Logo JawaPos
Author avatar - Image
Sabtu, 10 Desember 2022 | 17.42 WIB

Bahaya dan Memprihatinkan, Gedung Eks Markas Besar Ulama di Sidoarjo

Photo - Image

Photo

JawaPos.com- Melintas di Jalan Satria, Desa Kedungrejo, Kecamatan Waru, Sidoarjo, terdapat bangunan lama. Salah satu di antara bangunan cagar budaya di Kota Delta. Sayangnya, kondisinya kini makin memprihatinkan dan mengkhawatirkan. Padahal, berpotensi jadi tempat wisata budaya.

Di depan bangunan itu ada papan berlatar hijau dengan tulisan: Markas Besar Oelama. Di atas tulisan itu ada lambang Nahdlatul Ulama (MBO). Di sisinya, terpasang bendera merah putih.

Kabarnya, bangunan tersebut merupakan salah satu saksi bisu lahirnya peristiwa 10 November 1945. Menjadi tempat rapat atau pertemuan dalam mengatur strategi perjuangan kaum santri melawan penjajah dimulai.

Bangunan MBO itu berciri khas Belanda. Berdiri di sebuah gang kecil, tepat di belakang Pabrik Paku, Kedungrejo, Waru. Dindingnya sudah terkelupas di sana-sini. Batu bata merahnya pun tampak menyapa setiap mata yang memandang.

“Sudah tua sekali. Atapnya bocor kalau hujan, lantainya juga banjir jika hujannya deras. Ya, kondisinya sekarang seperti ini. Eman sebenarnya,” ujar Ahmad Ghozali, penjaga bangunan itu, seperti dilansir Jawa Pos Radar Sidoarjo (9/12).

Melihat kondisi tersebut, siapapun mungkin tidak menyangka bahwa bangunan itu memiliki nilai sejarah besar. Pernah menjadi markas besar para ulama dan santri dalam mengatur strategi pertempuran mempertahankan kemerdekaan.

Ghozali mengungkapkan, dulu bangunan itu sebuah rumah. Pemiliknya dikenal sebagai Haji Rois.

‘’Dari ceritanya, KH Bisri Syansuri atas perintah Mbah Hasyim (KH Hasyim Asy’ari, Red) berkumpul di rumah ini mengatur strategi perang. Juga, sempat menjadi persinggahan KH Hasyim Asy’ari dan KH Wahab Hasbullah selaku pemimpin komando barisan mujahidin saat itu,” imbuhnya.

Ghozali menyayangkan, tak ada renovasi untuk bangunan MBO tersebut. Alasan itulah, yang membuatnya sempat melarang orang yang hendak menggelar kegiatan di bangunan bersejarah itu. ’’Ada yang berniat melakukan kegiatan. Saya larang karena giman, ini membahayakan. Banyak yang runtuh. Saya berharap ada yang peduli dengan ini,” katanya.

Sehari-hari, Ghozali hanya merawat ala kadarnya. Meski tak dibayar, kebutuhan listrik dan kebersihan bangunan itu selalu dipenuhi. ’’’Tapi kalau begini terus, ya lama-lama mungkin saya tinggalin. Bisa mengancam nyawa saya jika sewaktu-waktu roboh,” keluhnya.

Editor: M Sholahuddin
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore