Logo JawaPos
Author avatar - Image
Senin, 4 Juni 2018 | 09.10 WIB

Menkumham Yassona: Memaafkan dan Mengampuni Itu Sulit

Menteri Hukum dan HAM Yasonna Laoly usai beribadah di Gereja Kristen Indonesia (GKI) Diponegoro, Surabaya, Minggu (3/6). - Image

Menteri Hukum dan HAM Yasonna Laoly usai beribadah di Gereja Kristen Indonesia (GKI) Diponegoro, Surabaya, Minggu (3/6).

JawaPos.com – Menteri Hukum dan Hak Asasi Manusia (Menkumham) Yasonna Laoly mengunjungi Gereja Kristen Indonesia (GKI) Diponegoro, Surabaya, Minggu (3/6). Di depan ratusan jemaat, Yasonna mengungkapkan duka, simpati dan dukungan moral kepada jemaat.


Hal itu dilakukanya usai ibadah Minggu. Sejumlah tokoh lintas agama, para ulama, perwakilan dari NU dan GP Anshor turut hadir. 


Dalam pidatonya, Yassona melontarkan bela sungkawa. Lalu, dia meminta semua jemaat semakin memperkuat iman. Karena, iman yang kuat mampu menciptakan rasa saling mengasihi antar jemaat dan siapapun. 


Yasonna juga meminta jemaat memaafkan pelaku bom dan keluarganya. Meski sulit, Yasonna mengingatkan kepada jemaat bahwa memaafkan adalah ajaran kekristenan. 


"Karena yang paling sulit dalam kehidupan kita adalah memaafkan dan mengampuni," kata Yasonna di GKI Diponegoro, Surabaya, Minggu (3/6). 


Yasonna juga menyebutkan beberapa ayat dalam Alkitab. Dia mengatakan, sesuai ajaran dalam ayat tersebut bahwa kekristenan mengajarkan untuk selalu mendoakan musuh dan orang-orang yang dibenci. 


"Bukankah Yesus datang untuk kita semua dan mengajarkan bahwa musuh sekalipun harus kita kasihi," kata Yasonna. 


Yasonna lalu mencontohkan ketegaran seorang korban bom gereja yang hampir kehilangan anaknya. Dalam penderitaan itu, lanjutnya, si korban masih menyatakan kebesaran Tuhan. 


"Saya nitip pesan bahwa kita patut mengambil hikmahnya. Meski korban hampir kehilangan nyawa. Bahkan ada ibu yang kehilangan anaknya, tapi tetap memaafkan," katanya. 


Tak hanya mengajak seluruh jemaat memperkuat iman dan memaafkan pelaku bom. Yasonna juga meminta jemaat agar tetap menjaga persatuan dan kesatuan sebagai warga Indonesia. 


Katanya, Indonesia itu masyarakatnya heterogen. Keberagaman tersebut, lanjutnya, terikat pada satu ideologi. Yakni, Pancasila. "Pancasila mengikat kita sebuah bangsa yang berbeda-beda. Budaya, pakaian adat, suku dan bahasa daerah yang beda adalah kekayaan," tuturnya. 


Sementara itu, Ketua Majelis Jemaat GKI Diponegoro Daniel Theophilus Hage mengatakan, sejumlah jemaat belum pulih secara psikis akibat aksi bom bunuh diri beberapa waktu lalu tersebut. Karenanya, pihak gereja masih membuka sesi therapy healing


Therapy healing dilakukan dalam kelompok kecil dan kunjungan ke rumah jemaat. "Karena sesi penyembuhan memang harus private. Supaya jemaat yang terdampak dapat fokus pada upaya penyembuhan," kata Daniel.


Editor: Sari Hardiyanto
Tags
Artikel Terkait
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore