Logo JawaPos
Author avatar - Image
Senin, 9 Oktober 2017 | 03.16 WIB

Sembilan Desa Punya Kalimati

AKSES PENTING: Warga melewati jembatan Kalimati di Desa Pejarakan. Tampak deretan tuas pemutar pintu air yang sudah karatan. Dulu aliran Kali Porong berbelok melewati Desa Pejarakan dan beberapa desa lain di Kecamatan Jabon. - Image

AKSES PENTING: Warga melewati jembatan Kalimati di Desa Pejarakan. Tampak deretan tuas pemutar pintu air yang sudah karatan. Dulu aliran Kali Porong berbelok melewati Desa Pejarakan dan beberapa desa lain di Kecamatan Jabon.

Jalur aliran Kali Porong yang sekarang kita lihat adalah produk kepentingan pemerintah Hindia Belanda. Beberapa jalur yang dulu ada sengaja dimatikan. Inilah asal usul istilah Kalimati.


JEMBATAN bercat hijau di Desa Pejarakan, Jabon, itu, ditumbuhi semak dan ilalang. Jejeran pot-pot tanaman yang gersang menghiasi median jembatan. Posisi jembatan yang menghubungkan Jabon dengan Jalan Raya Malang–Surabaya itu sejajar dengan Kali Porong.


”Ini dia jembatannya,” kata Anton Novenanto, doktor antropologi lulusan Universitas Heidelberg, Jerman, pada 2016, yang mengikuti perjalanan kami Jumat (15/9). Sebelumnya, kami mengunjungi beberapa situs dan candi di sekitar aliran Kali Porong.


Menurut Nino, jembatan Kalimati adalah bangunan bersejarah. Sebab, dahulu merupakan salah satu pintu air Kali Porong. ”Di bawah jembatan yang kita injak sekarang ini dulu mengalir kali,” ujar Nino.


Di sisi utara jembatan memang terdapat sembilan tuas. Fungsinya membuka pintu air yang lebar di bawah jembatan. Kondisinya penuh karat. Tangan kami gatal untuk mengutak-atik tuas tersebut. Hasilnya, tuas pintu air itu benar-benar rusak dan tidak bisa difungsikan.


Kondisinya serupa dengan satu-satunya pintu air yang tersisa dari Bendungan Lengkong lama yang kami datangi di awal perjalanan. Pintu air yang kini mendiami sudut timur kantor Perum Jasa Tirta Subdivisi II, Mojokerto, itu diperkirakan dibuat pada 1857. Kami menduga pintu air yang mengarah ke Kalimati di Desa Pejarakan tersebut juga masih satu era.


Dari atas jembatan selebar 10 meter itu, kami dapat melihat Kali Porong dengan jelas. Kondisi Kali Porong di Desa Pajarakan berbeda dengan aliran sungai sebelumnya. Di sini airnya keruh. Endapan lumpur terlihat di tepian. Padahal, pipa di seberang kami tidak sedang memuntahkan lumpur dari tanggul.


Nino menjelaskan, jalur aliran Kali Porong yang kita ketahui sekarang tidak sama dengan masa lalu. Di sebelah barat, ada lima desa yang pernah dilewati aliran sungai karya Airlangga tersebut. Di antaranya, Desa Mergobener dan Desa Kendalsewu di Kecamatan Tarik.


Tiga desa lainnya terletak di Kecamatan Prambon. Yakni, Desa Prambon, Gedangrowo, dan Wirobiting. Semula, aliran awal Kali Porong memanjang dan menjahit lima desa itu. Namun, kini tak lagi dijumpai aliran sungai di sana.


Di sisi timur, aliran Kali Porong sebenarnya tidak langsung terbuang ke Selat Madura begitu saja. Melainkan berkelok-kelok ke arah selatan. Sebelum mengarah ke Beji, Pasuruan, aliran Kali Porong melewati empat desa di Kecamatan Jabon. Yakni, Kedungcangkring, Panggreh, Pejarakan, dan Trompoasri.


Perubahan aliran Kali Porong tersebut merupakan buah dari kebijakan revolusi agraria pemerintah Hindia Belanda pada 1920-an. Rezim kolonial sengaja mengubah aliran Kali Porong untuk memastikan ratusan ribu hektare ladang tebu di Sidoarjo mendapatkan pasokan air yang cukup.


Saat itu tebu menjadi tanaman primadona. Tak kurang dari 16 pabrik gula berdiri di Sidoarjo. Gula menjadi salah satu komoditas ekspor yang bernilai tinggi.


Berubahnya aliran air membuat volume air di hilir lebih melimpah. Dampaknya, sektor tambak juga berkembang. Bahkan, hingga kini, wilayah timur Sidoarjo masih penuh dengan tambak warga.
Saat sedang mengambil S-2 antropologi dari Universitas Leiden, Belanda, Nino mengaku sudah mengantongi beberapa referensi awal mengenai proyek besar Hindia Belanda.


Salah satunya tentang perubahan aliran Kali Porong. Dia berharap bisa meneliti lebih dalam. ”Saya dalam tahap pengajuan proposal penelitian ke pemerintah Belanda,” tuturnya.


Jalur aliran Kali Porong yang sekarang kita lihat adalah produk kepentingan pemerintah Hindia Belanda. Beberapa jalur yang dulu ada sengaja dimatikan. Inilah asal usul istilah Kalimati.

Editor: Administrator
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore