
Yusuf Nugraha berbincang dengan salah satu staf klinik pada Senin lalu (4/6) di Cianjur.
Selain subsidi silang untuk membantu pasien tidak mampu, lewat kliniknya Yusuf Nugraha mengadakan program berbagi pangan untuk tunawisma dan pengolahan plastik yang digawangi para ibu. Bermula dari ruangan 3 x 2 meter dan uang Rp 700 ribu.
TRI MUJOKO BAYUAJI, Cianjur
---
BEGITU selesai diperiksa, si pasien langsung merogoh kantong bajunya yang tampak lusuh. Terlihatlah selembar Rp 50 ribu yang hendak dibayarkan kepada Yusuf Nugraha Yusuf, dokter sekaligus pemilik Klinik Harapan Sehat di Cianjur, Jawa Barat, itu, menolak dengan halus. Sebab, sedari awal berdiri, klinik tersebut memang diniatkan untuk memberikan pengobatan gratis bagi warga tidak mampu.
Tapi, respons sang pasien mengagetkan Yusuf. "Dia bilang, saya sudah kumpulkan uang selama berminggu-minggu, uangnya sudah terkumpul, dan saya mampu," ujar Yusuf menirukan pasien itu ketika ditemui Jawa Pos Senin lalu (4/6).
"Tamparan" tersebut langsung menyadarkan Yusuf. Tetap perlu seni tersendiri untuk merealisasikan niat baik. Dari sana lahirlah ide mengganti pembayaran bagi warga tidak mampu dengan bacaan satu juz Alquran.
Responsnya ternyata bagus. Begitu pula halnya ketika, hasil diskusi Yusuf dengan sang istri Dewi Kartika Sari, disodorkan alternatif lain: berobat dengan membayar botol bekas. Hingga tak terasa klinik di Desa Sukasari, Kecamatan Cilaku, itu telah berusia 10 tahun sekarang. Sudah berkembang jauh dalam segala hal. Termasuk bangunan.
Yusuf telah memperluas klinik tersebut ke depan di bagian resepsionis, bagian rawat jalan, hingga belakang rumah dengan membeli lahan tetangga. Total menempati lahan sekitar 1.000 meter persegi. Tenaga medisnya pun sudah bukan Yusuf sendiri. Sang dokter juga memiliki 50 karyawan.
Padahal, kali pertama berdiri pada 2008, klinik itu hanya menempati ruangan 3 x 2 meter di salah satu kamar rumah kakak Yusuf di desa kampung halamannya. "Waktu itu karyawannya cuma saya sendiri, istri, ibu saya, dan satu karyawan obat," ungkap dokter 36 tahun lulusan Universitas Jenderal Achmad Yani Cimahi tersebut.
Yang tak pernah berubah adalah komitmen membantu warga tidak mampu. Komitmen yang lahir dari kondisi masa kecil Yusuf sekeluarga. Setelah ayah dan ibunya bercerai. Ketika Yusuf, anak bungsu di antara lima bersaudara, masih berusia 5 tahun.
Sang ibu Duning Burdaningsih mengambil alih tugas merawat kelima anak sendirian. Dengan hanya berbekal gaji sebagai guru sekolah dasar. Dengan segala keterbatasan itu, ibunda Yusuf tetap bercita-cita agar semua anaknya bisa menjadi sarjana. Caranya, setiap awal bulan, Duning selalu menyampaikan penghasilannya kepada kelima anaknya. Dan kemudian membaginya sesuai kebutuhan tiap-tiap anak.
Padahal, gaji Duning ketika itu hanya Rp 750 ribu. "Dibagi untuk SPP dan kebutuhan hidup lain. Kalau kurang, ibu pinjam koperasi, dicicil, jadi semua transparan. Untuk tambahan, beras jatah PNS juga kami jual," kenang ayah dua anak, Muhammad Zarbia dan Maraya Zara, tersebut.
Yang jadi persoalan adalah saat ada anggota keluarga yang sakit. Sebab, itu berarti ada tambahan dua biaya sekaligus. Untuk mengobati penyakitnya (dokter dan obat-obatan). Juga untuk membayar biaya perawatan (klinik atau rumah sakit). Padahal, untuk bertahan hidup saja sudah pas-pasan.
Itulah yang kemudian mendorong Yusuf menjadi dokter. Dan itu dia wujudkan dengan masuk Fakultas Kedokteran Universitas Jenderal Achmad Yani. Namun, persoalan biaya lagi-lagi menghadang. "Saya sempat mengurungkan niat (jadi dokter, Red). Kalau tidak bisa ya sudah," katanya.
Keluarga pun berkumpul. Ibu dan keempat kakak Yusuf akhirnya sepakat mendukung niat dan cita-citanya. Diputuskan menggadaikan rumah yang mereka tempati untuk biaya kuliah Yusuf.

Dana Desa Dialihkan untuk Koperasi Merah Putih, Pembangunan Desa di Bantul Jalan dengan Skema Lain
Wisata Kuliner Kabupaten Malang: 7 Makanan Khas yang Legendaris, Unik dan Autentik untuk Food Lovers
Link Pengumuman Hasil Seleksi Administrasi Manajer Koperasi Merah Putih yang Sudah Diumumkan
14 Rekomendasi Kuliner Depok untuk Keluarga, Tempat Makan Nyaman dengan Menu Beragam
50 Unit Mobil Koperasi Desa Merah Putih Tiba di Wonogiri, Dandim 0728/Wonogiri: Saran Saya Tidak Usah Digunakan Dulu Mobilnya
7 Rekomendasi Kuliner Lontong Balap Paling Enak di Surabaya, Wajib Dicoba Sekali Seumur Hidup!
Sempat Di-blacklist Koramil, Pembangunan Koperasi Merah Putih di Tuban Dikawal Babinsa
17 kuliner Legendaris di Surabaya yang Wajib Dicicipi Sekali Seumur Hidup!
12 Restoran Sunda Paling Enak di Jakarta, Tempat Makan dengan Menu Tradisional Khas dari Tanah Pasundan
Kecelakaan Kereta dan KRL di Bekasi Timur, KAI Fokus Evakuasi Para Korban
