Logo JawaPos
Author avatar - Image
Minggu, 6 Juni 2021 | 19.12 WIB

Dari Kanvas ke Kaus, Penanda Zaman untuk Seni yang Tak Berjarak

ADAPTIF: Seniman Eko Nugroho mengejawantahkan ide-ide seninya agar tak melulu hadir di atas kanvas. (MUHAMAD ALI/JAWA POS) - Image

ADAPTIF: Seniman Eko Nugroho mengejawantahkan ide-ide seninya agar tak melulu hadir di atas kanvas. (MUHAMAD ALI/JAWA POS)

Suka tak suka, pasar barang-barang seni memang berubah sesuai dengan eranya. Pelaku seni pun dituntut kreatif, inovatif, dan adaptif agar karya-karyanya panjang umur serta diingat hingga bergenerasi-generasi.

---

KESENIAN itu fleksibel. Bisa berada di mana pun dengan bentuk yang berbeda-beda,” kata seniman Eko Nugroho ketika ditemui di tokonya di kawasan Tegalrejo, Jogja, Rabu (2/6). Berangkat dari pemikiran seperti itu, Eko lantas mendiversifikasi karya untuk ide-ide berkeseniannya. Tidak sekadar menggambar di kanvas, tetapi juga membuat produk merchandise buat para penggemar seni.

Jika dibandingkan dengan karya di atas kanvas, produk merchandise ala Eko dengan merek Daging Tumbuh (DGTMB) lebih ramah kantong. DGTMB yang dikembangkan dan didesain Eko sejak 2008 masih bertahan dan malah semakin menuai respons bagus dari pasar.

Karya-karya Eko dalam merek DGTMB diwujudkan dalam bentuk kaus, tumbler, termos, tas, skateboard, dompet, masker, tas serut, jaket, topi, dan masih banyak lainnya. Meski begitu, produk-produk tersebut dicetak dalam jumlah terbatas. Sekitar 100–400 produk saja.

Eko juga punya alasan sendiri memvisualisasikan lukisannya ke dalam sebuah kaus. Dia ingin karyanya mudah dijangkau masyarakat luas. ”Jadi, nggak harus datang ke pameran dan bisa diadopsi dengan harga terjangkau oleh semua generasi,” ujar Eko.

Bisnis merchandise ini, kata Eko, sangat berpengaruh sekaligus menopang keberlangsungan hidup para pelaku seni. Apalagi, pada masa pandemi Covid-19, izin untuk segala acara yang menimbulkan kerumunan seperti pameran sangat dibatasi. ”Strategi marketing-nya diubah. Sekarang fokusnya jualan online,” jelas Eko.

Produk merchandise DGTMB berhasil menembus pasar Jakarta, Surabaya, dan Bali.

Pelukis yang identik dengan gambar mata dan topeng itu juga sering berkolaborasi dengan merek-merek lain. Bahkan, dia pernah digaet membuat scarf Louis Vuitton edisi Fall/Winter 2013. Meski begitu, melukis di atas kanvas menjadi prioritasnya sampai saat ini. ”Karena itu yang menghidupi saya,” ujar Eko.

Memproduki merchandise juga dilakukan seniman Farid Stevy. Berbeda dengan Eko yang kekuatan produknya terletak di gambar, merchandise Farid ”menghantam” penikmat seni dengan narasi kritik yang ditulis tangan. Libur Adalah Mitos dan Berkeringat demi Keluarga Pak Bos adalah dua kalimat di kaus Farid untuk mengejek kapitalisme.

Menurut dia, ada banyak hal yang bisa dicapai dari bisnis merchandise yang digelutinya. Pertama, mendukung sistem ekonomi keberlangsungan karyanya. ”Biar bisa beli alat kerja lagi,” papar Farid.

Kedua, mendistribusikan ide dan karyanya ke pasar yang lebih luas. Ketiga, menjadikan merchandise sebagai alat propaganda yang menarik.

”Kalau dipakai sebagai baju, akan jadi statement yang dibawakan si pemakai,” kata alumnus Institut Seni Indonesia Jogjakarta tersebut. Ideologi yang dituangkan dalam lukisan kanvas hanya bisa dilihat orang yang mendatangi pameran. Artinya, tidak bisa dibawa ke mana-mana.

Kendati demikian, Farid hanya mencetak produk brand pribadinya, FRDSTVY, sesuai dengan pesanan. Tujuannya, meminimalkan risiko dan sampah yang dihasilkan.

Untuk pengemasan produk, Farid juga tidak lagi menggunakan plastik. Bapak satu anak itu menggantinya dengan kotak kardus dan mendaur ulang bekas banner yang dibentuk menjadi tas.

Meski bisnisnya sudah berhasil menyentuh pasar di hampir seluruh kota di Indonesia, dia justru enggan mengembangkan bisnisnya lebih lebar lagi. Farid ingin berfokus menguatkan akar bisnisnya agar lebih bermanfaat untuk orang lain, terutama timnya. ”Logic bisnis seperti itu yang lebih menarik buat saya,” cetus Farid.

Pria 39 tahun itu berencana menyerahkan FRDSTVY kepada timnya mulai tahun depan. Dia ingin ”pulang” dan kembali berfokus menghasilkan karya-karya seni rupa.

Photo


ADAPTIF: Seniman Eko Nugroho mengejawantahkan ide-ide seninya agar tak melulu hadir di atas kanvas. (MUHAMAD ALI/JAWA POS)

Sementara itu, seniman Heri Dono hanya memproduksi merchandise jika ada kolaborasi atau event-event tertentu. Misalnya, saat pameran The Secret Code of Heri Dono 2017. Terakhir, dia memproduksi kaus pada akhir tahun lalu dengan mengangkat tema pandemi Covid-19 dalam pameran Kala Kili Incognito.

Heri berpendapat, project kaus membawa karya seni masuk ke ruang publik. Bagi dia, itulah bagian dari cara mengapresiasi seni yang disosialisasikan kepada masyarakat melalui kaus dengan harga terjangkau. ”Jadi, bukan lagi publik yang masuk ke ruang galeri. Nah, itu yang menarik,” ujar pria kelahiran Jakarta tersebut.

Mayoritas karya seni Heri memang ungkapan kritik. Begitu pun desain kaus yang digarapnya. Misalnya, tulisan Kala Kili Incognito yang terdapat di baju yang dikenakannya. Heri menjelaskan bahwa kala adalah waktu. Kili diambil dari bahasa India yang berarti dewa pencabutan nyawa dan Incognito berarti tidak bisa ditebak.

Baca juga: Kemanusiaan dan Spiritualitas Basoeki Abdullah

”Sebenarnya karya saya memang tidak berjarak dengan kondisi sosial, ekonomi, dan masyarakat. Seni sebagai kesaksian zaman,” tutur seniman yang tahun ini berusia 61 tahun tersebut.

Menurut Heri, bisnis merchandise bukan melulu tentang bagaimana produk itu bisa laku di pasaran. Tetapi, lebih menjadi pengingat dirinya dan orang lain. ”Semacam membangun kesadaran baru ke masyarakat,” tegas Heri.

Editor: Ilham Safutra
Tags
Artikel Terkait
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore