
ORANG TERDEKAT: Dari kiri, Meutia Hatta, Halida Hatta, dan Gemala Hatta memberikan keterangan dalam pameran Teladan Bung Hatta dan peringatan haul ke-44 di TPU Tanah Kusir, Jakarta.
Yayasan Hatta berkolaborasi dengan sejumlah organisasi untuk menggelar pameran bertajuk Teladan Bung Hatta di TPU Tanah Kusir, Jakarta, pada 14–17 Maret lalu. Pameran dalam skala lebih besar akan digelar Agustus mendatang.
PAMERAN Bung Hatta digelar dengan konsep amat sederhana. Bertempat di pendopo berukuran 3 x 9 meter, dengan perwajahannya yang tidak lebih dari 30 karya dokumentasi yang ditampilkan. Meski terkesan kecil, jejak-jejak itu tetap mampu menggambarkan betapa besar sosok pejuang kemerdekaan yang juga wakil presiden pertama RI itu.
Pameran dikuratori oleh sejarawan muda Erwien Kusuma. Erwien mendesain pameran dengan menampilkan foto, pemberitaan media, hingga percakapan komik-komik pendek tentang sosoknya. Konten yang dipilih hanya sebagian kecil dari banyaknya dokumentasi terkait Bung Hatta.
Di rumahnya, kata Erwien, ada ratusan bahkan ribuan foto dan dokumentasi lainnya. Namun, karena usia yang sudah lama, pengambil barang butuh kehati-hatian ekstra mengingat kondisinya yang rapuh. ’’Kita bikin sederhana karena keterbatasan,’’ ujar Erwien.
Apalagi, kondisi tempat pameran di TPU itu semi-outdoor dan berlangsung di musim hujan. Rencananya, Agustus nanti, pameran akan dipersiapkan jauh lebih besar. ’’Di bulan Bung Hatta itu bisa buat pameran yang lebih proper,’’ tutur Erwien.
Semua karya dalam pameran itu bisa disebut terbagi dalam enam klaster. Yakni, klaster keteladanan Hatta, sikap antikorupsi, karakter tidak mencampuradukkan keluarga dan jabatan, kesederhanaan, pewaris ilmu, serta kisah pemugaran makamnya.
MOMEN APIK: Para pengunjung memanfaatkan pameran Teladan Bung Hatta untuk mendokumentasikan beragam arsip yang ditunjukkan oleh keluarga wakil presiden pertama Republik Indonesia itu.
Di setiap klaster, Erwien menampilkan dokumentasi yang relevan. Dalam klaster sikap antikorupsi, misalnya, ditampilkan komik percakapan antara Hatta dan Gemala, anaknya yang sekolah di Australia. Suatu ketika, Gemala menulis selembar surat dengan menggunakan kop konsulat jenderal. Dalam surat balasan, Hatta menegur anaknya agar tidak memakai fasilitas negara untuk urusan pribadi, meski hanya selembar surat.
Dalam klaster lain, Erwien juga menampilkan kisah-kisah serupa. Dalam karakter tidak mencampuradukkan keluarga dan jabatan pun ditampilkan pembicaraan Hatta dengan sang istri, Rahmi. Dalam komik itu, Rahmi mempertanyakan kebijakan Hatta memotong nilai mata uang pada 19 Maret 1950 tanpa pernah bercerita. Padahal, kebijakan itu membuat tabungan Rahmi untuk membeli mesin jahit hilang separo secara nilai.
Lalu, di klaster kesederhanaan, Erwien menampilkan foto ikonik Bung Hatta yang tengah makan bersama keluarga dan kerabat. Namun bukan restoran atau rumah makan mewah, melainkan lesehan di tempat yang sederhana.
Selain sifat keteladanan, Erwien juga menampilkan sosok Hatta dalam potret sebagai sosok ayah. Misalnya, pada foto keluarga bersama istri Rahmi dan tiga anak perempuannya yang kala itu masih anak-anak. Yakni, Meutia Hatta, Gemala Hatta, dan Halida Hatta.
TERPUJI: Arsip perjalanan Bung Hatta beserta keluarganya berhaji dengan biaya sendiri.
Ada juga foto saat Hatta beraktivitas di perpustakaan pribadinya. Itu menjadi simbol warisan Hatta untuk ketiga anaknya. Sebab, sejak masih hidup, Hatta telah mendeklarasikan untuk tidak mewariskan harta, melainkan ilmu.
Putri sulung Bung Hatta, Meutia Hatta, mengatakan bahwa pameran itu digelar untuk mengenang sang ayah. Dia menilai keteladanan Hatta perlu untuk selalu diingat. Apalagi, saat ini bangsa Indonesia tengah menjalani momentum pesta demokrasi. ’’Anak-anak muda perlu juga panutan teladan,’’ ujar Meutia.
Sementara itu, Halida Hatta menceritakan alasan lokasi pameran. TPU Tanah Kusir merupakan tempat spesial. Dengan kiprahnya, Hatta sangat layak untuk disemayamkan di Taman Makam Pahlawan. Namun, dalam wasiatnya, Hatta ingin dimakamkan di tengah-tengah rakyat biasa. (far/c18/dra)

10 Mie Ayam Paling Enak di Jogja yang Selalu Ramai Pembeli, Kuah Gurih dan Porsi Melimpah
14 Rekomendasi Gado-Gado Paling Recomended di Surabaya, Cita Rasa Klasik Autentik dan Harga Ramah di Kantong
Berburu Oleh-Oleh Khas Pasuruan? Ini 15 Buah Tangan yang Cocok untuk Keluarga di Rumah Berdasarkan yang Paling Dicari Wisatawan
15 Pecel Paling Enak di Surabaya, Cita Rasa Sambal Kacang yang Autentik dan Ragam Lauk Tradisional yang Menggoda Selera
10 Tempat Makan Pempek Favorit di Bandung, Pilihan Menu Lengkap, Rasa Autentik, dan Perpaduan Cuko yang Kaya Rempah
Koperasi Desa Merah Putih di Pakuhaji Sepi dan Bangunan Sederhana, Dinkop UMKM Tangerang: Tidak Dibangun dari Dana Agrinas
5 Mall Terbaik dan Paling Cozy di Solo, Cocok untuk Menikmati Kuliner, Belanja, dan Nongkrong di Satu Tempat
13 Wisata Terbaik Dekat Stasiun Pasuruan, Buat Liburan Tak Perlu Jauh Tapi Tetap Seru
12 Tempat Kuliner Soto yang Jadi Favorit di Malang, Soal Rasa Jangan Ditanya Pasti Enak!
Tak Perlu lagi Pusing Parkir, Ini Rute Transjakarta Paling Pas ke Indonesia Arena GBK
