
BANYAK PILIHAN: Suparti menunjukkan puluhan menu lauk di warungnya.
Jalan Surabaya–Solo padat dengan pemudik. Namun, ada juga yang menyempatkan berburu kuliner.
ANWAR BAHAR BASALAMAH, Nganjuk
LOKASINYA sangat strategis. Berada di tepi Jalan Raya Surabaya–Solo, tepatnya di Desa Karangtengah, Kecamatan Bagor. Dari perempatan Guyangan, jaraknya hanya sekitar 5 kilometer ke arah barat. Setelah lapangan Desa Selorejo, ada sebuah warung di selatan jalan yang selalu ramai pembeli.
Warung Nasi Tiwul 786 begitu familier bagi pemudik atau penggemar kuliner di Kabupaten Nganjuk. Yang membedakan dengan warung lainnya adalah menu yang disajikan. Nasi tiwul (nasi dari ketela) menjadi andalan warung milik Suparti itu.
Lauknya juga tidak kalah khas. Salah satunya adalah iwak kali yang dimasak dengan bermacam-macam olahan. Ada yang digoreng, dibotok, disayur, dan dibakar. Untuk melengkapi makanan itu, Suparti menyediakan sambal mentah. Nasi, ikan, dan sambal adalah perpaduan yang pas.
’’Itu ciri khasnya,’’ kata Suparti kepada Jawa Pos Radar Nganjuk.
Setiap hari warung yang berdiri sejak 2009 itu selalu ramai. Sepeda motor berjajar rapi diparkir di depan warung.
Bahkan, tidak jarang mobil pribadi terlihat menyesaki parkiran. Pelat nomornya tidak hanya AG, Nganjuk dan sekitarnya, tetapi juga banyak dari luar kota.
Sebelum buka di Desa Karangtengah, Bagor, Suparti dan suaminya pernah berjualan di Surabaya pada 2002. Namun, saat itu kurang sukses. Warungnya sepi.
Selanjutnya, pada 2008, mereka mencoba peruntungan dengan pindah ke Lampung. Di Pulau Sumatera itu, nasib mereka juga belum berubah. Akhirnya, mereka memutuskan pulang kampung dan membuka warung di Karangtengah.
’’Ternyata suksesnya di kampung sendiri,’’ kenangnya.
Saat Lebaran, jumlah pengunjung warungnya semakin banyak. Banyak pemudik yang melintas di Jalan Surabaya–Solo yang mampir ke warungnya. Apakah dia sengaja menambah menu selama Lebaran ini? Suparti menggeleng.
Jumlah menu yang dijual tetap sama seperti biasa. Selain nasi tiwul, warung itu menyediakan nasi putih dan jagung. Untuk lauknya, ada 14 macam. Di antaranya iwak kutuk, iwak wader, ayam goreng kampung, ayam bakar, aneka botok, tempe, tahu, urap-urap, trancam, dan sayur tempe gembos.
’’Yang paling disuka biasanya iwak kutuk,’’ beber perempuan 50 tahun itu.
Setiap hari Suparti memasak sekitar 10 kilogram nasi tiwul. Sementara itu, nasi putih dan jagung masing-masing 25 kilogram.

50 Unit Mobil Koperasi Desa Merah Putih Tiba di Wonogiri, Dandim 0728/Wonogiri: Saran Saya Tidak Usah Digunakan Dulu Mobilnya
7 Tahun Tak Terkalahkan! Bernardo Tavares Wajib Jaga Harga Diri Persebaya Surabaya di Derbi Jawa Timur Lawan Arema FC
15 Rekomendasi Restoran Terbaik Dekat Tugu Muda Semarang: Surganya Kuliner yang Wajib Dicoba Pelancong dan Wisatawan!
14 Rekomendasi Kuliner Depok untuk Keluarga, Tempat Makan Nyaman dengan Menu Beragam
Jadwal Lengkap MotoGP Spanyol 2026! Misi Berat Veda Ega Pratama dan Mario Aji dari Barisan Belakang di Jerez
Pesan Haru dari Ernando Ari! Dukungan Diam-Diam Bikin Milos Raickovic Bangkit di Persebaya Surabaya
Terdepak dari Puncak Klasemen Liga Inggris, Bayang-bayang Kegagalan Juara di Akhir Musim kembali Menghantui Arsenal
18 Rekomendasi Sarapan Pagi di Bandung Paling Sedap, Sederet Kuliner Mantap yang Wajid Disantap
Profil Agnes Aditya Rahajeng, Pemenang Puteri Indonesia 2026
Kabar Gembira! Gubernur Banten Resmi Hapus Pajak Kendaraan Bermotor, Ini Syaratnya!
