
WARM TONE: Dominasi warna putih serta abu-abu muda pada interior dengan sentuhan tone cokelat di bagian railing dan tangga.
Dinding trapesium yang ditumpuk. Jendela melengkung setengah lingkaran. Komposisi ”wajah” yang tidak konvensional. Di sebuah kompleks perumahan di kawasan Cibubur, Rumah Prairie tampil beda dan menonjol dengan fasad unik yang memukau.
BENTUK fasad yang out of the box itu mengadopsi gaya arsitektur Prairie, sebuah gaya arsitektur yang berkembang pada era sekitar 1900-an di Chicago, AS. ”Namun, kami tetap memasukkan unsur lokal, menyesuaikan dengan kondisi sekitar,” kata principal architect MMAR Studio Buyung Anggi kepada Jawa Pos Jumat (3/11).
Salah satunya terletak pada finishing susunan bata yang ditempel vertikal, menjadi identitas kuat dalam project hunian tersebut. Sentuhan lain adalah atap mirip yang sengaja dibuat ”menekuk-nekuk” untuk menyesuaikan iklim tropis.
Rumah itu dibangun pada lahan seluas 241 meter persegi yang memang berbentuk trapesium sehingga memberikan keleluasaan bagi arsitek untuk ”bermain-main” dengan desain, bentuk, tekstur, hingga interaksi cahaya dan bayangan.
CROSS VENTILATION: Double height-ceiling dan banyaknya bukaan lebar menjadikan suasana rumah cenderung adem dan tak perlu lampu di siang hari.
Untuk memperkuat arsitektur Prairie, perpaduan antara bentuk geometri dan tekstur dipertahankan. Demikian juga bentuk jendela-jendela besar sebagai elemen gaya Prairie. Dengan begitu, bangunan tersebut memiliki nuansa klasik sekaligus modern dalam waktu bersamaan.
Berbeda dengan fasad yang eksploratif dan ”complicated”, begitu masuk interiornya terasa tenang. Dinding putih dan ubin abu-abu muda mendominasi interior, dengan sedikit tone cokelat pada railing dan tangga. Beberapa shape melengkung pada dinding dan ”sudut” tangga memberi kesan ruangan yang timeless.
Ruangan tetap terang meski tanpa lampu di siang hari. Juga tetap terasa adem meski cuaca di luar sedang panas. Sebab, MMAR Studio mengonsep Rumah Prairie hemat energi. Cahaya bisa masuk lewat jendela-jendela kaca yang besar.
Penghawaan alami tercipta lewat cross-ventilation. ”Atap yang didesain tinggi membuat ruang bagian bawah tetap sejuk dan dingin,” paparnya. Double height-ceiling menjadikan suasana rumah cenderung adem. Bukan hanya bantuan AC.
Buyung memaparkan, di tempat awal gaya Prairie tercipta, seni arsitektur itu memang tidak diciptakan untuk kebutuhan bangunan massal. Untuk itu, gaya Prairie kurang cocok jika diterapkan langsung secara sama plek. Tetap butuh penyesuaian desain. ”Dengan mengedepankan konteks, interpretasi atap, dan ketukangan atau material lokal,” beber Buyung. (elo/c7/nor)
---
HIGHLIGHT
MATERIAL DAN TEKSTUR
WARM TONE: Dominasi warna putih serta abu-abu muda pada interior dengan sentuhan tone cokelat di bagian railing dan tangga.
Dinding yang diplester beton dengan beragam tekstur dan warna, ubin bata putih, atap aspal, dan ubin kayu menjadikan fasad yang tak lazim tapi outstanding.

Dana Desa Terpangkas untuk Koperasi Merah Putih, Pembangunan Infrastruktur Sebagian Desa di Tulungagung Tak Sesuai Rencana
50 Unit Mobil Koperasi Desa Merah Putih Tiba di Wonogiri, Dandim 0728/Wonogiri: Saran Saya Tidak Usah Digunakan Dulu Mobilnya
12 Spot Kuliner Bakso di Bandung yang Terkenal karena Tekstur Dagingnya yang Juara
15 Rekomendasi Restoran Terbaik Dekat Tugu Muda Semarang: Surganya Kuliner yang Wajib Dicoba Pelancong dan Wisatawan!
18 Rekomendasi Sarapan Pagi di Bandung Paling Sedap, Sederet Kuliner Mantap yang Wajid Disantap
Kabar Gembira! Gubernur Banten Resmi Hapus Pajak Kendaraan Bermotor, Ini Syaratnya!
10 Spot Mie Kocok di Bandung Terenak, Kuliner Khas dengan Kuah Kental dan Bumbu Tradisional
12 Restoran Seafood Terenak di Bandung, Surganya Kuliner Laut yang Tak Pernah Sepi Pengunjung
15 Kuliner Bakso di Solo yang Selalu Jadi Incaran, dari yang Paling Legend hingga yang Kekinian
Jadwal Thomas Cup 2026 Indonesia vs Aljazair, Siaran Langsung, dan Live Streaming: Laga Perdana Wajib Menang!
