
GAYENG: Melvien Zainul Asyiqien (kiri) menjelaskan konsep acara. (Riana Setiawan/Jawa Pos)
JawaPos.com - Surabaya akan mencatatkan diri dalam sejarah pergerakan Nadhlatul Ulama (NU). Pada 13–14 Juli mendatang, Rabitah Ma’ahid Islamiyah (RMI) NU Jatim akan menggelar silaturahmi Bu Nyai Nusantara.
”Acara ini diselenggarakan atas dasar kegelisahan kami,” kata Sekretaris Pengurus Wilayah Rabitah Ma’ahid Islamiyah (RMI) NU Jatim Ahmad Firdausi saat berkunjung ke kantor Graha Pena kemarin. Peran perempuan selama ini sering dikecilkan hanya soal urusan dapur.
Padahal, menurut ajaran yang diterima di pesentren dulu, perempuan memiliki peran vital. Perempuan merupakan madrasah pertama bagi keluarga. Perempuan adalah tiang negara. Untuk itu, perannya sangat besar dalam kemajuan bangsa.
Karena itu, Bu Nyai yang bersinggungan langsung dengan santri putri dan jamaah perempuan mempunyai peran penting. Khususnya dalam memberikan pemahaman soal peran keagamaan dan sosial yang bersinergi dengan kemajuan bangsa.
Dengan silaturahmi yang rencananya ditutup Ketum PBNU Said Aqil Siradj itu, diharapkan muncul pemahaman beragama yang mampu mendukung kemajuan bangsa. Lebih dari itu, melalui peran dan strategi Bu Nyai, gerakan radikalisasi yang mengatasnamakan agama bisa dicegah.
Meningkatnya radikalisasi di Indonesia memang menjadi salah satu fokus tersendiri dalam pembahasan silaturahmi tersebut. Sebab, selama ini yang terlihat meningkatkan semangat beragama tidak sejalan dengan kecintaan terhadap negara. Artinya, semangat belajar agama begitu tinggi. Namun, pada saat bersamaan, semangat nasionalisme terus berkurang. ”Masalah ini akan dibahas dan dicari solusinya,” jelasnya.
Wakil Ketua PWI RMI NU Jatim Melvien Zainul Asyiqien berharap acara menentukan peran dan strategi yang dihadiri para Bu Nyai dari berbagai wilayah tersebut memiliki gaung kuat. Dengan begitu, perannya bisa benar-benar meluas dan mengakar kuat. Perempuan juga harus merumuskan visi bersama untuk memajukan peran NU dalam membangun bangsa.
Sekretaris Panitia Ucik Fatinatuzzahra mengungkapkan, hingga kemarin, sudah ada 457 Bu Nyai dari 12 provinsi di Indonesia yang mendaftar dan menyatakan hadir. Para Bu Nyai tersebut berasal dari pondok pesantren maupun kampung di beberapa daerah. ”Kami memang memberi persyaratan,” ucap Ucik. Yang hadir harus Bu Nyai yang menjadi pengasuh pondok pesantren putri atau memiliki jamaah dan menggelar pengajian di kampung-kampung.
Ada beberapa tema yang dibahas dalam silaturahmi pada akhir pekan nanti. Antara lain, soal Bu Nyai dan reaktualisasi Islam kebangsaan, deradikalisasi keluarga, respons pesantren menanggapi fenomena hijrah style, gerakan ayo ngaji kitab kuning, dan pemberdayaan ekonomi pesantren. Tema terakhir itu akan dibahas Gubernur Jatim Khofifah Indar Parawansa.

Breaking News! Rival Veda Ega Pratama Didiskualifikasi dari Moto3 Catalunya 2026
Veda Ega Pratama Kudeta Peringkat Pertama! Update Klasemen Rookie of The Year Moto3 2026 Usai Brian Uriarte Didiskualifikasi
Soal Kabar Kepala BGN Dadan Hindayana Ditangkap, Dasco: Serahkan ke Aparat Hukum
Profil Sony Sanjaya, Eks Jenderal Polri yang Dicopot Sebagai Wakil Kepala BGN, Sempat Diterpa Isu OTT
KPK Cari Keberadaan Wamen Imipas Silmy Karim Terkait OTT Imigrasi Jakbar
7 Pemain Baru Masuk! Bruno Moreira Hengkang, Ini Prediksi Starting XI Persebaya
Kejagung Konfirmasi Penggeledahan Kantor BGN Usai Pencopotan Dadan Hindayana
'Tibo Sri': 7 Weton yang Memiliki Rezeki Seumur Hidupnya Mengalir Seperti Air dan Tidak Pernah Mengering Menurut Primbon Jawa
Mantan Kepala BGN Dadan Hindayana Resmi Jadi Tersangka dan Ditahan Kejagung, Belum 24 Jam Usai Dicopot Prabowo
Kantor Badan Gizi Nasional Digeledah Kejagung, Muncul Karangan Bunga Unik Singgung Pencopotan Dadan
