
Menteri Kebudayaan RI Fadli Zon saat berkunjung ke Indonesian Heritage Museum di Kawasan Jatim Park 1, Kota Batu, Malang, Minggu (20/4) malam. (Istimewa)
JawaPos.com — Di tengah kawasan wisata Jatim Park 1, Kota Batu, Jawa Timur, berdiri Indonesian Heritage Museum. Sebuah museum tematik yang menghadirkan 17 zona budaya Indonesia dari masa ke masa.
Museum ini menampilkan perjalanan panjang sejarah dan kebudayaan Nusantara, mulai dari zaman prasejarah hingga peradaban peranakan.
Museum ini dikelola oleh Yayasan d’Topeng Kingdom Group dan diprakarsai oleh Reno Halsamer, seorang kolektor budaya yang memiliki visi besar dalam penyelamatan dan pelestarian warisan budaya Indonesia.
Zona pertama museum ini membawa pengunjung menelusuri masa migrasi besar Austronesia, zaman batu, hingga zaman perunggu.
Lalu berlanjut ke zona-zona yang menampilkan artefak dari masa peradaban Hindu-Buddha di Nusantara, termasuk peninggalan dari Kerajaan Majapahit dan kebudayaan Madura.
“Zona-zona berikutnya mencakup budaya Jawa Tengah, Bali, Nusa Tenggara Timur, Papua, Sumatera, Sulawesi, hingga budaya peranakan. Tujuannya adalah memperlihatkan wajah Indonesia secara menyeluruh dalam satu tempat,” kata Reno Halsamer, Founder Yayasan d’Topeng Kingdom Group.
Berbeda dari museum konvensional, Indonesian Heritage Museum memadukan unsur edukatif dan visual interaktif, sehingga cocok sebagai destinasi wisata budaya yang menarik bagi berbagai kalangan, termasuk anak-anak dan pelajar.
Seluruh koleksi disusun berdasarkan narasi waktu dan wilayah, sehingga pengunjung dapat memahami konteks budaya secara utuh.
Keunggulan dan kekayaan koleksi museum ini mendapat perhatian dari Menteri Kebudayaan RI Fadli Zon yang berkunjung pada Minggu (20/4) malam.
Didampingi oleh Reno Halsamer dan Ketua Umum DPP Asosiasi Museum Indonesia (AMI) Putu Supadma, Fadli menyusuri seluruh zona dan mengamati sejumlah artefak bersejarah.
“Saya sangat mengapresiasi keberadaan Indonesian Heritage Museum ini karena merupakan bentuk kecintaan dan edukasi terhadap warisan budaya,” ujar Fadli Zon.
Ia menyebut museum ini sebagai contoh ideal pelestarian budaya secara swasta dan mendorong masyarakat untuk lebih giat mengunjungi museum sebagai alternatif wisata edukatif.
Fadli menilai, museum saat ini tak hanya menjadi ruang pamer benda kuno, melainkan juga wahana rekreasi literasi yang bisa dikembangkan melalui teknologi informasi dan kecerdasan buatan (AI).
Pada musim liburan terakhir, museum ini mencatatkan kunjungan hingga 13 ribu orang. Angka tersebut menunjukkan tingginya minat masyarakat terhadap wisata budaya yang edukatif dan informatif.
Di akhir kunjungannya, Fadli memberikan cendera mata berupa buku Keris Lombok yang ia tulis bersama Basuki Teguh Yuwono.

Persib Bandung Dilaporkan Berburu 2 Winger Kiri Baru demi Prestasi di AFC, Nilai Pasarnya Lewati Thom Haye!
11 Kuliner Maknyus Sekitar Kebun Raya Bogor, Tempat Makan yang Sejuk, Nyaman dan Enak
20 Cafe Paling Instagramable di Surabaya, Tempat Ngopi yang Bukan Hanya Kuliner Enak tapi Juga Estetik
Bocor! Ini Alasan Yuran Fernandes Terima Pinangan Bernardo Tavares untuk Perkuat Persebaya Surabaya
14 Angkringan Paling Nikmat di Surabaya, Tempat Nongkrong Seru Sambil Kuliner dan Jajan
Berlabel Timnas Cape Verde! Yuran Fernandes Siap Jadi Tembok Baru Persebaya Surabaya Era Bernardo Tavares
Breaking News! Persebaya Surabaya Deal Rekrut Yuran Fernandes, Green Force Dapatkan Pengganti Gustavo Fernandes
Kronologi Sekeluarga Tewas saat Camping di Temanggung: Mulut Korban Berbusa ketika Ditemukan
Kabar Baik! HP Frans Putros yang Hilang saat Konvoi Juara Persib Bandung Akhirnya Ditemukan
15 Kuliner Soto Ayam Paling Lezat di Surabaya dengan Kuah Kuning Pekat, Koya Memikat dan Topping Nikmat
