Logo JawaPos
Author avatar - Image
Jumat, 22 Juni 2018 | 00.02 WIB

Sempat Mohon Ampun Dipukuli Ibunya, Syaiful Akhirnya Tewas

Suasana duka tampak menyelimuti rumah korban di Dusun Tempur, Desa Pagak, Kecamatan Pagak, Kabupaten Malang. - Image

Suasana duka tampak menyelimuti rumah korban di Dusun Tempur, Desa Pagak, Kecamatan Pagak, Kabupaten Malang.

JawaPos.com - Suasana duka tampak menyelimuti rumah korban di Dusun Tempur, Desa Pagak, Kecamatan Pagak, Kabupaten Malang. Syaiful Anvar, 8, tewas di tangan ibu kandungnya, Ani Musrifah, 32, (bukan 42).


Syaiful tewas setelah dipukuli membabi buta oleh ibunya, Selasa (19/6) sore. Usai dibawa ke Puskesmas Pagak dan dirujuk ke RS, bocah yang dikenal lincah ini menghembuskan nafas terakhir saat perjalanan mendapatkan perawatan di RSUD Kanjuruhan, Rabu (20/6) dini hari, sekitar pukul 03.00


Rumah yang bisa dibilang cukup bagus dengan cat warna kuning dominasi ungu itu, tampak sepi. Hanya terlihat beberapa saudara dan pelayat datang.


Tidak jauh dari rumah korban, terdapat kediaman Marsilan, 50. Dia merupakan paman kandung Syaiful, dan juga orang yang melaporkan kejadian ini ke Polres Malang.


Fakta baru terungkap terkait dengan kematian Syaiful, seperti yang Selasa (19/6) petang, Syaiful diseret oleh ibunya dari halaman ke dalam rumah. Saat itu, siswa SDN Pagak 4 itu pulang dalam kondisi kotor usai bermain layangan.


Begitu di dalam rumah, pintu segera ditutup rapat. Ani yang dikenal tidak akrab dengan tetangga itu lantas memukuli korban secara membabi buta.


Bahkan, Marsilan bisa mendengar suara debum dari dalam rumah. Dari balik jendela, dia melihat kemenakannya ini dipukuli oleh Ani.


"Sampai dengar suara bak buk bak buk. Saya kira dia dipukuli, tapi nggak tahu entah dibenturkan tembok atau tidak, nggak tahu. Yang jelas terdengar suara seperti orang digebuki," kata Marsilan, ditemui di rumahnya, Kamis (21/6).


Bahkan, laki-laki yang sehari-hari bekerja sebagai kuli bangunan ini sempat mendengar teriakan minta tolong dari dalam rumah Ani. Namun, karena pintu terkunci rapat, dia tidak dapat menolong Syaiful.


"Ada teriakan tolong-tolong, sambil bilang uwis buk, uwis buk (sudah Bu, sudah Bu). Ampun," kata Marsilan mengikuti ucapan korban.


Teriakan korban dan suara gebukan itu sempat terhenti selama beberapa waktu. Marsilan mengira, Ani sudah puas memukuli korban.


Namun, dugaannya salah. Ternyata di dalam kamar mandi, Ani kembali memukul korban menggunakan gayung dan mengguyur Syaiful dengan air.


Sekitar pukul 21.00, masih di hari yang sama, Ani tiba-tiba saja mengetuk pintu rumah Marsilan. Dia minta tolong karena mendapati anaknya dalam kondisi kejang.


Saudara yang tengah berkumpul segera mendatangi kamar tengah, tempat Syaiful berada. Marsilan segera menyarankan agar dibawa ke layanan kesehatan terdekat.


"Saya bilang harus segera dibawa ke kesehatan. Jika tidak bisa meninggal anak ini, karena sudah kejang. Bahkan matanya sudah terbelalak dengan pandangan kosong," bebernya menggunakan bahasa Madura bercampur Jawa.

Editor: Yusuf Asyari
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore