Logo JawaPos
Author avatar - Image
Senin, 31 Agustus 2020 | 00.25 WIB

Keledai Itu Bernama Parthai

ILUSTRASI - BUDIONO/JAWA POS - Image

ILUSTRASI - BUDIONO/JAWA POS

Dengan tubuh penuh luka segar aku megap-megap berenang ke suatu pulau dusun berlahan putih.

---

MESTINYA, dari sungai mahalebar itu tinggal melenting saja aku bertumpu serpihan-serpihan dayung, lunas, maupun lambung perahu milik Sang Pembentur Agung, kakek yang telah menantangku, tukang perahu bermuka onde-onde yang telah gugur pula di tanganku bersama keping-keping perahunya.

Aku tak melenting. Tak pula berlari di atas air seperti anggang-anggang. Kupilih hidupku kembali menjadi orang biasa saja. Berenang. Lelah juga berhari-hari menjadi lelaki pendekar. Apalagi setelah mendengar cibiran perempuan semanis perawan tingting bakul warung itu.

”Apa gunanya kalian menjadi pendekar kalau ketidakadilan masih merajalela!!!???”

Di bantaran sungai pulau dusun putih itu sudah termangu keledai. Warnanya pelangi. Ia kibas-kibaskan surainya seolah-olah basah padahal tubuhku yang kuyup oleh muntahan, darah dan air sungai. Surainya keemasan. Setelah tiga harian, baru kutahu ia satu-satunya penduduk pulau.

Sampai tiga bulanan kemudian saat sekujur luka-lukaku sudah sembuh, kami cuma saling memandang bila kebetulan bertemu. Sialnya, kami selalu bertemu karena pulau ini memang kecil. Kalau rumah, mungkin seperti rumah tipe 21 di masa yang akan datang. Mau suaminya ke toilet, istrinya ke dapur, pasti ujung-ujungnya berpapasan, dan terus berpapasan, lalu bosan. Iya kan?

***

Siang itu kami berpapasan lagi untuk kali kesekian dengan tuan rumah berambut keemasan ini di dekat tebing kapur yang ada relief besarnya, relief perempuan bermata jeli namun sedih, mata yang juga mengingatkanku pada perawan tingting bakul kedai. Dari pagi hingga petang kami terus bertatapan.

Kesabaranku habis. Kuputuskan untuk kembali menjadi orang tak biasa. Kurapal ilmu Bacalah Alam Jangan Cuma Menunduk Baca Gawai. Sejak itu kupingku sanggup menguping alam bicara. Termasuk keledainya.

”Namaku Parthai,” aku keledai itu.

Parthai berkisah, dahulu pulau ini ramai manusia. Semuanya juga bernama Parthai. Kalau Parthai-Parthai menikah atau berkoalisi, ada tradisi rumah kayu Parthai laki-laki dipikul utuh-utuh secara holopis kuntul baris ke lahan Parthai perempuan. Tradisi ini masih dilanjutkan sampai kelak warsa 1970-an Masehi. Di antaranya pada suku Madura.

Bila koalisi atau pernikahan berakhir karena pecah kongsi atau apa, secara rambate rata hayo pula rumah kayu itu dipikul pulang ke lahan Parthai laki-laki.

”Tahukah engkau, kenapa manusia akhirnya punah di sini?”

Aku coba berandai-andai. Di pulau ini datang penjajah. Mereka mengajar penduduk untuk tiap hari makan karbohidrat supaya tetap bodoh. Saat generasi penerus penduduk sadar, keadaan sudah terlambat. Makan beras sudah menjadi tradisi. Belajar Jurus Berpijak di Atas Tiga Gunung Memeluk Rembulan jauh lebih gampang daripada mengubah itu. Karena penduduknya bodoh semua, setelah penjajah pergi mereka tak mampu menguasai ilmu untuk mengimbangi ganasnya alam. Punah.

”Mereka punah bukan lantaran itu,” keledai menggeleng-gelengkan ekornya.

Kucoba berandai-andai lagi. Penduduk terlalu sering kepalanya tunduk melihat gawai masa itu, yakni peranti komunikasi dari lumpur dan palawija yang diremas-remas bagai membuat perkedel lalu disuwuk oleh dukun desas-desus. Akibat tertunduk terus, mereka semua stroke, lalu mati.

Keledai menggeleng-gelengkan ekornya, ”Mereka punah bukan lantaran itu.”

***

Persatuan retak di antara penggotong rumah panggung suatu siang. Para penggotong sayap kanan maupun sayap kiri sama-sama menamai sayapnya ”75 Tahun Sayap Maju”. Angka 75 diambil dari rata-rata usia penggotong yang masih sehat karena belum kenal junk food.

Celakanya, ada seorang penyusup. Kakek moyang Sang Pembentur Agung. Berkat ilmunya yang tinggi, kedua sayap penggotong dibenturkannya tanpa masing-masing pihak menyadari bahwa mereka sedang dibenturkan. Mereka cuma merasa sedang menonton. Sampai kemudian sayap kanan menamakan dirinya ”75 Tahun Sayap Kanan Maju Serong Kanan”, sayap kiri pun lalu menamai dirinya ”75 Tahun Sayap Kiri Maju Serong Kiri”, mereka tidak merasa sedang dibenturkan oleh penyusup.

Rumah yang mereka pikul roboh. Berantakan. Perkelahian tak terelakkan. Semuanya mati sampyuh.

”Masak pertikaian antar pemikul saja bisa menghabiskan seluruh penghuni pulau ini, Thai?”

”Kamu cerdas, Cuk,” respons sang keledai. ”Sori, kukira yang cerdas cuma keledai. Ternyata manusia juga bisa lebih cerdas.”

Jadi, kisahnya, pemikul rumah biasanya memang tak lebih dari 40 Parthai. Tapi, nyatanya, pada masa sebelum ada Candi Borobudur dan Gunung Merapi itu politik dinasti sudah gencar. Anak, ipar, istri, keponakan, besan, dan lain-lain semuanya turut campur. Mati sampyuh pula dalam geger itu.

”Hmmm... Kalau pulau ini tak berpenghuni, buat apa tukang perahu itu menyeberangkan orang-orang kemari? Kakek itu penipu belaka?”

”Tidak. Orang-orang memang berdatangan untuk menemuiku! Baru sekarang saja aku berkenan menemui tamuku.”

”Tapi aku tidak mencarimu!”

”Ilmu rahasia memang baru bisa ditemukan oleh mereka yang sudah tidak mencarinya lagi. Yuk, kita ke relief wajah ayu tebing itu. Di matanya tersembunyi ilmu rahasia. Itulah yang diburu oleh manusia-manusia sampai kelak di zaman Pak Jokowi.” (*)




*Sujiwo Tejo tinggal di Twitter @sudjiwotedjo dan Instagram @president_jancukers

Editor: Ilham Safutra
Tags
Artikel Terkait
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore