Logo JawaPos
Author avatar - Image
Minggu, 20 Februari 2022 | 18.31 WIB

Ular dan Vaksin Patah Hati

ILUSTRASI - BUDIONO/JAWA POS - Image

ILUSTRASI - BUDIONO/JAWA POS

Cinta bagai korona. Varian-varian barunya senantiasa bermunculan.

---

TAK pantas gampang tepuk dada. Mentang-mentang sudah sembuh patah hati dari sebuah cinta. Apalagi sampai sumpah-sumpah tak bakalan terpapar cinta lagi. Kapok mengalami rasa hati bagai disayat-sayat sembilu.

Tuh, lihat! Putri tetangga kiri Sastro! ”Vaksinasi” pertama sudah dilakukan guru Sastro. Wujud vaksinnya nasihat. ”Sudahlah,” nasihat lelaki berewokan putih itu ke putri tetangga kiri yang pas lagi sowan ke rumah Sastro. ”Mulai sekarang kamu jangan pernah jatuh cinta duluan. Tunggu sampai ada yang jatuh cinta sama kamu. Sreg, ya, baru kamu terima. Tidak sreg, jangan ladeni.”

”Vaksinasi” kedua disuntikkan sopir Grab.

Dari kaca spion, perawan tetangga yang duduk di jok belakang itu tampak menangis. Mbak sopir mengulurkan tisu. Tegur sapanya hati-hati serta penuh selidik, ”Maaf kalau saya keliru, Adik, Adik ini baru putus cinta, ya? Sudahlah, Adik. Semua laki-laki memang berengsek. Ayo bangkit! Kita bisa hidup tanpa laki-laki. Saya ini kalau dapat penumpang laki-laki nggak bakalan saya ajak ngobrol kayak gini. Mereka berengsek semua, kok! Asli!”

”Vaksinasi” booster terinjeksi dari pertandingan karate yang ditonton sang perawan. Seorang perempuan, kurus, rambutnya diekor kuda, sanggup mengalahkan sekaligus lima lelaki gempal dan besar-besar. Yang seperti bodyguard koruptor ia banting. Lama terkapar di arena. Pakai kejet-kejet pula. Yang seperti centeng hiburan malam dia tendang ulu hatinya sampai terhuyung-huyung. Bruk! Roboh. Sisanya, tiga lelaki bagai jagal, preman, dan binaragawan…semua dilempar-lemparkan oleh perempuan kerempeng itu jauh sampai di luar arena. Mereka berjatuhan di area penonton bagai mengkudu busuk.

Toh, esok harinya perawan tetangga ini masih kembali terpapar cinta. Ia terkiul-kiul kepada lelaki yang menurut mbak sopir Grab adalah kaum berengsek. Awalnya ia pirsa lelaki itu di televisi mengacung-acungkan tinjunya kepada pihak-pihak yang ingin memusnahkan wayang. Bicaranya nyerocos. Walau nyerocos dan berpelik-pelik, kata-katanya masih sangat sastrawi. Sesekali pembelaan wayangnya itu ia tuangkan ke dalam nyanyian berirama mars.

Sang perawan tetangga termehek-mehek. Ia sampai mendatangi stasiun televisi tersebut. Setelah melalui rentetan usaha yang panjang dan berliku sebab seluruh kru televisi merahasiakannya, lama-lama perawan tetangga ini beroleh juga alamat si pemuda.

Alamatnya Jalan Lebih Baik Sakit Gigi. Gang Daripada Sakit Hati. RT Lali Janjine. RW Mendung Tanpo Udan.

Ke sanalah sang perawan tetangga bergegas naik andong.

***

Bukan soal kenapa si perawan tetangga kiri masih terpapar cinta lagi, padahal sudah divaksin booster. Sastro, Jendro, dan ularnya di suatu sore berbincang tentang bagaimana kalau pemuda pembela wayang itu ternyata masih saudara sepersusuannya. Mereka tidak boleh menikah, lho.

”Dulu,” seru ular. ”Para tamu jagong bayi bertanya ke tuan atau nyonya rumah, apa weton bayinya, siapa paraji atau dukun beranaknya, di mana lahirnya…siapa saudara sepersusuannya…dan lain-lain. Nanti kalau akta kelahiran makhluk baru itu hilang, gampang lacakannya. Ada banyak saksi. Begitu juga, siapa saja saudara sepersusuannya…”

Sekarang, menurut ular, jagong bayi tinggal menjadi acara melekan biasa. Obrolan ngalor ngidul tanpa juntrungan. Ngrasani Bu Khofifah. Ngrasani Pak Luhut. Ngrasani Pak Jokowi. Ya, nggak usah para tokoh itu, siapa pun bisa saja dijadikan sumber rasanan para tukang maido. Pernah dengar, kan, andai tukang maido dibayar, seluruh orang Indonesia akan kaya raya?

***

Perdebatan Sastro-Jendro di depan ular belum rampung saat perawan tetangga kiri datang tergopoh-gopoh. Ia curhat. Ia menangis. Pemuda idamannya ada acara di Jogja dalam rangka membela wayang. Ia ingin menyusul ke sana, tapi tak bisa terbang. ”Hasil tes antigen saya positif!” teriak si perawan. ”Padahal saya tidak merasakan gejala apa-apa. Flu tidak. Tenggorokan normal. Demam-demam juga tidak ada.”

Jendro melipur lara, ”Omicron ini persis patah hati zaman sekarang, Nduk. Patah hati zaman sekarang juga tidak ada gelagatnya. Semua berlangsung baik-baik saja. Orangnya masih senyum-senyum. Menari-nari. Ngopi sana, ngopi sini. Tahu-tahu, kalau dites, orang itu positif patah hati.”

”Aduh! Bude, mending dituduh positif patah hati walau baik-baik saja ketimbang dituduh positif Covid padahal juga baik-baik saja. Dituduh positif patah hati masih boleh naik pesawat!”

Sastro bisa memahami kemelut sang perawan. Betapa tak sedikit sekarang orang yang dalam sehari hasil tes antigennya dari tempat yang berbeda-beda bisa positif bisa negatif. Ia pun bisa memahami mengapa Pak Luhut akhirnya sampai bertitah, ”Kalau memang sudah dua kali divaksin dan sudah di-booster lalu tak ada komorbid, ya jalan-jalan saja. Enggak ada yang perlu dikhawatirkan berlebihan.”

”Cuma, ini vaksinku, Nduk,” tutur Sastro. ”Kamu yakin pemuda itu benar-benar pembela wayang? Jangan-jangan ia malah tak pernah nonton wayang? Pembelaannya kepada wayang ya cuma buat nyari panggung saja?” (*)




Sujiwo Tejo, Tinggal di Twitter @sudjiwotedjo dan Instagram @president_jancukers

Editor: Ilham Safutra
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore