
Suasana Desa Penglipuran Bali.
JawaPos.com–Wisata Pulau Bali memang tak ada tandingannya, sudah terkenal di mancanegara. Tak hanya wisata alam, tradisi yang kental di desa-desa Bali juga menjadi incaran wisatawan lokal maupun wisatawan asing.
Bali memiliki desa yang sangat cantik dan kental akan budaya lokal. Yakni Desa Penglipuran di Kecamatan Bangli, dengan luas wilayah 112 hektare.
Dikutip dari Disparda Bali, Desa Penglipuran telah mendapat gelar desa terbersih di dunia. Oleh Organisasi Pariwisata PBB dinobatkan sebagai salah satu desa terbaik di dunia pada 2023.
Selain itu, Desa Penglipuran juga memiliki beberapa fakta unik yang sangat menarik perhatian wisatawan. Dilansir dari Antara, berikut fakta-fakta unik di Desa Penglipuran Bali, desa yang bisa dikunjungi saat berlibur ke Pulau Dewata.
Karang Memadu
Dihuni mayoritas umat Hindu Desa Penglipuran memiliki aturan adat, dilarang melakukan poligami maupun poliandri. Mereka juga menerapkan kesetaraan gender antara laki-laki dan perempuan untuk saling bekerja sama dalam keluarga.
Desa Penglipuran memiliki satu tempat yakni Karang Memadu yang merupakan tempat pengucilan bagi pelaku poligami dan poliandri. Tempat itu berada di bawah kaki Desa Penglipuran.
Menurut Ketua Pelaksana Wisata Desa Penglipuran Nengah Moneng, di Desa Penglipuran para leluhur menyampaikan jika ingin hidup rukun dalam satu keluarga, cukup satu istri atau satu suami. Selanjutnya untuk emansipasi atau menghargai hak asasi ada kesetaraan gender.
Layak Perempuan dan Anak
Peran Desa Penglipuran penting untuk perlindungan perempuan dan anak-anak. Kepala Dinas Pengendalian Penduduk Keluarga Berencana Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak Kabupaten Bangli I Wayan Jimat mengungkapkan, Desa Penglipuran menjadi desa ramah perempuan dan peduli anak (DRPPA) yang dicanangkan Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak, serta Kementerian Desa PDT dan Transmigrasi.
”Karang Memadu merupakan cara efektif untuk membentuk tatanan desa yang ramah perempuan dan peduli anak, karena adanya hukuman pengasingan bagi pelaku,” tutur Nengah Moneng.
Tata Ruang Desa Berkonsep Tri Mandala
Desa Penglipuran di ketinggian 200 mdpl dibangun dengan mengusung patokan adat yang sudah turun temurun. Yakni dengan konsep Tri Mandala. Dalam konsep itu tata ruang desa dibagi menjadi tiga yaitu Utama Mandala, Madya Mandala, dan Nista Mandala.
Wilayah Utama Mandala merupakan tempat suci yang digunakan sebagai tempat beribadah masyarakat, sedangkan zona madya adalah tempat permukiman penduduk yang rumah-rumahnya dibangun berbanjar di sepanjang jalan utama. Kemudian Nista Mandala yang merupakan tempat khusus untuk pemakaman penduduk.
Rutin Menjalani Ritual Keagamaan

50 Unit Mobil Koperasi Desa Merah Putih Tiba di Wonogiri, Dandim 0728/Wonogiri: Saran Saya Tidak Usah Digunakan Dulu Mobilnya
7 Tahun Tak Terkalahkan! Bernardo Tavares Wajib Jaga Harga Diri Persebaya Surabaya di Derbi Jawa Timur Lawan Arema FC
Pesan Haru dari Ernando Ari! Dukungan Diam-Diam Bikin Milos Raickovic Bangkit di Persebaya Surabaya
14 Rekomendasi Kuliner Depok untuk Keluarga, Tempat Makan Nyaman dengan Menu Beragam
Wisata Kuliner Kabupaten Malang: 7 Makanan Khas yang Legendaris, Unik dan Autentik untuk Food Lovers
Jadwal Lengkap MotoGP Spanyol 2026! Misi Berat Veda Ega Pratama dan Mario Aji dari Barisan Belakang di Jerez
15 Rekomendasi Restoran Terbaik Dekat Tugu Muda Semarang: Surganya Kuliner yang Wajib Dicoba Pelancong dan Wisatawan!
17 kuliner Legendaris di Surabaya yang Wajib Dicicipi Sekali Seumur Hidup!
10 Kebab Paling Enak di Jakarta, Kuliner Timur Tengah yang Cita Rasanya Autentik
Kabar Gembira! Gubernur Banten Resmi Hapus Pajak Kendaraan Bermotor, Ini Syaratnya!
