
Rektor Universitas Negeri Sebelas Maret (UNS) Surakarta periode 2011–2019, Ravik Karsidi. (Dok. Pribadi)
MENDATANGKAN rektor asing di kampus negeri tentu membutuhkan anggaran besar. Sebab, orang yang didatangkan tak main-main. Yakni, akademisi luar negeri yang menyandang gelar doktor maupun profesor. Mereka tentu tidak mau digaji dengan standar dalam negeri. Berikut obrolan wartawan Jawa Pos Agas Putra Hartanto bersama Ravik Karsidi, rektor Universitas Negeri Sebelas Maret (UNS) Surakarta periode 2011–2019, kemarin (8/8).
---
Apakah Anda mendukung program rektor asing?
Saya sebenarnya tidak menentang. Sebab, prinsipnya, kita bisa belajar dari siapa pun. Termasuk orang asing. Pertanyaannya, apakah nanti tidak mengalami kesulitan? Sebab, selama ini, yang sering menjadi kendala adalah anggaran yang terbatas untuk internasionalisasi. Mereka akan digaji berapa? Apakah mau digaji sama dengan rektor dalam negeri? Menurut saya, yang penting bukan orangnya dari mana, tapi bagaimana kualitas rektor itu dalam memenuhi standar internasional.
Pengalaman menjadi rektor, bagaimana kiat Anda untuk mengembangkan kerja sama internasional?
Saya pernah merekrut sekretaris rektor bidang kerja sama luar negeri ketika jadi rektor UNS. Orang Prancis. Dia tidak mau digaji dengan sistem kepegawaian dan gaji standar dalam negeri. Saat itu, sekretaris saya bergelar master, S-2. Kami kontrak selama kepemimpinan saya. Alhamdulillah, memang selama empat tahun dibantu. Program-program internasional UNS jadi lebih maju. Saya akui, orang asing bersedia bekerja dengan target.
Kualifikasi seperti apa untuk menjadi sekretaris bidang kerja sama luar negeri?
Bergelar master, pernah (berpengalaman) bekerja di perguruan tinggi, punya jaringan dengan beberapa kampus luar negeri, memiliki kompetensi komunikasi, dan mampu melakukan kerja sama internasional. Sedikit bisa bahasa Indonesia jadi nilai tambah.
Apa saran Anda kepada pemerintah yang terkesan menggebu-gebu menyuarakan rektor asing?
Meminjam istilah orang Jawa, jer basuki mawa beya. Demi mendongkrak peringkat perguruan tinggi negeri di kancah dunia, anggaran kampus perlu ditingkatkan untuk pelaksanaan program, anggaran riset, dan memperbaiki fasilitas laboratorium sehingga sesuai standar internasional. Menyadarkan para rektor agar berwawasan internasional. Memang, sekolah menjadi rektor itu nggak ada. Pemerintah harus punya keberanian itu.

Prediksi Skor Tanjung Verde vs Arab Saudi di Piala Dunia 2026: Misi Blue Sharks Pulangkan Green Falcons
Prediksi Skor Mesir vs Iran di Piala Dunia 2026: The Pharaohs Selangkah Lagi ke 32 Besar Piala Dunia 2026
Prediksi Skor Selandia Baru vs Belgia di Piala Dunia 2026: Pembuktian Romelu Lukaku Belum Habis!
Prediksi Skor Uruguay vs Spanyol di Piala Dunia 2026: La Roja Tak Ingin Tersandung, La Celeste Wajib Menang
Prediksi Skor Aljazair vs Austria di Piala Dunia 2026: Tiket 32 Besar Dipertaruhkan, Duel Sengit Berpotensi Imbang
Prediksi Skor Kroasia vs Ghana di Piala Dunia 2026: Duel Penentu Tiket 32 Besar, Hasil Imbang Skenario Paling Masuk Akal
Prediksi Skor RD Kongo vs Uzbekistan di Piala Dunia 2026: Duel Sengit di Laga Terakhir Fase Grup
Prediksi Skor Senegal vs Irak di Piala Dunia 2026: Sadio Mane Jadi Kunci Kalahkan Singa Mesopotamia
Prediksi Afrika Selatan vs Kanada di 32 Besar Piala Dunia 2026: Bafana Bafana Ukir Sejarah!
Prediksi Skor Panama vs Inggris: Three Lions Sedang Tak Ideal, Harry Kane Ingin Kembali ke Jalur Gol
