
FAN-IPB menyebut kajian BNPT tersebut patut dicermati secara obyektif dan kritis. Sebab, label
JawaPos.com - Institut Pertanian Bogor (IPB) masuk sebagai salah satu kampus yang terpapar radikalisme. Bersama enam Perguruan Tinggi Negeri (PTN) lainnya, IPB dinilai rawan penyebaran paham radikal.
Demikian hasil kajian Badan Nasional Penanggulangan (BNPT), terkait kampus-kampus negeri yang dinilai rawan disusupi radikalisme.
Menanggapi hal ini, Forum Alumni Independen (FAN) IPB menyebut kajian BNPT tersebut patut dicermati secara obyektif dan kritis. Sebab, label 'radikal' yang disematkan kepada IPB jelas mencemari reputasi kampus.
Dewan Pengarah FAN-IPB, Doni Yusri mengatakan, jika mencermati secara historis, gerakan-gerakan pemikiran keagamaan radikal yang bersifat transnasional telah berkembang semenjak tiga dekade terakhir di Bogor.
"Pola di era Orde Baru lebih bersifat klandestin, dan cenderung bersifat sel yang bergerak dalam kelompok-kelompok kecil yang menyasar mahasiswa, dosen hingga tenaga akademik," jelas Doni kepada JawaPos.com, Senin (4/6).
Apalagi pasca Orde Baru atau di era reformasi, pola gerakannya lebih terbuka dan menyasar ke kampus-kampus, sebagai basis penyebaran indoktrinasi di kalangan akademisi dan mahasiswa tentang pemahaman agama yang sempit.
"Gerakannya membentuk kelompok pengajian (usroh) dengan tutor-tutor dari kalangan mereka baik dari kalangan dosen maupun mahasiswa-mahasiswa senior," jelas Doni.
Tidak sampai di situ, mereka pun menguasai organisasi-organisasi kemahasiswa seperti BEM, Himpro, serta yang lainnya.
"Termasuk struktur organisasinya mulai dari level bawah seperti sekretaris departemen sampai level Dekan bahkan level struktur pimpinan di Rektorat," jelas Doni.
Mengapa Paham Radikal Gampang Menyusup
Hal senada diutarakan Koordiantor FAN-IPB, Amril Syahputra Rangkuti. Amril tak menampik jika IPB rentan terpengaruh dan jadi sasaran utama gerakan radikal.
Pertama, mahasiswa IPB berasal dari berbagai daerah di Indonesia. Dalam sistem penerimaannya menggunakan pola bebas testing dan merekrut siswa yang berprestasi semenjak tahun 1970-an.
"Artinya, kalangan yang menyebarkan paham radikal mencium hal ini. Bagi mereka mahasiswa yang berasal dari daerah cukup penting. Karena pasca mereka lulus IPB ketika kembali di daerahnya bisa menjadi kader," beber Amril.
Kedua, mahasiswa IPB yang berasal dari berbagai daerah tersebut secara kultural akan lebih mudah dipengaruhi. Apalagi lewat doktrinasi keagamaan karena mereka baru saja lulus Sekolah Menengah Atas (SMA).
"Dan belum tentu semuanya memilih basis keagamaan yang sudah memiliki cara pandang yang kuat. Contohnya, yang berlatar belakang kaum santri," jelas pria yang juga peneliti di PKSPL IPB tersebut.
Armil lantas menyitir apa yang diistilahkan Clifford Gertz, dimana ada kaum abangan yang kadar pemahaman keagamaannya berbeda dengan kaun santri.

Dana Desa Terpangkas untuk Koperasi Merah Putih, Pembangunan Infrastruktur Sebagian Desa di Tulungagung Tak Sesuai Rencana
50 Unit Mobil Koperasi Desa Merah Putih Tiba di Wonogiri, Dandim 0728/Wonogiri: Saran Saya Tidak Usah Digunakan Dulu Mobilnya
12 Spot Kuliner Bakso di Bandung yang Terkenal karena Tekstur Dagingnya yang Juara
15 Rekomendasi Restoran Terbaik Dekat Tugu Muda Semarang: Surganya Kuliner yang Wajib Dicoba Pelancong dan Wisatawan!
18 Rekomendasi Sarapan Pagi di Bandung Paling Sedap, Sederet Kuliner Mantap yang Wajid Disantap
Kabar Gembira! Gubernur Banten Resmi Hapus Pajak Kendaraan Bermotor, Ini Syaratnya!
10 Spot Mie Kocok di Bandung Terenak, Kuliner Khas dengan Kuah Kental dan Bumbu Tradisional
12 Restoran Seafood Terenak di Bandung, Surganya Kuliner Laut yang Tak Pernah Sepi Pengunjung
15 Kuliner Bakso di Solo yang Selalu Jadi Incaran, dari yang Paling Legend hingga yang Kekinian
Jadwal Thomas Cup 2026 Indonesia vs Aljazair, Siaran Langsung, dan Live Streaming: Laga Perdana Wajib Menang!
