Logo JawaPos
Author avatar - Image
Rabu, 28 Juni 2017 | 04.10 WIB

Berburu Kuliner Maknyus di Jalur Mudik Jalan Surabaya–Solo

BANYAK PILIHAN: Suparti menunjukkan puluhan menu lauk di warungnya. - Image

BANYAK PILIHAN: Suparti menunjukkan puluhan menu lauk di warungnya.


Jalan Surabaya–Solo padat dengan pemudik. Namun, ada juga yang menyempatkan berburu kuliner.





ANWAR BAHAR BASALAMAH, Nganjuk





LOKASINYA sangat strategis. Berada di tepi Jalan Raya Surabaya–Solo, tepatnya di Desa Karangtengah, Kecamatan Bagor. Dari perempatan Guyangan, jaraknya hanya sekitar 5 kilometer ke arah barat. Setelah lapangan Desa Selorejo, ada sebuah warung di selatan jalan yang selalu ramai pembeli.



Warung Nasi Tiwul 786 begitu familier bagi pemudik atau penggemar kuliner di Kabupaten Nganjuk. Yang membedakan dengan warung lainnya adalah menu yang disajikan. Nasi tiwul (nasi dari ketela) menjadi andalan warung milik Suparti itu.



Lauknya juga tidak kalah khas. Salah satunya adalah iwak kali yang dimasak dengan bermacam-macam olahan. Ada yang digoreng, dibotok, disayur, dan dibakar. Untuk melengkapi makanan itu, Suparti menyediakan sambal mentah. Nasi, ikan, dan sambal adalah perpaduan yang pas.



’’Itu ciri khasnya,’’ kata Suparti kepada Jawa Pos Radar Nganjuk.



Setiap hari warung yang berdiri sejak 2009 itu selalu ramai. Sepeda motor berjajar rapi diparkir di depan warung.



Bahkan, tidak jarang mobil pribadi terlihat menyesaki parkiran. Pelat nomornya tidak hanya AG, Nganjuk dan sekitarnya, tetapi juga banyak dari luar kota.



Sebelum buka di Desa Karangtengah, Bagor, Suparti dan suaminya pernah berjualan di Surabaya pada 2002. Namun, saat itu kurang sukses. Warungnya sepi.



Selanjutnya, pada 2008, mereka mencoba peruntungan dengan pindah ke Lampung. Di Pulau Sumatera itu, nasib mereka juga belum berubah. Akhirnya, mereka memutuskan pulang kampung dan membuka warung di Karangtengah.



’’Ternyata suksesnya di kampung sendiri,’’ kenangnya.



Saat Lebaran, jumlah pengunjung warungnya semakin banyak. Banyak pemudik yang melintas di Jalan Surabaya–Solo yang mampir ke warungnya. Apakah dia sengaja menambah menu selama Lebaran ini? Suparti menggeleng.



Jumlah menu yang dijual tetap sama seperti biasa. Selain nasi tiwul, warung itu menyediakan nasi putih dan jagung. Untuk lauknya, ada 14 macam. Di antaranya iwak kutuk, iwak wader, ayam goreng kampung, ayam bakar, aneka botok, tempe, tahu, urap-urap, trancam, dan sayur tempe gembos.



’’Yang paling disuka biasanya iwak kutuk,’’ beber perempuan 50 tahun itu.



Setiap hari Suparti memasak sekitar 10 kilogram nasi tiwul. Sementara itu, nasi putih dan jagung masing-masing 25 kilogram.

Editor: Suryo Eko Prasetyo
Tags
Artikel Terkait
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore