Logo JawaPos
Author avatar - Image
Senin, 15 Maret 2021 | 04.18 WIB

Si Buta dari Panji Tengkorak

ILUSTRASI - BUDIONO/JAWA POS - Image

ILUSTRASI - BUDIONO/JAWA POS

Kau sebut mawar itu bunga. Aku menyebutnya kembang. Ternyata demokrasi sesederhana itu, Kekasih…

---

PULAU Durian Timun. Demikian orang menamai pulau yang dilabuhi banyak kapal layar tersebut. Camar-camar menari-nari. Ada seekor yang bisa bicara. Sudah cantik, berbahasa manusia pula. Dia namai pulau itu Hema Malincuk. Orang-orang senang mengucapkannya. Di pasar-pasar orang riang gembira menekannya di bagian ”Cuk”.

Tapi, entah kenapa, nama ke-India-India-an dari artis zaman bahela itu makin lama makin surut pengujarnya. Para pelayar sehabis bersandar di pulau tersebut selalu mengabarkan dengan bangga, ”Kami baru saja menari-nari di Pulau Durian Timun”.

Aslinya sebenarnya Pulau Durian Petruk. Suatu malam hampir seluruh warga di sana tidak bermimpi tentang Petruk Dadi Ratu. Aneh, secara seragam orang tak mengimpikan abdi Pandawa yang tiba-tiba naik kelas jadi raja itu. Mereka, tua-muda, cerewet-pendiam, suka ghosting maupun tidak, semua dililit mimpi sedang menjadi Petruk yang lagi mengerokoti mentimun.

Mungkin karena kehidupan semakin menegangkan. Bayangkan! Ada semacam partai yang tiba-tiba bisa punya ketua baru. Ada juga ayam yang tiba-tiba berbulu musang. Mereka tak cuma mematuk biji-bijian. Celengan-celengan pensiunan semacam kelak asuransi pun mereka embat. Dengan kompak bermimpi menjadi Petruk yang lagi mengeremus mentimun, tekanan darah mereka menurun. Prenjak dan kutilang turut bernyanyi-nyanyi merasakan turunnya tekanan darah warga Pulau Durian Timun.

*

Kebahagiaan calon besan barangkali seiring kebahagiaan seorang ibu yang putranya meng-ghosting putri calon besan itu. Dua-dua terlepas dari beban punya anak dan menantu yang berumah tangga, namun tidak saling mencintai. Tapi, kebahagiaan manusia dan monyet rupanya berbalikan. Semakin manusia bahagia karena tekanan darahnya turun berkat mentimun, mentah maupun direbus, semakin munyuk-munyuk tidak berbahagia.

Bukan saja muram. Seekor di antaranya bahkan sekarat. Dipungut oleh Pendekar Sastrajendra saat pertama mendarat di pulau tersebut. Langsung lulut. Padahal, monyet bermata biru ini dikenal paling tak terkendali. Menclok sana menclok sini. Kutu loncat saja kalah.

Ia bisa sedetik lalu hinggap di tanduk banteng, sedetik kemudian sudah ongkang-ongkang di pohon beringin. Belum sempat teman-temannya membayangkan bagaimana kurang ajarnya cara dia berongkang-ongkang dan bergelantungan di akar gantung beringin, eh, ia sudah menggelendot di leher garuda lalu berlompatan ke tanda bintang-bintang, bulan sabit maupun matahari.

Aneh. Berhadapan dengan Pendekar Sastrajendra, si mata biru mendadak jinak. Penurut tanpa ba-bi-bu. Padahal, pendekar bangkotan dan putri angkatnya Tingting Bocah orang asing yang baru mendarat, atau tepatnya tersesat, di pulau tersebut. Ia sama sekali belum mengintai sejarah Pulau Durian Timun. Apalagi riwayat penghuninya sampai ke flora dan faunanya. Pendekar perindu Tingting Jahe ini tak punya kartu as atau aib monyet itu yang bisa diperdaya untuk menginjak kakinya agar manut seperti kerbau dicucuk cingurnya.

*

Di bantaran sungai utara gua-gua. Bersama monyet mata biru di pundaknya, dan Tingting Bocah yang kini sudah beranjak menggadis di sampingnya, Pendekar Sastrajendra menjumpai mayat sempoyongan dan tertatih-tatih ke tanah makam.

”Jangan ketawai aku, Kisanak,” ia supel memohon si monyet. ”Aku sedang memetik karmaku. Dulu semasa hidup aku tak pernah mau menggotong mayat ke kuburan. Males. Di kuburan tidak ada door prize. Reuni saja, yang orang pasti pengin datang, sekarang sudah mulai pakai door prize juga agar orang mau hadir. Teman-teman mengolok-olokku ”nanti kamu kalau ke kuburan akan berjalan sendiri”. Pertama, kedua, aku tanggapi cemooh itu sebagai candaan seperti kelak orang mem-bully mereka yang takut jarum vaksinasi. Lama-lama aku gondok. Kutangkis cibiran mereka, ”Ya! Kelak aku mau berjalan sendiri ke kuburan!!!”

Kini pemanen karma itu mengaku lelah. Dia pikir jalan menuju kuburan pelosok mulus-mulus seperti jalan-jalan yang sering dilalui raja. Jebul penuh lumpur. Kerangkal di sana sini. Ia minta Pendekar Sastrajendra menaruhnya ke dalam peti dan menyeretnya ke tanah makam. Kebetulan saat itu di tepi-tepi jalan dusun ada banyak buangan peti bekas semacam pemilu kelak di zamanmu.

Waduh! Dengan monyet di pundak seperti saat ini saja Pendekar Sastrajendra sudah tidak menjadi dirinya sendiri. Ia sudah lebih mirip Si Buta dari Gua Hantu dengan monyet Si Kliwon-nya karya komikus Ganes TH. Ditambah menyeret mayat dalam peti ke mana-mana. Bukankah itu sama saja dengan Panji Tengkorak karya komikus Hans Jaladara?

”Jangan turuti mayat ini, Pendekar! Demokrasi tak harus menuruti semua orang. Engkau selalu berpesan bahwa hidup harus menjadi diri sendiri,” Tingting Bocah mengingatkan ayah angkatnya. ”Kalau terpaksa harus mirip orang lain untuk sementara, karena ingin membantu, pilih salah satu. Mirip Si Buta dari Gua Hantu saja, seperti yang sudah ada sekarang, atau mirip Panji Tengkorak?”

Waduh! Bagaimana cara Sastrajendra memilihnya? Bagaimana bila pilihan itu membuat yang tak terpilih kelak memihak Pendekar Ibra, kekasih baru Tingting Jahe, lelaki muda calon kuat penantang Sastrajendra? (*)




SUJIWO TEJO, Tinggal di Twitter @sudjiwotedjo dan Instagram @president_jancukers

 

Saksikan video menarik berikut ini:

 

https://www.youtube.com/watch?v=8eS8a3oiE0k

Editor: Ilham Safutra
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore