
SOSOK PENTING: Adegan Gayatri sang Sri Rajapatni sebelum berpulang pada Opera Majapahit: Gayatri sang Sri Rajapatni di Teater Jakarta, Taman Ismail Marzuki, Jakarta, Sabtu (8/10). (Hanung Hambara/Jawa Pos)
JawaPos.com – Opera Majapahit: Gayatri sang Sri Rajapatni memukau penonton yang hadir di Teater Jakarta Taman Ismail Marzuki (TIM), Sabtu (8/10). Pementasan berdurasi dua jam itu berhasil mengajak mereka yang hadir ”melompat” ke masa lalu, Nusantara abad ke-14.
Panggung yang artistik, tata lampu yang pas, koreografi para pemain, alat musik yang dimainkan seperti gamelan, tifa, serta kecapi, hingga bahasa Jawa kuno yang dipakai sebagai narasi betul-betul menghadirkan suasana Jawa berabad-abad silam.
Opera yang diinisiasi dan digarap sutradara Mhyajo itu menampilkan perjalanan hidup Gayatri, putri bungsu Raja Singasari, Raja Kertanegara dan Ratu Sri Bajradewi, dalam beberapa babak.
Mulai Gayatri lahir pada 1293 Masehi dengan nama Dyah Gayatri Dewi Kertanegara. Diceritakan, bungsu empat bersaudara itu tumbuh dewasa dengan cara berbeda dari gadis lainnya. Gayatri jarang bermain dengan teman sebayanya. Bahkan, dia juga tak suka bersolek sebagaimana perempuan lainnya.
Menginjak dewasa, Gayatri menjadi saksi keruntuhan Singasari setelah sang raja dibunuh Raja Kediri Jayakatwang. Lalu perjuangan Gayatri mewujudkan impian sang ayah mengembalikan kejayaan Singasari.
Kemudian dilanjutkan dengan kisah romansa Gayatri dengan Raden Wijaya yang berhasil menaklukkan Jayakatwang. Raden Wijaya kemudian menjadi raja pertama Majapahit dengan gelar Sri Kertarajasa Jayawardhana.
Dari rahim Gayatri ini lahirlah dua putri yang bernama Tribhuwanatunggadewi dan Rajadewi. Tribhuwanatunggadewi inilah yang kemudian melahirkan Hayam Wuruk, raja terbesar Majapahit.
Nah, sebelum tampil di Teater Jakarta TIM, pertunjukan itu pernah ditampilkan di Edinburgh Festival Fringe tahun lalu.
Sutradara pementasan Mhyajo menuturkan bahwa cerita legendaris dalam opera Majapahit: Gayatri sang Sri Rajapatni diadaptasi dari kitab Kakawin Nagarakretagama yang diubah Empu Prapanca (Dang Arcaya Nadendra). Mengapa Mhyajo tertarik mengangkat kisah Gayatri ke dalam pementasan opera? Menurut Mhyajo, hal itu disebabkan nama dan sosoknya.
Mhyajo mengaku jatuh cinta sejak kali pertama mendengar nama Gayatri ketika membedah kitab Kakawin Nagarakretagama bersama tiga penerjemahnya di Jogjakarta. ”Saya belum pernah sejatuh cinta itu ketika salah satu dari mereka (penerjemah) menyebut Gayatri,” papar Mhyajo.
Bermula dari situ, Mhyajo mulai mengulik atau meriset lebih dalam sejarah kehidupan Gayatri sejak 2019. Dia mengungkapkan bahwa sebetulnya ada delapan orang yang menjadi penerjemah kitab Kakawin Nagarakretagama.
Pelakon opera Majapahit: Gayatri sang Sri Rajapatni berjumlah 19 orang. Mereka yang terpilih merupakan pemain yang diaudisi dan dikurasi sejak dua tahun lalu. Para pemeran yang terlibat tidak hanya berasal dari Jakarta. Tapi juga dari luar daerah lainnya seperti Bali, Riau, dan Jawa.
”Faktanya, mereka bukan dari kota besar dan belum pernah tampil di gedung Teater Jakarta. Jadi, ada mix feeling antara gugup dan senang dari awal latihan,” ujar Mhyajo. Meski begitu, mereka berhasil memainkan peran masing-masing dengan sempurna.
Sementara itu, penata kostum opera Majapahit: Gayatri sang Sri Rajapatni RM Radinindra Nayaka Anilasutra menyampaikan bahwa busana yang dikenakan para pelakon memang sengaja dirancang khusus. Sebab, menyesuaikan standar atau ekspektasi Mhyajo selaku pelopor.
”Karena bungkusnya kontemporer, tapi jiwa Nusantara,” kata Nayaka. Nayaka dan tim membuat seluruh kostum tersebut secara detail dengan menyesuaikan identitas tokoh atau kerajaan masing-masing. Mulai pemilihan bahan hingga motif.
Dalam pementasannya, hanya Gayatri yang memakai busana warna mencolok. Yakni, emas. Sementara itu, busana pelakon lain mengusung konsep monokrom dan abu-abu. Nayaka menjelaskan, busana tersebut juga dipadukan dengan unsur modern agar kekinian.

50 Unit Mobil Koperasi Desa Merah Putih Tiba di Wonogiri, Dandim 0728/Wonogiri: Saran Saya Tidak Usah Digunakan Dulu Mobilnya
7 Tahun Tak Terkalahkan! Bernardo Tavares Wajib Jaga Harga Diri Persebaya Surabaya di Derbi Jawa Timur Lawan Arema FC
15 Rekomendasi Restoran Terbaik Dekat Tugu Muda Semarang: Surganya Kuliner yang Wajib Dicoba Pelancong dan Wisatawan!
14 Rekomendasi Kuliner Depok untuk Keluarga, Tempat Makan Nyaman dengan Menu Beragam
Jadwal Lengkap MotoGP Spanyol 2026! Misi Berat Veda Ega Pratama dan Mario Aji dari Barisan Belakang di Jerez
Pesan Haru dari Ernando Ari! Dukungan Diam-Diam Bikin Milos Raickovic Bangkit di Persebaya Surabaya
Terdepak dari Puncak Klasemen Liga Inggris, Bayang-bayang Kegagalan Juara di Akhir Musim kembali Menghantui Arsenal
18 Rekomendasi Sarapan Pagi di Bandung Paling Sedap, Sederet Kuliner Mantap yang Wajid Disantap
Profil Agnes Aditya Rahajeng, Pemenang Puteri Indonesia 2026
Kabar Gembira! Gubernur Banten Resmi Hapus Pajak Kendaraan Bermotor, Ini Syaratnya!
