulan kemudian, boleh juga ia bilang jangan restart ekonomi, kesehatan didahulukan. Hidup ini permainan, apalagi di tangan yang berkuasa.

Seorang pengajar seperti Pak Anies Baswedan, oleh aturan main, bisa menjadi gubernur. Di tangannya, nasib orang Jakarta juga ditentukan. Harus kerja di rumah, eh boleh ngantor dan ke mal, eh sekarang kerja di rumah lagi.

Mereka bisa melakukan itu karena permainan memberi mereka kuasa. Kita yang jelata mending main game yang lebih pasti aja, sambil sesekali bilang, ’’Siap, Bang Jago!’’ (*)


*) Penulis dan novelis, nominator The Man Booker International Prize 2016

Editor : Ilham Safutra




Close Ads