
Wakil Menteri ESDM, Arcandra Tahar
JawaPos.com - Aksi penolakan warga terhadap pengembangan panas bumi (geotermal) Gunung Talang-Bukitkili, di kabupaten Solok, Sumatera Barat (Sumbar) dikomentari Wakil Menteri ESDM, Arcandra Tahar. Menurutnya, aksi penolakan tambang panas bumi adalah hal yang biasa terjadi.
Salah satu faktornya adalah karena masyaraakat belum mengetahui informasi kebenaran tambang geotermal itu sendiri. "Mungkin saja penolakan muncul karena sosialisasi belum optimal. Sehingga, warga masih menganggap energi panas bumi bukan sumber energi yang ramah lingkungan," kata Arcandra ditemui wartawan, Jumat (25/5).
Lebih lanjut putra asli Minang itu mengatakan, pemerintah akan menelusuri lebih dalam kasus penolakan yang terjadi terhadap rencana proyek panas bumi dengan kapasitas 58 Mega Watt (MW) itu.
"Jangan sampai dengan pengertian yang terbatas terus ada penolakan. Karena manusia memiliki ilmu yang terbatas. Tugas kita semua, termasuk media untuk ikut memberikan pemahaman kepada warga," kata Arcandra.
Lelaki Minang yang lama menetap di Amerika Serikat itu juga mengingatkan, bahwa sistem pembangkitan listrik dengan energi panas bumi sangat aman bagi lingkungan. Apalagi, uap air yang dihasilkan dari pembangkitan bisa diinjeksikan lagi ke dalam tanah untuk menjaga ketersediaan air dalam tanah.
Warga juga tak perlu khawatir produktivitas tanam mereka akan terganggu. "Mari dipelajari apa itu panas bumi, apakah panas bumi merusak lingkungan atau tidak," katanya.
Seperti diketahui, potensi energi panas bumi (geothermal) di daerah Kabupaten Solok cukup menjanjikan. Sumber daya mineral ini sekaligus memberi harapan untuk distribusi energi listrik bagi masyarakat daerah penghasil beras ternama ini.
Dalam hal ini, PT Hitay Daya Energi dipercaya Kementerian ESDM untuk melakukan pengeboran terhadap panas bumi di Gunungtalang dan Bukitkili. Setidaknya, untuk tahap awal, perusahaan milik investor asal Turki akan melakukan pengeboran untuk 20 Mwe panas bumi dengan nilai investasi mencapai 1 juta US Dollar atau setara Rp1 triliun.
Namun, sejak awal proyek itu disosialisasikan, warga sekitat Gunung Talang selalu menolak. Dengan alasan proyek tersebut akan membunuh mata pencarian masyarakat.
Aksi penolakan geothermal Gunungtalang-Bukitkili dua kali terjadi bulan Oktober lalu. Ribuan warga yang menamai diri masyarakat salingka gunung Talang menyerbu kantor Bupati Solok di Arosuka.
Setelah itu, pada Senin (20/11) lalu, ratusan masa ini menghadang langsung pihak PT Hitay Daya energi hingga membakar 1 unit mobil yang hendak turun le lokasi tambang. Kasusnya ditangani Polda Sumbar.

50 Unit Mobil Koperasi Desa Merah Putih Tiba di Wonogiri, Dandim 0728/Wonogiri: Saran Saya Tidak Usah Digunakan Dulu Mobilnya
7 Tahun Tak Terkalahkan! Bernardo Tavares Wajib Jaga Harga Diri Persebaya Surabaya di Derbi Jawa Timur Lawan Arema FC
15 Rekomendasi Restoran Terbaik Dekat Tugu Muda Semarang: Surganya Kuliner yang Wajib Dicoba Pelancong dan Wisatawan!
14 Rekomendasi Kuliner Depok untuk Keluarga, Tempat Makan Nyaman dengan Menu Beragam
Jadwal Lengkap MotoGP Spanyol 2026! Misi Berat Veda Ega Pratama dan Mario Aji dari Barisan Belakang di Jerez
Pesan Haru dari Ernando Ari! Dukungan Diam-Diam Bikin Milos Raickovic Bangkit di Persebaya Surabaya
Terdepak dari Puncak Klasemen Liga Inggris, Bayang-bayang Kegagalan Juara di Akhir Musim kembali Menghantui Arsenal
18 Rekomendasi Sarapan Pagi di Bandung Paling Sedap, Sederet Kuliner Mantap yang Wajid Disantap
Profil Agnes Aditya Rahajeng, Pemenang Puteri Indonesia 2026
Kabar Gembira! Gubernur Banten Resmi Hapus Pajak Kendaraan Bermotor, Ini Syaratnya!
