
Kepala LIPI, Laksana Tri Handoko setelah dilantik di Auditorium Utama LIPI, Jakarta, Kamis (31/5)
JawaPos.com - Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) resmi punya nakhoda baru. Dia adalah Laksana Tri Handoko.
Mulai hari ini (31/5), Laksana resmi menjabat sebagai Kepala LIPI. Pelantikan dipimpin langsung Menteri Riset Teknologi dan Pendidikan Tinggi (Menristekdikti), Mohamad Nasir di Auditorium Utama LIPI, Jakarta.
Handoko menggantikan Kepala LIPI sebelumnya, Bambang Subiyanto. Dalam sambutannya Bambang berharap Laksana mampu membawa LIPI ke arah yang lebih baik lagi.
Terutama dalam hal pengembangan ilmu dan teknologi (iptek). "Kepala LIPI harus visioner dan mampu menempatkan Iptek menjadi bagian penting negeri ini," ujarnya di Jakarta, Kamis (31/5).
Handoko sebelumnya dikenal sebagai Kepala Grup Fisika Teori dan Komputansi Pusat Penelitian Fisika LIPI 2002-2012. Lalu, bapak dua anak ini diamanahi menjadi Kepala Pusat Penelitian Informatika LIPI dari 2012-2014.
Sebelumnya, Handoko pun menduduki posisi Deputi Bidang Ilmu Pengetahuan LIPI sejak 2014.
Tidak hanya itu, Handoko pernah mengajar di Departemen Fisika Institut Pertanian Bogor pada 2002-2004. Juga, di Universitas Indonesia sejak 2002 hingga sekarang.
"Jadi pertama itu yang harus saya selesaikan ya proses reorganisasi. Kemudian, manajemen internal dan juga riset di internality supaya sesuai dengan standar global. Baru kita akan meningkatkan kualitas sdm," ujar Handoko setelah pelantikan.
"Termasuk rekrutmen diaspora, meningkatkan kolaborasi dengan semua infrastruktur agar bisa dipakai semua orang. Sehingga semua orang di sini bisa kerja bersama-sama," imbuhnya.
Ke depan, Handoko juga berencana akan semakin memperluas manfaat hasil penelitian LIPI untuk dipakai semua orang. Fasilitas, sarana prasarana diharapkannya dapat dimaksimalkan.
Tidak hanya alat namun sumber daya manusianya juga harus mampu diberdayakan.
"Kita harus buka semua infrastruktur untuk bisa dipakai semua orang, jadi supaya tidak orang LIPI saja yang memakai. Semakin banyak interaksi, dengan kampus mahasiswa industri kan lebih bagus ya," tutur pria kelahiran Malang ini.
"Kalau berkaitan dengan teknologi ya harus begitu. Jika tidak kita gak akan mampu berkompetisi Karena kita kan masih terbatas juga orangnya," tambahnya.
Handoko melihat kompetisi dalam membawa Indonesia menghadapi revolusi 4.0 sangat ketat. Maka dari itu, seluruh riset harus diperkenalkan ke dunia global.
"Peningkatan laboratorium pun akan dimaksimalkan sehingga riset dapat berjalan dengan baik. Kami tiga tahun ini aja sudah menghabiskan Rp 300 miliar untuk peralatan. Ada yang revitalisasi ada yang baru, pokoknya alat yang ada harus terus dipelihara dan operasikan agar semua orang bisa pakai," pungkasnya.

Dana Desa Terpangkas untuk Koperasi Merah Putih, Pembangunan Infrastruktur Sebagian Desa di Tulungagung Tak Sesuai Rencana
50 Unit Mobil Koperasi Desa Merah Putih Tiba di Wonogiri, Dandim 0728/Wonogiri: Saran Saya Tidak Usah Digunakan Dulu Mobilnya
12 Spot Kuliner Bakso di Bandung yang Terkenal karena Tekstur Dagingnya yang Juara
15 Rekomendasi Restoran Terbaik Dekat Tugu Muda Semarang: Surganya Kuliner yang Wajib Dicoba Pelancong dan Wisatawan!
18 Rekomendasi Sarapan Pagi di Bandung Paling Sedap, Sederet Kuliner Mantap yang Wajid Disantap
Kabar Gembira! Gubernur Banten Resmi Hapus Pajak Kendaraan Bermotor, Ini Syaratnya!
10 Spot Mie Kocok di Bandung Terenak, Kuliner Khas dengan Kuah Kental dan Bumbu Tradisional
12 Restoran Seafood Terenak di Bandung, Surganya Kuliner Laut yang Tak Pernah Sepi Pengunjung
15 Kuliner Bakso di Solo yang Selalu Jadi Incaran, dari yang Paling Legend hingga yang Kekinian
Jadwal Thomas Cup 2026 Indonesia vs Aljazair, Siaran Langsung, dan Live Streaming: Laga Perdana Wajib Menang!
