
ILUSTRASI - BUDIONO/JAWA POS
Sastro nyemoni gaya bicara Jendro yang nyerocos banget. Lebih cepat dan lebih oleng-oleng dari mobil angkutan cabai. Sejak itu gaya tutur istri kesayangannya ini tak memberondong lagi. Kalimat-kalimatnya berangsur new normal. Titik dan komanya mulai ada. Malah sering titik-titiknya banyak sekali.
---
DULU Sastro juga pernah nyemoni. Katanya, cara ngomong Jendro secepat motor Rossi. Alih-alih tersindir, Jendro malah bangga. Apakah di mata Jendro martabat sopir angkutan lombok jauh lebih rendah dibanding martabat pembalap asal Italia itu? Jendro tersinggung, tak mau direndahkan?
Gara-garanya pasti tak itu. Sejak kecil Jendro terlatih tak membeda-bedakan makhluk. Rossi dan sopir cabai sama saja. Semua setara. Kucing anggota DPR yang dana resesnya digunakan secara tertib maupun kucing anggota DPR yang dana resesnya dipakai secara ugal-ugalan seperti sopir mobil cabai sama-sama Jendro panggil ”Kiai”. Ini seperti cara kaum sebelum kita menyapa famili kucing, macan, bila kepergok di rimba.
Mudah dipastikan bukan lantaran diskriminasi itu Jendro berubah gaya bicaranya. Wong jauh di lubuk hatinya Jendro tak memandang rendah sopir lombok. Ia bisa memaklumi, sopir cabang atletik ngangkut lombok itu harus segera sampai tujuan. Bukan karena ugal-ugalan. Maklumilah, cabai tak seperti kenangan. Cabai cepat busuk. Telat sedikit. Terjun bebas harganya.
***
Sopir angkutan ayam sebenarnya lebih menantang. Telat sampai pasar induk harga jatuh. Lha, beratnya susut gegara kelamaan di jalan. Sebaliknya, stres sedikit lantaran mobil ngebut agar tepat waktu tiba di tujuan, berat ayam pun turun drastis seperti berat ibu-ibu semasih gadis. Harga nyungsep.
”Kenapa kecepatanku ngomong dibanding-bandingkan kecepatan mobil cabai, kok, bukan mobil ayam, ya?” Jendro merenung.
Ah, sudahlah. Yang penting, gaya bicara Jendro telah berubah. Mungkin gegara sindiran Sastro tepat waktu. Saat sindirannya bersandar nama Rossi, saat itu Jendro sedang tertimbun oleh berita-berita tentang kian maraknya mafia tanah. Entah kenapa, dia seperti kesusupan watak-wantu mafia lahan. Kupingnya jadi membudek.
Orang bijak bilang, momentum lebih menentukan ketimbang lain-lain hal seperti doa dan usaha.
Saat sindiran Sastro bersandar profesi sopir mobil cabai, saat itu momennya pas. Di jalanan depan rumahnya, Jendro yang niatnya berolahraga melepas sandal agar kakinya langsung menapak bumi buat menyerap energi. Tak sengaja ia menginjak tahi ayam. Masih gres. Lembeknya telek lincung itu terasa banget di telapak kaki seputar jempolnya. Seharusnya ini menjijikkan. Hanya sensasi kehangatannya yang segera mengalihkan perhatian Jendro dari rasa jijiknya.
”Sudah lama aku tak merasakan kehangatan bagai telek lincung begini,” batin Jendro. ”Negara kita sudah tidak hangat lagi. Kita membeku di dalam kelompok masing-masing. Saling curiga. Menutup kuping dari musik langsung dicurigai radikal. Mereka yang menyerbu agamawan langsung dicurigai sebagai orang gila. Tak hangat lagi, tak legawa lagi, tak terbuka lagi buat tabayun. Oh, kehangatan telek lincung sungguh diam-diam telah lama kurindukan di negeri ini.”
***
Saking asyiknya dihangatkan oleh telek lincung di negeri yang berangsur beku, Jendro sampai lupa notulensi rapat RT bulan lalu. Warga harus mengandangkan ayamnya. Seluruh warga, yang enteng jodoh maupun jomblo, tak boleh melepas bebas ayam-ayamnya di jalanan kompleks perumahan! Setiap warga yang memergoki ayam buang kotoran sembarangan berhak menyembelihnya. Mau diopor, digarang asem, disate, dan lain-lain monggo. Itu hak prerogatif setiap pemergok. Pak RT bahkan hingga Pak Luhut tak boleh melakukan intervensi.
Ada beberapa ayam di seputar Jendro berolahraga pagi itu. Ia bukannya tidak tahu siapa pemegang SHM alias sertifikat hak milik telek lincung ini. Justru bukan ayam-ayam yang berada di seputarnya. Di kejauhan, di bawah pohon kemboja merah, itu dia! Dia menatap Jendro.
”Ayam ini sangat bertanggung jawab,” batin Jendro. ”Pandangannya seolah mengakui bahwa dialah pemegang SHM telek lincung yang kuinjak ini. Sangat bertanggung jawab. Kalau menjadi anggota DPR, pasti ayam ini juga mempertanggungjawabkan dana reses yang biasanya tak ada pertanggungjawabannya itu.”
”Potong saja ayam bedebah itu, Bu?” pinta Lombok Ijo, nama ayam berbulu musang piaraan keluarga Sastro-Jendro.
Tidak. Menurut Jendro sebaiknya ayam itu tak usah dipotong seperti dianjurkan bahkan diharuskan oleh risalah rapat RT. Pertama, ayam ini bertanggung jawab. Orang-orang Badan Pemeriksa Keuangan pasti menyukainya. Kedua, memotong ayam saat ini akan membuat siapa pun mumet. Bagaimana nggak ngelu endas ini, endas ayam jauh lebih murah daripada kakinya. Kepala ayam cuma Rp 15 ribu. Cekernya Rp 27 ribu!!!
”Jadi, sebenarnya, negeri kita ini dipimpin oleh kepala apa oleh ceker-cekernya?” Jendro penasaran menanyai orang yang ditemuinya saat jalan pagi. Gaya bahasanya sangat lambat seperti perempuan kalangan ningrat.
”Maaf, Bu. Saya ini sopir angkutan cabai, bukan sopir ayam…” jawab lelaki itu cepat. ”Ibu istri Pak Jendro, kan? Tanya Pak Jendro saja. Dia dulu itu sopir ayam… Si doi belum pernah cerita ya?” (*)
---
*) SUJIWO TEJO, Tinggal di Twitter @sudjiwotedjo dan Instagram @president_jancukers

50 Unit Mobil Koperasi Desa Merah Putih Tiba di Wonogiri, Dandim 0728/Wonogiri: Saran Saya Tidak Usah Digunakan Dulu Mobilnya
7 Tahun Tak Terkalahkan! Bernardo Tavares Wajib Jaga Harga Diri Persebaya Surabaya di Derbi Jawa Timur Lawan Arema FC
15 Rekomendasi Restoran Terbaik Dekat Tugu Muda Semarang: Surganya Kuliner yang Wajib Dicoba Pelancong dan Wisatawan!
14 Rekomendasi Kuliner Depok untuk Keluarga, Tempat Makan Nyaman dengan Menu Beragam
Jadwal Lengkap MotoGP Spanyol 2026! Misi Berat Veda Ega Pratama dan Mario Aji dari Barisan Belakang di Jerez
Pesan Haru dari Ernando Ari! Dukungan Diam-Diam Bikin Milos Raickovic Bangkit di Persebaya Surabaya
Terdepak dari Puncak Klasemen Liga Inggris, Bayang-bayang Kegagalan Juara di Akhir Musim kembali Menghantui Arsenal
18 Rekomendasi Sarapan Pagi di Bandung Paling Sedap, Sederet Kuliner Mantap yang Wajid Disantap
Profil Agnes Aditya Rahajeng, Pemenang Puteri Indonesia 2026
Kabar Gembira! Gubernur Banten Resmi Hapus Pajak Kendaraan Bermotor, Ini Syaratnya!
