
BAHAGIA: Mantan petenis Angelique
Angelique ”Angie” Widjaja pernah menjadi petenis tumpuan tanah air. Meski karirnya tak terbilang panjang, peringkat mentereng level WTA pernah digapai sosok asal Bandung tersebut. Setelah meninggalkan dunia tenis, kehidupan Angie nyaris berubah drastis. Simak wawancara wartawan Jawa Pos RIZKY AHMAD FAUZI dengan Angie.
---
Halo, apa kabar?
Hai. Aku baik. Thank you.
Setelah pensiun pada 2008, apa saja aktivitas yang Anda jalani saat ini?
Sekarang kebanyakan sibuk ngurusin urusan rumah tangga aja. Terutama ngurusin Ashton Gabriel Hadikrisno dan Kelly Grace Hadikrisno, anak kembar aku, hahaha. Selain itu, aku aktif baking (hobi bikin kue/roti, Red).
Apakah Anda masih sering memantau tenis Indonesia, khususnya di sektor putri? Bagaimana penampilan seperti Aldila Sutjiadi hingga Priska Madelyn Nugroho?
Sejujurnya, karena sudah tidak terlalu mengikuti pertenisan, jadi saya tidak tahu banyak. Namun, kendala dari dulu yang saya lihat tetap sama. Mereka tidak memiliki kesempatan buat ikut banyak turnamen karena kepentok dengan dana (tidak ada sponsor, Red).
Namun, apakah ada perkembangan secara keseluruhan di cabang tenis saat ini?
Aku lihat perkembangannya memang perlahan, tetapi mulai ada perkembangan sedikit demi sedikit.
Apa masukan Anda untuk perkembangan tenis Indonesia?
(Induk organisasi, Red) harus beri banyak kesempatan para petenis untuk sering bertanding di kancah internasional. Sebab, latihan mental semua dari turnamen dan ranking WTA hanya bisa didapat dari turnamen internasional.
Anda masih ingat momen yang paling tidak terlupakan selama menjadi petenis?
Ketika juara Wimbledon Junior 2001. Saat itu saya sendirian. Tidak ada yang ikut dari keluarga maupun pelatih pribadi saya. Saya bisa menaikkan bendera Indonesia di London sendirian ketika juara. Kedua orang tua saya bahagia karena sangat bangga. Saat itu keadaan papa saya (Rico Widjaja, Red) habis operasi jantung besar. Belum pulih 100 persen.
Kembali ke masa kini. Semasa pandemi ini, Anda sibuk apa saja?
Sibuk banget ngurusin anak-anak. Seperti yang lain, mereka online school selama pandemi. Termasuk tadi baking. Saya tidak keluar rumah selama pandemi. Saya sudah lima bulan tidak ke mana-mana, belum berani buat ketemu sama orang. Kalaupun terpaksa keluar rumah, saya sangat menjaga protokol Covid-19.
Terkait dengan hobi, kenapa kok suka baking?
Baking itu ternyata hobi saya yang terpendam, hehehe. Selama saya sibuk di tenis, kan tidak ada waktu di dapur. Nah, setelah stop itu, saya punya banyak waktu untuk iseng belajar masak dan baking. Ternyata aku enjoy banget.
Biasanya roti/kue apa yang dibuat?
Buat roti, chiffon, donat, macem-macem sih. Biasanya dari ide saya sendiri.
Makanan yang dibuat juga dijual?
Lebih banyak untuk sendiri. Tapi, ada yang dijual juga sih.
Untuk kedua buah hati, apakah ada rencana diarahkan menjadi petenis?
Kalau saya sejujurnya terserah mereka. Kalau mereka suka dan enjoy, pasti akan saya arahkan. Tapi, kalau tidak, saya tidak bakal memaksakan.
Saksikan video menarik berikut ini:
https://www.youtube.com/watch?v=ldVvC5RU3cE

Persebaya Surabaya Rayakan Kembalinya Bruno Moreira, Bonek Kompak Satu Suara
14 Kuliner Malam Bandung yang Paling Enak dan Selalu Ramai hingga Larut Malam dengan Suasana Seru dan Rasa Lezat
Bocoran Soal CAT Seleksi Manajer Koperasi Merah Putih 2026
7 Rekomendasi Kuliner Lontong Balap Paling Enak di Surabaya, Wajib Dicoba Sekali Seumur Hidup!
12 Restoran Sunda Paling Enak di Jakarta, Tempat Makan dengan Menu Tradisional Khas dari Tanah Pasundan
18 Rekomendasi Kuliner di Tangerang untuk Keluarga, Tempat Makan Favorit dari Tradisional sampai Modern
Link Live Streaming Semifinal Uber Cup 2026 Indonesia vs Korea Selatan dan Line-up Pertandingan
Wisata Kuliner Kabupaten Malang: 7 Makanan Khas yang Legendaris, Unik dan Autentik untuk Food Lovers
Dana Desa Dialihkan untuk Koperasi Merah Putih, Pembangunan Desa di Bantul Jalan dengan Skema Lain
50 Unit Mobil Koperasi Desa Merah Putih Tiba di Wonogiri, Dandim 0728/Wonogiri: Saran Saya Tidak Usah Digunakan Dulu Mobilnya
