Logo JawaPos
Author avatar - Image
Senin, 4 Juni 2018 | 22.25 WIB

Kampus Terpapar Paham Radikal, Ini Solusi dari FAN-IPB

FAN-IPB mendorong IPB untuk bersinergi dengan berbagai pihak terkait upaya deradikalisasi di kampus. Misalnya dengan menggandeng MUI, NU, Muhammadiyah, hingga BNPT. - Image

FAN-IPB mendorong IPB untuk bersinergi dengan berbagai pihak terkait upaya deradikalisasi di kampus. Misalnya dengan menggandeng MUI, NU, Muhammadiyah, hingga BNPT.

JawaPos.com - Hasil kajian Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) seyogianya menjadi warning bagi semua elemen perguruan tinggi. Tak hanya negeri, melainkan kampus-kampus swasta.


Pengarah Forum Forum Alumni Independen (FAN) Institut Pertanian Bogor (IPB), Muhammad Karim mengatakan, cara pandang mahasiswa yang terpapar paham radikal kerap kali melupakan tugas utama mereka 'diutus' ke kampus.


Tak jarang mahasiswa yang sudah memahami pemikiran radikal ini gagal menyelesaikan proses pendidikannya.


Malah yang menjadi lebih parah lagi, cara pandang mahasiswa begini adalah menegasikan simbol-simbol kenegaraan dan tidak mengakui eksistensi Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI).


"Padahal, kadar pengetahuan kesejarahan, filosofis dan kenegaraan dalam proses bagaimana negara ini didirikan amat miskin sekali. Apalagi, memahami ontologi, epistimologoi dari dasar Negara Pancasila. Mereka hanya mendengar doktrin dan pemahaman sempit/utopis dari 'mentornya' yang juga memiliki cara pandang yang sama," beber Karim kepada JawaPos.com, Senin (4/6).


Menurut Karim, munculnya kampanye mengganti sistem kenegaraan dengan sistem 'Khilafah Islamiyah' yang terang-terangan di ruang publik, secara konstitusional sesungguhnya telah menegasikan eksistensi NKRI sebagai negara bangsa yang sudah final.


Dimana pun di muka bumi ini, setiap negara bangsa pasti mempertahankan eksistensi kenegaraannya.


"Yang justru mengherankan ada sebagian politisi di negeri ini justru melakukan pembiaran terhadap hal semacam ini. Ada apa di balik semua itu?," kritik dia.


Karim meminta IPB bersikap tegas dan konsisten untuk menangkal dan membersihkan kampus dari berkembang biaknya paham radikal ini. Siapa pun mereka. Mulai dari mahasiswa, dosen hingga kalangan pegawai.


IPB tidak perlu bersikap defensif untuk menyikapi hal ini. Sebab, IPB adalah milik negara, dibiayai oleh negara. Sehingga menjadi tidak logis ada mahasiswa maupun oknum dosen maupun pegawai menentang eksistensi NKRI.


Solusi Membendung Paham Radikal di Kampus


Inisiator FAN-IPB, Thomas Nugroho mengatakan IPB perlu melakukan pembenahan secara internal, terhadap modus-modus gerakan yang mengindikasikan gerakan radikal.


Termasuk mengevaluasi struktur pembinaan mahasiswa di kampus IPB saat ini. Menurutnya dosen-dosen yang terindikasi terpapar paham radikal masih punya akses dan aktif membina mahasiswa.


"Pihak IPB perlu mendata dosen-dosen dan tutor mahasiswa pada setiap departemen yang memberikan pembinaan dan ceramah keagamaan. Mereka yang terpapar dan terindikasi organisasi partisan partai politik apapun, sebaiknya dilarang melakukan aktivitas tersebut di dalam kampus," ungkap Thomas.


Ini, lanjut Thomas, untuk memberikan deterent efect secara sosial. Pembinaan mahasiswa melalui aktivitas pengajian hendaknya melalui koordinasi lembaga dakwah kampus yang resmi, dengan tutor-tutor dosen dan mahasiswa yang disetujui oleh pihak rektorat.

Editor: Imam Solehudin
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore