Logo JawaPos
Author avatar - Image
Selasa, 19 Juni 2018 | 23.12 WIB

Iwan Bule Jadi Pj Gubernur Jabar, Timses Asyik: Lucu

M Iriawan ketika masih menjadi Kapolda Metro Jaya dengan pangkat Irjen. - Image

M Iriawan ketika masih menjadi Kapolda Metro Jaya dengan pangkat Irjen.

JawaPos.com - Pelantikan Komjen M. Iriawan sebagai penjabat (Pj) gubernur Jawa Barat juga memantik kegaduhan politik di provinsi tersebut. Kubu PDI Perjuangan (PDIP) yang mengusung pasangan calon gubernur-wakil gubernur Hasanah (Tubagus Hasanuddin-Anton Charliyan) menyambut baik penunjukan Iriawan.


Sebaliknya, kubu Partai Gerindra menolak dengan keras. Ketua Fraksi PDIP DPRD Jabar Waras Wasisto yang sekaligus anggota tim pemenangan Hasanah menyatakan, sosok Iriawan sangat tepat ditunjuk presiden. Sebab, netralitas dan integritasnya sudah teruji.


"Jabar memiliki peran besar di tingkat nasional. Sebagai putra daerah Jabar, Iriawan tentu sudah paham karakteristik tanah Pasundan. Pengalaman beliau tiga kali menjabat Kapolda di NTB, Jabar, serta Metropolitan DKI Jakarta menjadi modal dasar kuat," tuturnya kemarin (18/6).


Waras berharap kehadiran pria yang akrab disapa Iwan Bule itu mampu menciptakan kondusivitas Jabar. Terutama menjelang pilgub dan pilbup/pilwali serentak. Dia yakin Iriawan mampu melanjutkan program pembangunan Gubernur Ahmad Heryawan bekerja sama dengan DPRD Jabar.


Waras juga percaya Iriawan akan bertindak netral dalam pilgub. Dia berharap kehadiran Iriawan membuat pelaksanaan pilgub dan pilbup/pilwali serentak berjalan kondusif, aman, nyaman, dan tenteram.


Pernyataan berbeda disampaikan Mulyadi, ketua DPD Partai Gerindra Jabar. Dia mengkritik penunjukan Iriawan. Mulyadi bahkan meminta ketua dan anggota Fraksi Gerindra DPRD Jabar tidak menghadiri pelantikan Pj gubernur kemarin.


"Dengan segala pertimbangan, atas dasar aturan dan konsultasi dengan DPP bidang hukum, saya meminta seluruh anggota Fraksi Gerindra DPRD provinsi tidak menghadiri acara pelantikan Pj gubernur Jabar," cetus pria yang juga tim pemenangan paslon nomor 3 Asyik (Sudrajat-Akhmad Syaikhu) itu.


Imam Budi Hartono, ketua tim pemenangan Asyik dari PKS, menilai pelantikan tersebut sebagai upaya pemerintah mencederai demokrasi.


"Lucu, sepertinya Polri diberi tugas di luar tupoksinya. Jadi menimbulkan banyak pertanyaan negatif ada apa dengan pemerintah pusat," sindirnya.


Dia bahkan menuding pemerintah pusat merendahkan SDM sendiri karena tidak bisa mengurus daerah. "Atau ada kepentingan politik menjelang pilkada?" kata dia.


Menurut Imam, beberapa alasan Mendagri menempatkan polisi sebagai Pj gubernur Jabar sangat sulit dipahami. Dia kembali mengingatkan Mendagri bahwa awal 2018 sudah muncul penolakan publik pada Pj gubernur dari kepolisian.


"Sudah beberapa kali pilkada aman-aman saja, kenapa dibuat isu yang kurang baik untuk Jabar oleh pejabat? Ada apa sebenarnya?" kritik dia. 

Editor: Ilham Safutra
Tags
Artikel Terkait
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore