
UARA: Eileen Suhardjo meluapkan ekspresi kegembiraan setelah memastikan diri merebut gelar Queen of the Mountain Jawa Pos Cycling Bromo 100 KM kemarin.
JawaPos.com - Event bersepeda Jawa Pos Cycling Bromo 100 KM mungkin merupakan event paling menyakitkan di Indonesia. Namun, event tersebut terus menjadi yang paling memikat dan yang terbesar. Sabtu kemarin (25/3) sebanyak 1.170 cyclistberusaha menaklukkan tanjakan Wonokitri. Mereka mewakili 15 negara, 109 kota di Indonesia, dan 287 komunitas. Tidak ada event bersepeda lain yang bisa mengundang minat sebanyak itu di tanah air.
Padahal, tantangannya tidak pernah berubah. Tanjakan hampir 40 km dari Pasuruan menuju Wonokitri sangatlah menyiksa. Apalagi, kemarin temperatur kembali tidak bersahabat, mencapai 37 derajat Celsius dengan tingkat kelembapan tinggi. Bukan hanya kekuatan kaki dan stamina yang diuji, ketangguhan mental juga mendapat cobaan berat.
"Cyclist di sini benar-benar tangguh. Panas dan kelembapannya benar-benar menyiksa," ungkap Benjamin Schultz, peserta dari Melbourne, Australia.
Jawa Pos Cycling Bromo 100 KM 2017 merupakan tahun keempat penyelenggaraan. Jumlah peserta terus bertambah. Dari 500 menjadi 750, lalu 987, dan tahun ini 1.170 peserta. Seperti biasa, eventdimulai dari markas Kepolisian Daerah Jawa Timur di Surabaya. Rute 60 km pertama adalah parade datar menuju pendapa Kabupaten Pasuruan. Dari sana, peserta mulai menanjak, lalu beristirahat dulu di Desa Puspo sebelum menuju puncak Wonokitri di ketinggian 2.000 meter.
Tidak semua peserta bisa mencapai puncak sesuai dengan batas waktu. Meski demikian, banyak peserta yang tetap berjuang menuju finis. Meski, rangkaian acara di puncak telah berakhir dan banyak peserta lain sudah turun.
Mereka yang finis lebih dulu adalah mereka yang serius mengikuti kompetisi King of the Mountain (KOM) dan Queen of the Mountain (QOM) yang dihitung sejak Desa Puspo menuju Wonokitri. Pada persaingan KOM yang terbagi dalam beberapa kelompok umur, dominasi atlet masih terjadi. Persaingan yang paling ditunggu hasilnya adalah kompetisi QOM karena nyaris tidak ada atlet sebagai pesertanya.
Tahun ini kompetisi QOM didominasi cyclist dari Jakarta. Eileen Suhardjo, 35, yang tahun lalu finis kedua berhasil melakukan pembalasan tahun ini, menjadi juara. Eileen yang juga anggota Women's Cycling Community (WCC) Jakarta mengalahkan cyclist asal KGB Christin Wijaya di posisi kedua.
Awalnya, saat start QOM, Eileen dan Christin menanjak bersamaan. Namun, bersepeda sejajar itu hanya bertahan hingga sekitar 5 kilometer terakhir sebelum finis. Tanpa diduga, Christin mengalami kram.
Akibatnya, Christin tidak mampu mengayuh secepat sebelumnya. Di sisi lain, Eileen terus bertahan dan mengayuh dengan kecepatan konstan. Meski napasnya tersengal-sengal, Eileen pantang menyerah.
Para penduduk di pinggir lintasan yang menyaksikan pun meneriaki Eileen dan menyemangatinya. Saat itu tinggal 100 meter lagi tersisa dari garis finis. Air muka Eileen terlihat bahagia saat berhasil menjadi finisher perempuan pertama.
Di garis finis, dia sudah disambut tiga anaknya. Sang suami, Edo Bawono yang menjadi road captain,tidak lama kemudian menyusul finis dan menyelamati Eileen.
Eileen menyatakan, dalam keikutsertaannya yang kedua ini, dirinya bisa lebih paham tentang karakter rute dan tanjakannya. Catatan waktunya kali ini cukup baik, 1 jam 46 menit 20 detik. "Target saya ingin memperbaiki catatan waktu tahun lalu. Latihan saya sebelum Bromo 100 biasanya di Sentul," ungkapnya.
Bumbu menarik juga terjadi dalam perebutan King of Mountain alias KOM. Hari Fitrianto (Hendra Bolos Sewu) memecahkan rekor mulai start KOM hingga finis dengan catatan waktu yang mencengangkan, yakni 59 menit 5 detik saja.
Itu tidak mengherankan. Sebab, Hari merupakan salah satu atlet sepeda Jatim yang berlaga di PON 2016 Jawa Barat. "Cuaca kali ini memang panas, tapi sudah biasa. Rutenya, menurut saya, masih berat di tempat saya biasa berlatih di B29 Lumajang," katanya.
Yang juga luar biasa adalah performa Gubernur NTB Muhammad Zainul Majdi. Dia tangguh dan finis solid layaknya cyclist sejati. Zainul finis sekitar pukul 12.30 tanpa loading sama sekali.
"Peserta lebih dari 1.000 ini luar biasa untuk sebuah event bersepeda. Jalan raya tertib, clean, dan clear. Panitia rapi dan makanan melimpah. Medannya menantang karena tanjakannya cukup panjang," ungkapnya. "NTB ingin banyak belajar dari event-event Jawa Pos," imbuhnya.
Kepala Korps Lalu Lintas (Korlantas) Polri Royke Lumowa juga menyelesaikan tantangan dengan baik. Dia menyatakan senang dan bersyukur bisa mencapai garis finis sekitar pukul 13.30 dan tanpa loading sama sekali. "Luar biasa berat. Medannya berat. Apalagi badan saya hari ini kurang fit karena flu," katanya. (nes/tif/c5/nur)

Kabar Gembira! Gubernur Banten Resmi Hapus Pajak Kendaraan Bermotor, Ini Syaratnya!
12 Spot Kuliner Bakso di Bandung yang Terkenal karena Tekstur Dagingnya yang Juara
10 Spot Mie Kocok di Bandung Terenak, Kuliner Khas dengan Kuah Kental dan Bumbu Tradisional
12 Restoran Seafood Terenak di Bandung, Surganya Kuliner Laut yang Tak Pernah Sepi Pengunjung
Dana Desa Terpangkas untuk Koperasi Merah Putih, Pembangunan Infrastruktur Sebagian Desa di Tulungagung Tak Sesuai Rencana
21 Rekomendasi Tempat Makan Dekat Stasiun Bandung, Kuliner Terbaik yang Cocok Saat Lagi Transit
15 Kuliner Bakso di Solo yang Selalu Jadi Incaran, dari yang Paling Legend hingga yang Kekinian
Pemkot Surabaya Buka Suara Terkait Rencana Penertiban Pasar Koblen
20 Tempat Makan Paling Recommended di Semarang, Banyak Pilihan Menu Kuliner yang Memanjakan Lidah
Lawan Arema FC Laga Terakhir Bruno Moreira? Intip Akhir Kontrak Kapten Persebaya Surabaya
