Logo JawaPos
Author avatar - Image
Rabu, 23 Mei 2018 | 12.05 WIB

Pengalaman Benny Mamoto, Interogasi Teroris Tak Bisa dengan Kekerasan

Ilustrasi terorisme. Mantan perwira di Densus 88 Antiteror Benny Mamoto mengisahkan sulitnya mengiterogasi teroris. - Image

Ilustrasi terorisme. Mantan perwira di Densus 88 Antiteror Benny Mamoto mengisahkan sulitnya mengiterogasi teroris.

JawaPos.com - Menginterogasi teroris adalah pekerjaan yang tidak mudah. Padahal, banyak informasi yang dibutuhkan keluar dari mulut mereka.


Irjen Pol (Purn) Benny P Mamoto, seorang mantan perwira polisi yang pernah bertugas di Detasemen Khusus (Densus) 88 Antiteror, memiliki pengalaman tersendiri soal sulitnya menginterogasi teroris.


Namun lama-kelamaan dia sadar, interogasi teroris tidak bisa dilakukan dengan cara-cara kekerasan. Justru, teknik paling efektif untuk mendapatkan informasi dari mereka yaitu dengan pendekatan kekeluargaan.


"Saya ingat dulu ada cerita tentang panglima Jamaah Islamiyah (JI) bernama Panglima Zulkarnain. Dia itu sangat perhatian dengan anggotanya. Jadi, itu yang saya implementasikan dalam menginterogasi teroris," kata Benny dalam sebuah diskusi di kawasan Menteng, Jakarta Pusat, Selasa (22/5).


Mantan Deputi Pemberantasan Badan Narkotika Nasional ini pun mencontohkan saat dirinya menginterogasi pelaku Bom Bali I, Mukhlas. Menurutnya, ia berhasil mencari informasi secara detail dari Mukhlas dengan membuka obrolan tentang istri teroris itu.


"(Mengorek informasi) Mukhlas itu cukup sulit. Lalu saya ajak membicarakan istrinya. Istri Mukhlas ini kembang desa di Malaysia. Itulah kebanggaan (Muklas) yang saya pakai untuk memperoleh informasi," katanya.


Contoh lain, akademisi Sekolah Kajian Stratejik dan Global itu menceritakan tentang mantan pimpinan JI Abu Tholut. Ia menilai, Tholut memang berwajah sangar, namun pandai melucu.


"Jadi, kita harus rebut hatinya dan jalin hubungan yang baik. Jadi, kami tidak mengubah ideologi. Cuma kami menggeser jangan menggunakan kekerasan," ujar Benny.


Sementara itu, mengenai proses deradikalisasi sendiri, Benny menilai seharusnya itu dilakukan sejak awal teroris ditangkap polisi. "Jadi, enggak nunggu di lapas dulu. Di samping mengedepankan penindakan hukum," pungkasnya.

Editor: Estu Suryowati
Tags
Artikel Terkait
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore