alexametrics

Melihat Pemberkatan Pernikahan Kali Pertama Sesuai Pakem Taoisme

17 Oktober 2019, 20:48:40 WIB

Handi Setiawan dan Christiana Wijaya telah mengikrarkan janji di Kelenteng Yayasan Sahabat Sinoman Indonesia (YSSI) Surabaya. Seluruh prosesi pemberkatan dilakukan sesuai pakem Taoisme. Mereka menyebut ini yang pertama di Surabaya.

HANAA SEPTIANA, Surabaya

DUA barongsai dan iringan musik menjemput pasangan itu untuk masuk ke kelenteng Sabtu (12/10). Senyum selalu tersungging dari bibir Handi dan Christiana. Ketika masuk, mereka meminta izin kepada pengurus kelenteng. Di bagian depan kelenteng, Pendeta Tao, Stanley Prayogo, mendampingi mereka untuk melakukan sembahyang. Setelah itu, mereka digiring masuk ke ruang utama untuk menjalani pemberkatan.

Di ruang utama, sudah ada 10 anggota Daozhang atau pendeta Tao lain untuk mengiringi mereka menjalani upacara pemberkatan. Doa-doa dipanjatkan dengan khusyuk. Sekitar 45 menit kemudian, upacara pemberkatan selesai ”Kitab untuk pernikahan ini sudah dialihbahasakan ke bahasa Indonesia. Sebelumnya, masih Mandarin sepenuhnya,” kata Pendeta Stanley. Menurut dia, itu memudahkan para keluarga dan tamu yang datang. Sebab, tidak banyak yang paham dengan doa-doa yang dipanjatkan dalam bahasa Mandarin.

Pengantin melanjutkan ritual lain. Misalnya, tukar cincin, menusukkan konde kepada mempelai perempuan, serta memasangkan topi kepada pengantin pria. ”Sebelumnya, ada yang menikah dengan prosesi Tao, tapi enggak pakai topi. Ini baru aja,” lanjut Stanley. Tusuk konde diibaratkan awan. Itu menandakan kebijakan dan keunggulan seorang perempuan.

Sebelumnya, mereka makan misua dan ronde. Harapannya, pernikahan mereka langgeng dan selalu bertabur kebahagiaan. Tak lupa, mereka minum teh manis. Dengan harapan, pernikahan mereka selalu baik. Ritual tersebut diakhiri dengan sungkem kepada orang tua kedua mempelai.

RITUAL: Handi Setiawan dan Christiana Wijaya ketika pemberkatan di Kelenteng YSSI Sabtu (12/10). (Hariyanto Teng/Jawa Pos)

Agama Tao memang belum diakui di Indonesia. Akibatnya, belum banyak tempat ibadat yang bisa mewadahi keyakinan tersebut. Kelenteng YSSI adalah salah satu yang bisa mewadahi pernikahan sesuai dengan pakem agama Tao. Termasuk untuk pasangan Hendi yang berasal dari Pasuruan dan Christiana, asal Tulungagung. ”Pasti keluarga ingin yang terbaik. Jadi, memang sengaja ditempatkan di luar kota untuk ikuti aturan agama yang dianutnya,” kata Stanley.

Sebelumnya, ada dua pasangan lain yang menikah secara agama Tao di tempat itu. Namun, keterbatasan menjadi alasan kurang pakemnya prosesi tersebut. Misalnya, busana dan perlengkapan menikah. ”Harus ada standarnya dan harus disahkan dulu di lembaga Tao pusat, tidak bisa sembarangan,” ungkap Stanley. Kini perlengkapannya telah sesuai dengan standar. Misalnya, kostum pendeta dan topi mempelai pria sudah disahkan di lembaga agama Tao.

Petugas dari dinas kependudukan dan catatan sipil (dispendukcapil) juga turut hadir dalam acara tersebut. Pasangan pengantin itu langsung disahkan negara. Karena agama Tao belum diakui, pasangan tersebut memilih untuk menuliskan kepercayaannya dengan agama Buddha. Meskipun, saat ini pemerintah telah mewadahi dengan tidak menuliskannya di kolom agama. ”Dari keluarga sudah turun-temurun ditulis Buddha. Kalau mau diubah lagi, prosesnya susah,” kata mempelai pria Handi.

Itu dibenarkan Djuanto, perwakilan keluarga. Menurut dia, di keluarga mempelai, kolom agama di KTP tidak pernah dipermasalahkan. Walaupun sejak dulu mereka menganut agama Tao. ”Terserah mau ditulis apa, yang penting enggak sampai dipermasalahkan. Toh, keyakinan urusan pribadi masing-masing,” kata Djuanto.

Dia menambahkan, yang terpenting adalah kebahagiaan untuk mempelai. Acara siang itu diakhiri dengan menerbangkan burung dan balon bersama keluarga

Editor : Dhimas Ginanjar

Reporter : */c6/tia



Close Ads