Logo JawaPos
Author avatar - Image
Selasa, 5 Juni 2018 | 03.57 WIB

Kenaikan Harga Tiket Picu Tingginya Inflasi di Kota Malang

Kesibukan layanan ticketing di salah satu bandara di Indonesia - Image

Kesibukan layanan ticketing di salah satu bandara di Indonesia

JawaPos.com - Melonjaknya harga tiket pesawat menjadi pemicu naiknya inflasi Kota Malang pada bulan Mei ini. Angkanya pun cukup signifikan dibanding bulan April lalu, yakni 0,29 persen.

Kepala BPS Kota Malang, M Sarjan menerangkan, pada bulan Mei lalu ada 10 komoditas utama penyumbang inflasi. Antara lain angkutan udara, mengalami kenaikan harga sebesar 20,16 persen dengan andil inflasi 0,4061 persen. Selanjutnya bahan bakar rumah tangga, mengalami kenaikan harga sebesar 12,15 persen dengan andil 0,2119 persen.

Telur ayam ras, yang mengalami kenaikan harga sebesar 11,53 persen, dengan andil 0,0630 persen. Selanjutnya daging ayam ras, mengalami kenaikan harga 4,62 persen dengan andil 0,0579 persen. Kemudian bawang merah kenaikan harga sebesar 5,16 persen dengan andil 0,0212 persen.

Dia menerangkan, harga tiket di Kota Malang memang lebih tinggi dibanding Surabaya. "Dari jarak lebih jauh Malang. Maskapai di Malang jauh lebih sedikit, persaingannya tinggi," ujarnya, Senin (4/6).

"Kalau surabaya kan banyak maskapainya," lanjutnya. Dia menambahkan, sebenarnya harga tiket pesawat di Kota Malang tidak selalu lebih tinggi. Hanya saja beberapa bulan ini harganya mengalami kenaikan. Menurutnya, hal itu dikarenakan kebutuhan masyarakat Malang lebih besar dibanding Surabaya.

Dia mengungkapkan, Kota Malang dalam mengendalikan inflasi memang lebih sulit dibanding daerah lain. Salah satunya terlihat dari bobot harga tiket pesawat yang lebih tinggi dari Surabaya. "Mudah-mudahan bulan depan ongkos tiket bisa turun. Apalagi ongkos tiket tidak bisa dikendalikan Tim Pengendali Inflasi Daerah (TPID)," jelasnya.

Sementara itu, Kepala Kantor Perwakilan Bank Indonesia (KPBI) Malang Dudi Herawadi mengatakan, kenaikan harga tiket pesawat tersebut sudah rutin terjadi, apalagi seiring dengan meningkatnya permintaan.

"Pertengahan bulan lalu, rupiah juga agak terganggu, sedangkan tarif udara ditentukan mengacu kurs tengah valuta rupiah. Mau tidak mau, setiap minggu dilakukan evaluasi tarif batas atas batas bawah, kalau rupiah terganggu, tarifnya juga terganggu," paparnya. Dia pun berharap jika kenaikan tersebut tidak berpengaruh pada inflasi bulan Juni mendatang.

Editor: Soejatmiko
Tags
Artikel Terkait
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore