Ali mengaku sengaja memilih tema horor untuk mengenalkan budaya lokal melalui virtual game. Selain hantu-hantunya, ada pula benda-benda budaya yang turut ditampilkan dalam game tersebut. Mulai dari wayang, batik, dan lukisan. Selain itu, genre horor sendiri ternyata banyak diminati oleh gamers dalam negeri maupun luar negeri.
”Kami juga riset dulu ke galeri di sekitar Malang. Nah, dilihat tuh kira-kira gimana sih desainnya hingga bisa dapat feel Indonesia dan horornya ini,” ujarnya.
Soal pengembangannya sendiri, menurutnya, ada campur tangan banyak pihak. Hampir semua jurusan di Polinema terlibat. Tim intinya sendiri ada 12 orang, yang bertugas sebagai game producer, konseptor, programmer, dan 3D artist. Lalu, ada pula kerja sama dengan mahasiswa jurusan arsitek dan interior agar rancangan gim terlihat realis dan sesuai tema.
Sama seperti Ganyang Setan Alas!, Nightwatch at the Gallery ini masih belum rilis secara resmi. Rencananya bakal dilaunching pada tahun 2025 mendatang.

50 Unit Mobil Koperasi Desa Merah Putih Tiba di Wonogiri, Dandim 0728/Wonogiri: Saran Saya Tidak Usah Digunakan Dulu Mobilnya
7 Tahun Tak Terkalahkan! Bernardo Tavares Wajib Jaga Harga Diri Persebaya Surabaya di Derbi Jawa Timur Lawan Arema FC
Pesan Haru dari Ernando Ari! Dukungan Diam-Diam Bikin Milos Raickovic Bangkit di Persebaya Surabaya
14 Rekomendasi Kuliner Depok untuk Keluarga, Tempat Makan Nyaman dengan Menu Beragam
Wisata Kuliner Kabupaten Malang: 7 Makanan Khas yang Legendaris, Unik dan Autentik untuk Food Lovers
Jadwal Lengkap MotoGP Spanyol 2026! Misi Berat Veda Ega Pratama dan Mario Aji dari Barisan Belakang di Jerez
15 Rekomendasi Restoran Terbaik Dekat Tugu Muda Semarang: Surganya Kuliner yang Wajib Dicoba Pelancong dan Wisatawan!
17 kuliner Legendaris di Surabaya yang Wajib Dicicipi Sekali Seumur Hidup!
10 Kebab Paling Enak di Jakarta, Kuliner Timur Tengah yang Cita Rasanya Autentik
Kabar Gembira! Gubernur Banten Resmi Hapus Pajak Kendaraan Bermotor, Ini Syaratnya!
