
Ilustrasi Jakarta.
JawaPos.com - Kota DKI Jakarta diakui menjadi pusat kota yang diharapkan membawa perubahan bagi Indonesia. Namun, sayangnya masih saja ada hal-hal yang masih menjadi kendala dalam pengembangan kota.
Sejarawan dari Universitas Indonesia (UI), Bondan Kanumoyoso mengatakan zaman sekarang semua orang orientasinya sudah komersial. Tidak lagi tujuannya itu idealisme. Seperti, tujuan pembangunan jalan yang lebih kepada pembangunan ekonomi murni semua terkomersialisasi.
Bondan melihat selain perekonomian, penataan kota di Jakarta masuk dalam titik jenuh. Katakan, penambahan infrastruktur yang ada dalam penambahan jalan pun tidak memecahkan masalah legendaris Jakarta, kemacetan.
"Kalau nambah jalan sebanyak-banyaknya tidak menyelesaikan masalah saya kira. Di Jakarta laju kendaraan lebih cepat dibanding laju pembangunan infrastruktur jadi yang perlu dipikirkan itu regulasi," jelas Bondan kepada JawaPos.com, Rabu (20/6).
"Penataan bagaimana mengatur supaya orang tidak menggunakan jalan itu sendiri tentu bisa dibuat cara," imbuhnya.
Berbagai hal dapat diatur, Bondan mengambil contoh dalam kepemilikan kendaraan berlakukan sistem pajak yang kemudian mengatur juga kepemilikan STNK dan SIM. Jadi tidak semua orang menggunakan jalan semaunya sendiri.
"Jadi regulasi diperlukan. Kemudian, peningkatan transportasi umum termasuk penyediaan transjakarta dan 2019 MRT LRT saya lihat kita belum bisa lihat juga luar biasanya dampaknya," tuturnya.
Memang diakui Bondan, hal tersebut bisa sedikit banyak mengurangi tapi tidak bisa terlalu diharapkan untuk mengurangi masalah di Jakarta. Menurutnya, harus ada suatu peraturan yang komperehensif artinya menata ulang berbagai peraturan yang berlaku dalam lalu lintas di kota Jakarta
"Ya saya berharap Jakarta bisa lebih toleran lebih memperhatikan keseragaman karena kota Jakarta ini bukan hanya disediakan untuk sekelompok masyarakat tertentu, agama tertentu. Ini kotanya bangsa Indonesia, dari mode etnis agama dan golongan apapun," harap Bondan.
"Sudah seharusnya Jakarta merepresentasikan heterogitas di Indonesia. Dengan demikian kita melihat Jakarta, kita bisa melihat Indonesia dalam bentuk yang Bhineka," tandasnya.

Dana Desa Terpangkas untuk Koperasi Merah Putih, Pembangunan Infrastruktur Sebagian Desa di Tulungagung Tak Sesuai Rencana
50 Unit Mobil Koperasi Desa Merah Putih Tiba di Wonogiri, Dandim 0728/Wonogiri: Saran Saya Tidak Usah Digunakan Dulu Mobilnya
12 Spot Kuliner Bakso di Bandung yang Terkenal karena Tekstur Dagingnya yang Juara
15 Rekomendasi Restoran Terbaik Dekat Tugu Muda Semarang: Surganya Kuliner yang Wajib Dicoba Pelancong dan Wisatawan!
18 Rekomendasi Sarapan Pagi di Bandung Paling Sedap, Sederet Kuliner Mantap yang Wajid Disantap
Kabar Gembira! Gubernur Banten Resmi Hapus Pajak Kendaraan Bermotor, Ini Syaratnya!
10 Spot Mie Kocok di Bandung Terenak, Kuliner Khas dengan Kuah Kental dan Bumbu Tradisional
12 Restoran Seafood Terenak di Bandung, Surganya Kuliner Laut yang Tak Pernah Sepi Pengunjung
15 Kuliner Bakso di Solo yang Selalu Jadi Incaran, dari yang Paling Legend hingga yang Kekinian
Jadwal Thomas Cup 2026 Indonesia vs Aljazair, Siaran Langsung, dan Live Streaming: Laga Perdana Wajib Menang!
