Logo JawaPos
Author avatar - Image
Minggu, 13 Februari 2022 | 19.11 WIB

Luwak di Tol ke Wadas

ILUSTRASI - BUDIONO/JAWA POS - Image

ILUSTRASI - BUDIONO/JAWA POS

Ngukur tanah bawa meteran, jangan bawa polisi.

---

ILMU sederhana pemberian kakeknya ini Sastro genggam kuat-kuat sepanjang hidup. Kalau mau pergi mencangkul, ia bawa cangkul. Bukan kuas. Suatu hari, pas ia ingin pergi mancing, ia bawa pancing dan umpannya. Tidak membawa polisi.

”Hidup harus empan papan, situasional,” Sastro teringat bagaimana di suatu senja kakeknya membuat simpulan dari ilmu sederhana tersebut. Mau pergi nangkap maling, nah baru sebaiknya bawa polisi. Agar kita tidak dituduh main hakim sendiri.

Pukul 12-an malam. Jendro yang sedang mengemudi di jalan tol bertanya ke Sastro di sebelah kirinya, ”Bagaimana kalau tanah yang akan diukur itu terletak di Wadas? Apa nggak perlu bawa polisi?”

”Wah, yo embuh…”

”Jangan embah-embuh. Ayo jawab… Jangan berhenti ngobrol. Supaya aku nggak ngantuk.”

”Lha kalau memang aku nggak tahu masak aku jawab panjang lebar. Ya kujawab embuh saja. ’Ngukur tanah bawa meteran, jangan bawa polisi’, itu kan kalau bukan di Wadas. Di Wadas aku kan nggak tahu kondisi lapangannya bagaimana. Bisa saja situasinya meteran susah di sana. Yang ada cuma bedil-bedil polisi. Kalau satu bedil katakanlah panjangnya satu meter, tinggal dihitung ada berapa bedil yang dijejer-jejer. Itu ukurannya.”

”Bagus!”

”Berarti aku benar, Jendro?”

”Aku nggak peduli kamu benar atau salah. Yang penting kamu ngobrol. Panjang lebar. Itu bagus. Agar aku tidak ngantuk.”

***

Kemudian Sastro sepi kembali. Jendro makin terkantuk-kantuk dalam mengemudi. ”Kamu ngikuti pertandingan pingpong dari komedian Desta dan Abdel?” akhirnya Jendro memecah keheningan di antara sorot-sorot lampu bus malam.

”Hmmm…” cuma begitu Sastro menyahut.

”Aku itu mendukung Abdel, lho. Bukan apa-apa, lha Desta sudah banyak banget yang mendukung. Dian Sastro, Deddy Corbuzier, Andre Taulany, dan lain-lain semua ke Desta. Ya, sudah. Aku Abdel. Bu Lurahnya Abdel juga ndukung kesayangan Mama Dedeh itu… Masak aku kalah?”

”Hmmm…”

”Ternyata cukup doa seorang Mama Dedeh. Luntur semua dukungan Dian, Deddy, Andre, dan lain-lain. Abdel menang.

”Hmmm…”

”Tapi, Sastro, suamiku, tahu nggak yang bikin aku terharu?”

”Hmmm…”

”Desta mengunggah chatting-an dengan putrinya di IG-nya dan bilang bahwa kalau gini caranya ia tetap merasa menang:

Ayah lagi di jalan?

Ayah?

Iya sayang

Ayah bentar lagi nyampe?

Ayah jangan sedih ya?

Tadi kalah

Hahahaha gpp sayang

Makasih ya

Gak sedih kok

Entar kakak mau tidur sama ayah

”Hmmmm…”

”Halah kamu cuma ham hem ham hem… Malah aku sendiri yang banyak bicara. Ayo, dong, Mas Sastro, kamu yang omong banyak. Biar nggak ngantuk. Polisi melarang kita nyetir dalam keadaan ngantuk.”

”Mereka masih sibuk di Wadas. Nggak akan ke sini ngecek kamu ngantuk atau nggak.”

***

Sastro bukannya tak memiliki bahan-bahan cerita buat mengusir kantuk bu sopir. Amunisi itu banyak sekali. Tapi, pikirnya, apakah di tengah-tengah konflik di Wadas ini cerita-cerita lain masih terdengar menarik.

Sastro, misalnya, pernah ngopi bareng pengusaha Osing. Beberapa kayu gelondongan warisannya sudah ia jual karena pembeli terus-menerus berdatangan. Kecuali satu kayu sepanjang 12 meter yang diukur tanpa polisi. Siapa pun yang datang untuk membelinya, beberapa di antaranya utusan penguasa, kayu itu tak dilepasnya.

Lalu kebakaran terjadi di sebuah kelenteng dan terutama membakar tiang sakanya. Tiang saka itu tingginya 12 meter, diukur tanpa polisi. Tanpa ba-bi-bu, pengusaha Osing yang Nasrani ini menyumbangkan kayunya buat saka kelenteng yang akan direnovasi.

Di tengah konflik Wadas, apakah cerita seperti itu masih menarik dan mengusir kantuk bu sopir?

***

Sastro juga bisa membawakan cerita tentang perjuangan anak sekolah, perempuan, yang berjuang agar ke sekolah diizinkan membawa dua adik kecil-kecilnya sebab di rumah tidak ada yang jaga. Ibunya harus menyawah. Pihak sekolah akhirnya memberi izin.

Sastro membayangkan istrinya, Jendro, akan tak ngantuk lagi membayangkan bagaimana di ruang kelas, di tengah pelajaran serius seperti matematika tiba-tiba adik-adik itu menangis, minta diantar pipis, minta mainan, dan sebagainya.

Namun, itu tadi, di tengah konflik Wadas, apakah perjuangan gadis ini termasuk perjuangan sang ibu menyawah demi menghidupi keluarga masih ada apa-apanya dibanding perjuangan mereka dalam tagar #WadasMelawan?

***

O iya, ada lagi amunisi cerita Sastro ke Jendro. Tak usah takut hidup kejam terhadap rakyat. Matinya kelak akan tetap mulia. Bisnis meratap dan menangis di penguburan kaum hitam ini semakin merebak. Tinggal mengerahkan kaum peratap maupun kaum penangis itu, pemakaman akan penuh keharuan layaknya pemakaman kaum putih.

Ah, Sastro tak jadi membawakan cerita itu. Ia malah bercerita tentang seorang gadis yang selalu ceria, yang tak pernah menangis, bahkan saat ortunya meninggal, tapi menangis kuat-kuat kala luwak kesayangannya meninggal.

”Apa karena di dalam tubuhnya terkandung kopi?” tanya Jendro yang kantuknya tiba-tiba sirna. (*)




SUJIWO TEJO, Tinggal di Twitter @sudjiwotedjo dan Instagram @president_jancukers

Editor: Ilham Safutra
Tags
Artikel Terkait
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore